Enter your keyword

Akselerasi Technological Outlook ITB: Menembus Tantangan Material Maju dan Mewujudkan Kemandirian Observasi Maritim

Akselerasi Technological Outlook ITB: Menembus Tantangan Material Maju dan Mewujudkan Kemandirian Observasi Maritim

Akselerasi Technological Outlook ITB: Menembus Tantangan Material Maju dan Mewujudkan Kemandirian Observasi Maritim

BANDUNG, dri.itb.ac.id – Mengingat kembali visi besarnya, penyusunan Technological Outlook oleh Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) Institut Teknologi Bandung (ITB) dirancang untuk tidak sekadar menjadi inventarisasi teknologi. Dokumen ini ditargetkan menjadi instrumen strategis nasional yang memetakan sektor-sektor krusial, guna memberikan panduan arah kebijakan teknologi yang memiliki daya saing dan kedaulatan tinggi bagi Indonesia.

Untuk merealisasikan target tersebut, DRI ITB terus menggenjot pengumpulan data primer melalui rangkaian wawancara mendalam dengan para pakar. Memasuki bulan Maret, fokus pemetaan beralih pada penggalian potensi dan tantangan di sektor material maju serta pengembangan teknologi observasi maritim.

 

Sektor Material Maju (05/03/2026): Urgensi Kolaborasi dan Menembus Death Valley

Dalam upaya memetakan lanskap teknologi material, DRI ITB menyelenggarakan sesi wawancara bersama Prof. Dr. Veinardi Suendo, S.Si., M.Eng., pakar dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB. Prof. Veinardi menyoroti secara tajam urgensi integrasi riset dan tantangan hilirisasi teknologi di Indonesia.

Menurutnya, ekosistem riset material maju di ITB memiliki potensi kepakaran yang luar biasa, namun masih sering berjalan secara terfragmentasi. Banyak penelitian cemerlang yang berujung semata pada publikasi ilmiah karena pendekatan sektoral. Untuk itu, diperlukan sebuah wadah peleburan (melting pot) guna mendorong kolaborasi lintas disiplin yang lebih solid. Dengan demikian, inovasi material mampu diintegrasikan menjadi sistem fungsional yang siap pakai.

Isu krusial lain yang digarisbawahi adalah jebakan death valley (lembah kematian) pada tahap peningkatan skala produksi (upscaling). Inovasi material canggih di laboratorium yang hanya diproduksi dalam ukuran miligram akan sulit melangkah ke tahap komersialisasi. Material baru harus dapat diproduksi dalam kuantitas yang memadai agar industri dapat melakukan uji coba dan validasi. Guna mengatasi kebuntuan ini, Prof. Veinardi mendorong tersedianya fasilitas “inkubator upscaling” yang spesifik menjembatani celah antara produksi skala lab dan skala pilot.

Lebih lanjut, Prof. Veinardi menepis pandangan yang memisahkan material maju dengan manufaktur maju. Keduanya adalah entitas yang saling bergantung mutlak (inseparable). Sebagai contoh, mesin litografi canggih untuk fabrikasi chip semikonduktor di bawah 5 nanometer tidak akan berfungsi tanpa dukungan material high density resist—polimer presisi tinggi yang merespons paparan sinar UV pada skala angstrom.

Sebagai bukti komitmen kolaborasi, ITB saat ini telah merintis konsorsium silikon lintas keilmuan. Konsorsium ini memadukan kepakaran dari ujung hulu hingga hilir, mulai dari proses ekstraksi batuan kuarsit menggunakan submerged arc furnace (SAF) oleh ahli metalurgi, pengendalian sifat kimiawinya, hingga desain arsitektur chip di ranah elektronika dan informatika. Ke depan, ITB juga memfokuskan pengembangan pada pemrosesan teknologi vakum, fabrikasi lapisan tipis (thin film), dan bio-nanoteknologi.

Di akhir sesi, Prof. Veinardi mengingatkan bahwa kemandirian teknologi material tidak lepas dari bayang-bayang tantangan geopolitik. Ketergantungan pada instrumen karakterisasi mutakhir dan pasokan bahan kimia impor menjadi titik lemah yang rawan dihambat oleh kepentingan global. Kesolidan antarpakar dan dukungan regulasi pemerintah menjadi kunci agar Indonesia bisa menjadi pemain mandiri di sektor manufaktur maju masa depan.

 

Sektor Maritim (06/03/26): Inovasi Low-Cost untuk Observasi Laut Mandiri

Sehari berselang, pemetaan dilanjutkan pada sektor maritim dan kelautan dengan menghadirkan perwakilan peneliti muda ITB, yakni Dr. Iwan Pramesti Anwar, S.Si., M.Si. (FITB), Ishak Hilton Pujantoro Tnunay, S.T., Ph.D (STEI), Gabriella Alodia, S.T., M.Sc., Ph.D. (FITB), dan Dr.Eng. Ir. Ferryanto, S.T, M.T. (FTMD).

Tim peneliti memaparkan bahwa strategi utama pengembangan teknologi maritim ITB berporos pada penciptaan inovasi observasi mandiri berbiaya rendah (low-cost). Hal ini didorong oleh tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor alat laut dan biaya berlangganan data operasional maritim ke lembaga asing yang mencapai ratusan miliar rupiah per tahun.

Alih-alih membeli sistem mahal dari luar negeri, ITB memilih merancang purwarupa khusus untuk perairan nasional dengan harga yang jauh lebih terjangkau. Fokus riset unggulan yang tengah dirintis antara lain:

  • MAWAS (Marine Automatic Weather Station)/AWS MetOcean IoT: Stasiun cuaca otomatis berbasis IoT untuk observasi laut per detik.
  • Robot Bawah Air (ROV) Low-Cost: Purwarupa dengan kamera stereo untuk pemetaan 3D objek bawah air.
  • BASSCAM: Kamera bawah laut sistem drop untuk mengeksplorasi laut dalam tanpa biaya kapal mahal.

Ketiga teknologi ini berfokus pada efisiensi manufaktur, di mana biaya pembuatannya berhasil ditekan drastis dibandingkan produk komersial luar negeri.

Terkait tingkat kesiapan ekosistem (ecosystem readiness), purwarupa teknologi maritim ITB saat ini rata-rata berada di tingkat kesiapan teknologi (TRL) skala 6 dari 10. Beberapa instrumen telah diuji coba langsung di perairan terbuka seperti Pulau Tunda, Cirebon, dan Pulau Pramuka.

Meski dukungan kebijakan perizinan, seperti urusan impor komponen sensor riset di Bea Cukai, dinilai belum ideal (skor 3), potensi adopsi teknologi ini untuk kemandirian nasional sangat tinggi. Tingkat penerimaan sosial (usability) untuk pengguna awam seperti nelayan masih disempurnakan (skor 6), sementara untuk kalangan industri sudah sangat memadai. Keunggulan mutlak inovasi ini juga terletak pada minimnya risiko pencemaran dan kerusakan terumbu karang saat pengambilan data (skor 8).

Melalui rangkaian diskusi komprehensif ini, DRI ITB semakin memantapkan fondasi Technological Outlook sebagai dokumen yang siap menjawab tantangan riil bangsa dengan solusi berbasis riset yang kolaboratif dan aplikatif.

Kontributor: Nada Raudah Mumtazah

Berita terkait:
1. Proyeksi Topik Technological Outlook
2. Menuju Kedaulatan Pertahanan, ITB Kembangkan Radar Pasif Anti-Siluman dan Sistem Pertahanan Terintegrasi
3. Akselerasi Technological Outlook, DRI ITB Tetapkan 15 Sektor Unggulan dan Kebijakan Integrasi AI
4. DRI ITB Matangkan Penyusunan Technological Outlook Melalui Rangkaian Wawancara Pakar