Enter your keyword

Akselerasi Swasembada Pangan Kementan: DRI ITB Paparkan Target Konsorsium, BRIN Siapkan Dana Hilirisasi Rp1,9 Triliun

Akselerasi Swasembada Pangan Kementan: DRI ITB Paparkan Target Konsorsium, BRIN Siapkan Dana Hilirisasi Rp1,9 Triliun

Akselerasi Swasembada Pangan Kementan: DRI ITB Paparkan Target Konsorsium, BRIN Siapkan Dana Hilirisasi Rp1,9 Triliun

BANDUNG, dri.itb.ac.id – Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) Institut Teknologi Bandung (ITB) menggelar rapat koordinasi internal pada Kamis (02/04/26). Pertemuan ini merupakan langkah cepat ITB menindaklanjuti Nota Kesepahaman (MoU) lintas kementerian yang ditandatangani pada 12 Maret lalu terkait pembentukan Konsorsium Perguruan Tinggi untuk Swasembada Pangan Nasional.

Rapat ini dihadiri oleh Prof. Dr. Elfahmi, S.Si., M.Si, selaku Direktur Riset dan Inovasi ITB, Dr. Eng. Isty Adhitya Purwasena, M.Si., selaku Deputi Bidang Inovasi DRI ITB, Nur Ahmadi, S.T., M.Eng., Ph.D., Deputi Direktur Bidang Riset dan Diseminasi, dan Dr. Grandprix Thomryes Marth Kadja, M.Si., Deputi Direktur Bidang Pengembangan Pusat/Pusat Penelitian/PUI, serta perwakilan fakultas/sekolah dan peneliti ahli di antaranya: Dr.-Ing. Mochammad Agoes Moelyadi, S.T., M.Sc., Prof. Ir. Ari Darmawan Pasek, Ph.D., Prof. Dr. Ir. Toto Hardianto, DEA dari FTMD, Alam Indrawan (Direktur RII ITB), Prof. Ir. Syarif Hidayat, MT, Ph.D. dari PT RII ITB, dan Dr. Rizkita Rachmi Esyanti, Dr. Iriawati, Popi Septiani, S.Si., M.Si., Ph.D. dari SITH

Rapat ini menggarisbawahi arah kebijakan strategis institusi. Keterlibatan ITB difokuskan pada pemetaan inovasi yang berorientasi pada penyelesaian masalah nyata di lapangan (problem-driven) dengan tenggat waktu eksekusi yang sangat ketat.

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) mematok target ambisius, yakni mencapai swasembada pangan dalam kurun waktu 3 tahun ke depan, khususnya untuk komoditas padi, jagung, kedelai, dan bawang putih.

Untuk mendukung percepatan ini, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah berkomitmen menyediakan pendanaan hilirisasi sebesar Rp1,9 Triliun pada tahun ini. Dana ini secara khusus dialokasikan untuk mendanai riset-riset dari 17 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) anggota konsorsium yang produknya sudah siap dikomersialisasikan.

Dalam pembagian porsi konsorsium nasional, ITB secara resmi ditunjuk sebagai Koordinator (PIC) Utama untuk sektor Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan), berdampingan dengan IPB (Tanaman Pangan), Universitas Brawijaya (Perkebunan), dan Universitas Diponegoro (Peternakan).

Hal ini mengharuskan peneliti ITB untuk segera mengarahkan fokus risetnya pada otomasi, efisiensi teknologi pascapanen, hingga bioteknologi terapan.

Dalam pemetaan awal di forum tersebut, beberapa target luaran inovasi ITB yang dibidik untuk segera masuk ke Action Plan kementerian antara lain:

  • Drone Pertanian (Mantis UAV), telah mencapai Tingkat Kesiapan Teknologi (TRL) 7, memiliki kapasitas muatan 23 kg, dan mampu mencakup area 16 hingga 32 hektar hanya dalam 1 jam.
  • Cold Storage Modular, menggunakan modifikasi sistem AC rumah tangga biasa dengan daya rendah yang mampu mencapai suhu -15 hingga -20 °C untuk menstabilkan harga komoditas saat panen raya di daerah minim infrastruktur listrik.
  • Mesin Pengering (Corn Dryer), mengintegrasikan sistem pemanas dan pendingin kontinu dengan target kapasitas 1 hingga 5 ton per jam, memanfaatkan energi mandiri (solar cell dan biomassa).
  • Sistem Prediksi Cuaca (SIKA), memiliki tingkat akurasi hingga 98% untuk area spesifik 50 meter persegi, krusial untuk penjadwalan pemupukan yang presisi.
  • Teknologi Fine Bubble, mampu mempercepat masa persemaian bibit dari normal 14 hari menjadi 10 hari.

Sebagai tindak lanjut paling krusial, DRI ITB mendesak seluruh perwakilan Fakultas/Sekolah untuk segera melengkapi daftar inovasi beserta rincian kebutuhan dana ke dalam matriks Action Plan.

“Kami mendorong seluruh PIC (Penanggung Jawab) riset untuk segera menyusun rencana aksi yang konkret dan melengkapi daftar produk inovasinya, agar usulan ITB dapat dipetakan dan diproses dengan cepat,” tegas Pak Elfahmi.

Sebagai bentuk dukungan nyata pengujian lapangan, Kementan juga telah menyiapkan fasilitas lahan uji coba seluas 5.000 hektar di wilayah Subang, Jawa Barat, yang dapat langsung diakses oleh tim peneliti ITB.

Ke depannya, para peneliti ITB juga didorong untuk mulai menggandeng pihak industri guna memvalidasi produk mereka. Langkah penting lainnya adalah menyiapkan sertifikasi uji kelayakan alat, misalnya melalui kolaborasi dengan rekan-rekan di UGM. Begitu semua beres, produk-produk kebanggaan ITB ini pun siap meluncur ke e-Katalog Kementan untuk diproduksi secara massal.

 

Kontributor: Nada Raudah Mumtazah