BANDUNG, itb.ac.id – Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) Institut Teknologi Bandung (ITB) melaksanakan rangkaian kunjungan (site visit) kepada para penerima dana Program Inovasi Unggul Berdampak Tahun 2025. Pada Selasa (3/2/2026), tim DRI menyambangi tim peneliti yang dipimpin oleh Gabriella Alodia, Ph.D. dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB).
Kunjungan ini bertujuan untuk meninjau langsung BASSCAM, sebuah produk inovasi pemetaan visual laut dalam yang dikembangkan melalui kolaborasi antara FITB dan Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB.
Dalam kunjungan tersebut, Gabriella Alodia, Ph.D, menceritakan awal mula lahirnya BASSCAM. Selama ini, riset laut dalam sangat bergantung pada teknologi sonar impor yang mahal. Sayangnya, alat tersebut umumnya hanya memberikan data morfologi atau bentuk topografi dasar laut, tanpa memberikan gambaran visual yang nyata.
“Kita dapat morfologinya, tapi kita tidak bisa melihatnya secara visual. Kita butuh alat yang bisa melakukan pengamatan visual bawah laut namun tetap low cost (terjangkau),” ungkap Dr. Gabriella.
Sinergi Sains dan Rekayasa: Dari “User Request” ke Produk Jadi
Keunikan BASSCAM terletak pada kolaborasi lintas disiplin ilmunya. Prof. Andi Isra Mahyuddin dari Kelompok Keahlian Dinamika dan Kontrol FTMD ITB, menyambut baik tantangan ini sebagai implementasi nyata dari mata kuliah Perancangan dan Purwarupa Produk Rekayasa.
“Ini kolaborasi yang memberi pengalaman praktis. FITB memiliki kebutuhan sains (science needs), dan tugas kami di FTMD adalah mencari solusi engineering-nya,” ujar Prof. Andi.
Turut hadir dalam kunjungan tersebut dua mahasiswa Teknik Mesin angkatan 2022 yang berkontribusi penting dalam pengembangan teknis BASSCAM, yaitu Marvin Pradipta Abinowo dan Gravin Hotasi Zakharia. Keduanya memiliki peran krusial dalam menerjemahkan kebutuhan sains menjadi alat yang fungsional.
Marvin, selaku Mechanical Design Engineer, bertanggung jawab merancang struktur fisik alat, termasuk perhitungan ketebalan dinding agar tahan tekanan ekstrem dan mekanisme penyegelan (sealing) anti-bocor. Sementara itu, Gravin bertugas sebagai Electrical & System Engineer yang menangani sistem kelistrikan, integrasi sensor, hingga stabilitas navigasi alat.
Menambahkan penjelasan teknis, Dr. Eng. Ferryanto dari FTMD menjelaskan alur perancangan yang sistematis. “Prosesnya dimulai dari user request FITB, lalu kami terjemahkan menjadi Design Requirement and Objectives (DR&O). Dari sana kami rancang desainnya, memilih satu konsep terbaik yang kemudian dihitung secara matematis detail ketebalannya, kestabilannya, hingga manufakturnya.,” jelasnya.
Mengenal BASSCAM: Spesifikasi dan Keunggulan
BASSCAM bekerja dengan konsep drifter (bergerak mengikuti arus). Alat ini memiliki sejumlah keunggulan teknologi yang dirancang khusus untuk tahan lingkungan laut ekstrem:
- Komunikasi Fiber Optic: Mengatasi kendala sinyal nirkabel dalam air, BASSCAM menggunakan serat optik untuk mengirim data visual resolusi tinggi secara real-time dan latensi rendah.
- Sistem Modular: Didesain fleksibel layaknya sistem bongkar-pasang. Sensor dapat diganti sesuai misi (suhu, salinitas, dll) hingga penambahan lengan robotik (robotic arm).
- Ketahanan Tinggi: Telah teruji mampu menahan tekanan di kedalaman 200 meter dengan material tahan korosi.
Misi Vital: Melacak Sesar Aktif
BASSCAM bukan sekadar purwarupa, melainkan siap diterjunkan untuk misi krusial. Raini, Mahasiswa S3 Sains Kebumian ITB, menjelaskan bahwa alat ini akan digunakan untuk meneliti potensi bahaya geologi di utara Bali.
“Fokus penelitian kami adalah mengidentifikasi persebaran Sesar Flores (Flores Back-arc Thrust). Karena semua sesarnya berada di laut, kami butuh data visual resolusi tinggi untuk mencari fitur geomorfologi yang menjadi bukti adanya sesar aktif di sana,” jelas Raini.
Ke depannya, pengembangan BASSCAM ditargetkan mampu mencapai kedalaman 1.000 meter. Dr. Andi Isra Mahyuddin berharap inovasi ini menjadi momentum bagi kemandirian teknologi Indonesia.
“Mudah-mudahan ini menjadi modus ke depan di mana kolaborasi antar fakultas bisa menghasilkan produk yang menjadi pesaing produk impor. Selama ini produk lokal belum ada, dan impor itu mahal. Dengan ini, kita harap bisa punya alat sendiri untuk berbagai keperluan penelitian bawah laut di Indonesia,” tutupnya.
Kontributor: Aura Salsabila Alviona
