Enter your keyword

AJHT Matangkan Strategi Menuju Scopus

AJHT Matangkan Strategi Menuju Scopus

AJHT Matangkan Strategi Menuju Scopus

Upaya meningkatkan reputasi dan jangkauan internasional ASEAN Journal on Hospitality and Tourism (AJHT) terus diperkuat melalui diskusi pengembangan jurnal yang melibatkan tim pengelola AJHT dan perwakilan Direktorat Riset dan Inovasi (DRI). Pertemuan ini membahas langkah-langkah teknis dan strategis agar AJHT memenuhi standar kelayakan indeksasi Scopus, sekaligus menutup celah-celah yang sebelumnya menjadi catatan dalam proses evaluasi.

Pertemuan dilakukan di Ruang Rapat B, Lantai 6 Gedung CRCS, Kampus ITB, Jalan Ganesha No.10, Bandung. Pertemuan dihadiri oleh Kepala Subdirektorat Sarana, Prasarana, dan Sistem Informasi, Housny Mubarok, S.T., Kepala Seksi Pengelolaan Jurnal dan Non Jurnal, Yuliah Qotimah M.T., dan Mustika Ratna Dewi dari ASEAN Journal on Hospitality and Tourism (AJHT).

Salah satu fokus awal diskusi adalah peningkatan kualitas bahasa Inggris dan ketepatan tata bahasa. Tim AJHT menyampaikan bahwa sejak menerima masukan dari proses review, mereka memperketat penggunaan Grammarly dan pengecekan Turnitin sejak tahap awal seleksi naskah. Saat ini, proses language checking masih dilakukan secara mandiri menggunakan Grammarly dengan standar minimal skor 80%. Naskah yang nilainya berada di bawah ambang tersebut cenderung langsung ditolak. Poin ini menjadi krusial karena Scopus sebelumnya sempat memberikan catatan bahwa abstrak AJHT sulit dipahami dan kualitas bahasa Inggris secara umum perlu ditingkatkan. DRI pun menanyakan kemungkinan penggunaan jasa penerjemah atau editor profesional untuk memastikan kualitas penulisan yang lebih konsisten.

Dalam hal strategi pengajuan ulang, tim menyepakati untuk tidak terburu-buru melakukan resubmission pada bulan April. Pengajuan ulang diputuskan untuk ditunda hingga September 2024 agar AJHT memiliki waktu menunjukkan perbaikan nyata pada beberapa edisi terbaru. Pertimbangannya, pengajuan dengan data dan performa edisi yang belum mencerminkan peningkatan signifikan berisiko tinggi berujung penolakan kembali.

Diskusi juga menyoroti aspek diferensiasi jurnal—isu penting karena salah satu alasan penolakan Scopus adalah banyaknya jurnal lain dengan topik serupa. DRI mendorong pemetaan niche yang lebih kuat dengan memanfaatkan bantuan AI/ChatGPT untuk mengidentifikasi celah tema yang belum banyak digarap oleh jurnal pariwisata lain. Dalam pembahasan, menguatkan fokus pada Islamic Tourism atau Halal Tourism muncul sebagai salah satu opsi yang dinilai potensial untuk menjadi ciri khas AJHT, sekaligus membangun konsistensi tema yang mudah dikenali di tingkat internasional. Selain itu, isu keberlanjutan juga mengemuka sebagai ruang tematik yang dapat diperkuat, sejalan dengan tren global seperti SDGs dan konsep zero waste tourism.

Dari sisi komposisi penulis, AJHT dinilai telah bergerak ke arah yang baik. Tim memaparkan bahwa penulis internasional sudah mulai banyak, antara lain dari Sri Lanka, Malaysia, dan Vietnam, dengan rasio saat ini sekitar 50% penulis Indonesia dan 50% penulis luar negeri. Namun, DRI mengingatkan bahwa Scopus tidak hanya melihat “asal negara” secara kasat mata, melainkan afiliasi institusinya. Karena itu, sebaran afiliasi internasional perlu dijaga agar AJHT tetap terbaca sebagai jurnal berskala internasional.

Aspek kuantitas terbitan juga menjadi agenda penting. Untuk memperkuat kelayakan pengajuan Scopus, AJHT disarankan menerbitkan minimal 20 artikel per tahun. Dengan jadwal terbit tiga kali setahun (April, Agustus, Desember), tim menargetkan 8–10 artikel per edisi agar total tahunan berada pada kisaran 24–30 artikel. Target ini sekaligus menjawab kendala yang selama ini sering muncul di akhir tahun, ketika tim pengelola juga bersamaan menangani jurnal populer pariwisata “Warta”.

Sejumlah kendala teknis dan operasional turut diidentifikasi, terutama terkait sistem OJS dan proses peer review. Tim menyampaikan bahwa fitur pengingat otomatis (automatic reminder) di OJS sering tidak sampai ke penerima atau masuk ke folder spam, sehingga editor harus melakukan tindak lanjut secara manual melalui email pribadi. Di sisi lain, tantangan terbesar adalah menemukan reviewer yang responsif. Menariknya, reviewer internal disebut cenderung kurang responsif dibanding reviewer luar negeri. Menanggapi hal tersebut, DRM menyatakan komitmen untuk membantu menyediakan pooling data reviewer potensial di bidang hospitality dan tourism guna mempercepat proses review.

Pertemuan juga menyinggung aspek kelembagaan dan administratif pengelola jurnal, termasuk status kepegawaian tim pengelola—apakah berada di bawah ITB secara langsung atau P2Par. AJHT pertama kali dikembangkan pada tahun 2002 oleh Pusat Perencanaan dan Pengembangan Kepariwisataan (P-P2Par) Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan dukungan dari ASEAN sebagai wadah publikasi ilmiah di bidang kepariwisataan. Pada tahun 2018, AJHT kemudian terintegrasi ke dalam sistem Open Journal Systems (OJS) ITB sebagai bagian dari upaya peningkatan tata kelola dan standar pengelolaan jurnal secara daring. Dalam perkembangannya, AJHT juga mulai bekerja sama dengan dosen dari Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) ITB untuk mengisi posisi Chief Editor, sehingga memperkuat posisi kelembagaan jurnal sekaligus mendukung pengelolaan yang lebih profesional dan berkelanjutan..

Sebagai rangkuman dukungan, DRI berkomitmen membantu AJHT pada tiga hal utama. Pertama, dukungan peningkatan kualitas bahasa melalui akses Grammarly Premium atau layanan proofreading manual. Kedua, dukungan riset diferensiasi untuk memetakan keunikan AJHT dibanding jurnal kompetitor internasional. Ketiga, dukungan penyediaan database reviewer ahli di bidang hospitality dan tourism. Selain itu, strategi penjaringan manuskrip juga diperkuat melalui call for papers bertema isu tren, konversi makalah terbaik dari konferensi internasional seperti IGSC menjadi artikel jurnal, serta kolaborasi dengan Asosiasi Program Studi Pariwisata se-Indonesia untuk memperluas jejaring penulis.

Dalam diskusi mengenai keberlanjutan finansial, tim menyatakan AJHT saat ini masih menerapkan skema gratis tanpa biaya publikasi (Article Processing Charge/APC). Namun, rencana penerapan APC mulai dipertimbangkan setelah AJHT mencapai akreditasi Sinta 2 atau berhasil terindeks Scopus, agar jurnal dapat lebih mandiri secara pendanaan.

Dengan kombinasi kerja teknis yang terukur—mulai dari standar bahasa, peningkatan jumlah artikel, penajaman niche, hingga perbaikan sistem OJS—tim berharap AJHT dapat “naik kelas” dan lolos evaluasi Scopus, disertai optimisme dan doa sebagai penguat langkah.