Arah Kebijakan dan Transparansi DRI ITB: Kawal Usulan Pusat Baru Center for Intelligent Power System Innovation (CIPSI)
BANDUNG, dri.itb.ac.id – Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) Institut Teknologi Bandung (ITB) menggelar rapat koordinasi pada Kamis (23/4/2026) di Gedung CRCS Lantai 6 guna membahas langkah awal pembentukan Center for Intelligent Power System Innovation (CIPSI). Rapat koordinasi ini dihadiri oleh tim pengusul utama CIPSI, Prof. Ir. Syarif Hidayat, M.T., Ph.D. dari STEI ITB, bersama jajaran perwakilan DRI ITB, yakni Deputi Direktur Bidang Pengembangan Pusat/Pusat Penelitian/PUI, Dr. Grandprix Thomryes Marth Kadja, M.Si., Kepala Seksi Pusat/Pusat Penelitian/PUI, Efson Thrismono M.Pd., Inda Meidian, dan Nadia Falasiva. Pertemuan ini sekaligus menjadi momentum penegasan arah kebijakan strategis, pengetatan syarat kelembagaan, dan transparansi insentif riset.
Saat ini, DRI ITB mengelola sistem riset yang terpusat dengan total 35 Pusat dan Pusat Penelitian (terdiri dari 7 Pusat Penelitian dan 28 Pusat). Sesuai dengan kebijakan kelembagaan yang berlaku, seluruh pusat riset kini tidak lagi bernaung di bawah fakultas, melainkan berada di bawah koordinasi langsung DRI dan diwajibkan untuk mengusung semangat multidisiplin.
Untuk memastikan pusat yang dibentuk secara bottom-up (inisiatif komunitas akademik) memiliki fondasi yang kuat, DRI menegaskan kembali kepatuhan terhadap regulasi Senat Akademik. Setiap pengusulan pusat baru memiliki target dan prasyarat komposisi yang ketat:
- Keterlibatan lintas disiplin minimal dari 2 Fakultas/Sekolah dan 3 Kelompok Keahlian (KK).
- Tim pengusul tahap awal dibatasi maksimal 10 orang peneliti.
Usulan CIPSI yang diinisiasi oleh Pak Syarif dinilai telah berada di jalur yang tepat untuk memenuhi kriteria awal ini, yakni melalui komitmen pelibatan peneliti dari STEI dan SBM, serta target kolaborasi dari empat KK (Rekayasa Perangkat Lunak, Elektronika, Sistem Informasi, dan Bisnis Manajemen).
Lebih lanjut, proposal pusat baru harus mampu membuktikan diferensiasi guna menghindari tumpang tindih dengan pusat eksisting. CIPSI diarahkan untuk memantapkan posisi spesifiknya pada penyediaan infrastruktur modern transisi energi ketenagalistrikan. Pusat ini didorong untuk mengoptimalkan keunggulannya dalam hilirisasi perangkat teknologi (relay proteksi) serta piranti lunak (software) analisis kelistrikan guna mendukung kebutuhan industri seperti PLN.
Sebagai bentuk nyata komitmen untuk menunjang keberlanjutan (sustainability) pusat-pusat riset, pihak DRI memaparkan sejumlah kebijakan insentif kelembagaan dan desentralisasi yang dirancang untuk memangkas birokrasi dan mengakselerasi produktivitas:
- Desentralisasi Kontrak: Otorisasi bagi Kepala Pusat untuk menandatangani kontrak kerja sama bernilai besar secara langsung, guna menyederhanakan alur birokrasi persetujuan di tingkat Rektorat.
- Dana Operasional Rutin: Stimulus taktis bulanan yang dialokasikan untuk memfasilitasi kebutuhan koordinasi rapat maupun dukungan rekrutmen asisten peneliti.
- Akses Program Eksklusif: Hak bagi pusat riset untuk mengakses pendanaan Riset Top-Tier (target publikasi jurnal internasional) dan Riset Pengembangan Unggulan (inovasi produk), serta dukungan SDM melalui Program Postdoctoral dan Talenta Unggul berkualifikasi pascasarjana.
DRI berharap transparansi ekosistem pendanaan dan regulasi ini memotivasi tim pengusul CIPSI untuk merumuskan roadmap serta indikator keberhasilan riset jangka pendek hingga panjang secara taktis.
Kontributor: Nada Raudah Mumtazah
