Enter your keyword

Dari Akar Rumput ke Panggung Global: Menjembatani Inovasi Komunitas dan Strategi Dunia bersama Prof. Anil K. Gupta

Dari Akar Rumput ke Panggung Global: Menjembatani Inovasi Komunitas dan Strategi Dunia bersama Prof. Anil K. Gupta

Dari Akar Rumput ke Panggung Global: Menjembatani Inovasi Komunitas dan Strategi Dunia bersama Prof. Anil K. Gupta

Sharing Session Vol. 11 bertajuk “Scientific Talks: Bridging Grassroots Innovation and Global Strategy” diselenggarakan pada Minggu, 21 Desember 2025 pukul 10.00–12.00 WIB di Ruang Auditorium Lantai 8, Gedung CRiMSE (d.h. PAU), Kampus ITB Ganesha. Kegiatan ini menghadirkan Prof. Anil Kumar Gupta—Professor at Indian Institute of Management Ahmedabad sekaligus pendiri Honey Bee Network, SRISTI, GIAN, dan NIF—sebagai pembicara utama, dengan Prof. Dr. Yudi Darma, S.Si., M.Si. (Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Ditjen Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek) sebagai chairman, serta Dr. Bagus Muljadi (Assistant Professor, Nottingham University, UK) sebagai respondent.

Pembukaan Acara oleh Prof. Dr. apt. Elfahmi, S.Si., M.Si.

Acara dibuka oleh Prof. Dr. apt. Elfahmi, S.Si., M.Si. Dalam sambutan pembukaan, Prof. Elfahmi menyampaikan bahwa kehadiran Prof. Anil merupakan kesempatan berharga, mengingat jadwal beliau yang sangat terbatas. Prof. Anil hanya memiliki satu hari tersisa sebelum kembali pulang, sehingga panitia dan pihak ITB berupaya memaksimalkan momen tersebut untuk memperkaya pembelajaran.

Pada kesempatan yang sama, Prof. Elfahmi menyoroti tantangan yang dihadapi ITB dalam memastikan luaran riset dan inovasi dapat memberi dampak nyata. Menurutnya, ITB memiliki berbagai struktur dan skema lintas sektor untuk mendorong inovasi, namun tantangan komersialisasi masih menjadi pekerjaan rumah. “Kita memiliki teknologi dan banyak inovasi lahir dari para dosen serta peneliti. Namun, masalahnya, tidak semua inovasi tersebut berhasil masuk ke pasar,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa dalam praktiknya terdapat berbagai faktor yang dapat memengaruhi keberhasilan inovasi agar mampu melangkah dari tahap riset menuju pemanfaatan dan komersialisasi. Hambatan dapat muncul dari sisi ekosistem, model bisnis, pembiayaan, kesiapan teknologi, pendampingan, jejaring, hingga penerimaan pasar. Karena itu, tema yang diangkat dalam Sharing Session Vol. 11 dinilai sangat relevan untuk membantu menjawab tantangan tersebut.

Sesi diskusi juga diperkuat oleh kehadiran Dr. Bagus Muljadi dari University of Nottingham sebagai respondent. Prof. Elfahmi menyampaikan apresiasi dan harapan agar forum ini menjadi kick-off penguatan kolaborasi ke depan, termasuk peluang proyek bersama dan kerja sama riset, khususnya dengan University of Nottingham.

Kegiatan ini diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang, dengan jumlah pendaftar sekitar 60 orang. Prof. Elfahmi turut menyampaikan permohonan maaf karena kegiatan berlangsung pada hari libur, sekaligus mengapresiasi antusiasme peserta yang tetap hadir untuk memperdalam wawasan mengenai penguatan inovasi akar rumput serta strategi menghubungkannya dengan arah kebijakan dan jejaring global.

Melalui Sharing Session Vol. 11, DRI ITB berharap forum ilmiah ini dapat memperkaya perspektif sivitas akademika dan pemangku kepentingan dalam memperkuat ekosistem inovasi, sekaligus memperluas jalur hilirisasi agar inovasi yang lahir dari kebutuhan nyata masyarakat dapat berkelanjutan dan berdampak luas.

Sambutan Pembukaan dari Prof. Dr. Yudi Darma, S.Si., M.Si. 

Acara dilanjutkan dengan sambutan pembukaan dari Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Ditjen Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek, Prof. Dr. Yudi Darma, S.Si., M.Si.

Dalam sambutannya, Prof. Yudi Darma menekankan bahwa penguatan ekosistem inovasi tidak dapat hanya bertumpu pada inovasi dari laboratorium atau institusi formal, tetapi perlu mengakui dan mendorong inovasi yang lahir dari masyarakat. Ia mengangkat pengalaman India sebagai contoh negara yang memiliki sejarah panjang dalam membangun budaya sains dan inovasi berbasis warga. Prof. Yudi menyebut bahwa India sejak lama menyadari nilai inovasi dari masyarakat, bahkan salah satu kisah yang ia soroti adalah inisiatif innovation contest pada 1929 yang diinisiasi oleh Mahatma Gandhi, hal ini menunjukkan adanya perhatian terhadap inovasi yang tumbuh dari akar rumput.

Prof. Yudi juga menyinggung konsep regulasi di India scientific temper— semangat ilmiah oleh Jawaharlal Nehru yang menempatkan warga negara sebagai aktor penting dalam pengembangan inovasi. Menurutnya, scientific temper mendorong masyarakat untuk berpikir kreatif, memupuk rasa ingin tahu, serta membiasakan diri mempertanyakan berbagai hal secara kritis sebagai fondasi lahirnya inovasi. Dari perspektif ini, penguatan ilmu warga (citizen science) menjadi sangat strategis karena memperluas basis partisipasi masyarakat dalam aktivitas ilmiah dan inovatif.

Pada kesempatan tersebut, Prof. Yudi menyoroti tantangan umum yang juga dihadapi banyak negara, termasuk Indonesia: tidak semua invensi dapat berubah menjadi inovasi yang benar-benar diadopsi dan berdampak. Ia menyampaikan bahwa secara umum kurang dari 5% invensi berhasil bertransformasi menjadi inovasi yang siap diterapkan. Kondisi ini menjadi alasan mengapa suatu negara perlu memperbanyak invensi, sekaligus memperkuat strategi agar invensi tersebut mampu melintasi “jembatan” menuju inovasi yang digunakan masyarakat dan pasar.

Karena itu, Prof. Yudi menilai keterlibatan publik dan public engagement sebagai elemen kunci untuk memperbesar peluang keberhasilan transformasi invensi menjadi inovasi. Inovasi akar rumput, menurutnya, perlu diperkuat dan didorong menjadi bagian dari aktivitas keseharian, karena inovasi jenis ini lahir dari kebutuhan nyata, konteks lokal, serta partisipasi langsung komunitas.

Sejalan dengan itu, Prof. Yudi menjelaskan bahwa pemerintah juga mendorong program-program yang tidak hanya meningkatkan literasi sains publik, tetapi juga memperluas keterlibatan masyarakat dalam kegiatan ilmiah. Ia menyebut beberapa bentuk inisiatif yang diarahkan untuk membangun ekosistem partisipatif, seperti program sekolah musim panas (summer school), living lab, dan kegiatan berbasis komunitas lainnya yang mendorong warga terlibat langsung dalam proses sains dan inovasi.

Rangkaian sesi kemudian dilanjutkan dengan diskusi interaktif bersama Prof. Anil Kumar Gupta, yang dikenal sebagai salah satu pionir penguatan inovasi akar rumput melalui Honey Bee Network dan jejaring sukarelawan di India. Melalui forum ini, peserta diajak untuk memanfaatkan kesempatan berdialog dan menggali pengalaman internasional terkait strategi menghubungkan inovasi berbasis komunitas dengan arah kebijakan dan strategi global, sekaligus memperkuat ekosistem inovasi di Indonesia.

Paparan Prof. Anil Kumar Gupta

Dalam paparannya, Prof. Gupta menekankan pentingnya penguatan ekosistem inovasi berbasis akar rumput yang tetap terhubung dengan strategi global, terutama melalui prinsip pengakuan dan resiprositas bagi penyedia pengetahuan (komunitas). Beliau menggarisbawahi bahwa pengakuan tidak cukup berhenti pada “pencantuman nama”, tetapi perlu diwujudkan melalui mekanisme yang adil—misalnya bentuk atribusi yang bermakna, skema HKI/paten yang menempatkan inovator komunitas sebagai pihak yang diakui, serta model lisensi dan bagi hasil yang mengembalikan manfaat kepada komunitas ketika inovasi dikomersialisasikan.

Diskusi juga menyoroti tantangan hilirisasi, termasuk fase “valley of death” ketika inovasi membutuhkan pendanaan dan kesiapan pasar. Prof. Gupta memaparkan praktik pendampingan dari riset menuju komersialisasi melalui standarisasi proses, pembuktian manfaat, strategi segmentasi pasar, serta transparansi rantai nilai agar inovasi tidak terputus pada tahap prototipe. Di sisi tata kelola, beliau mengusulkan model HKI yang adaptif: budaya berbagi pengetahuan tetap dilindungi di tingkat komunitas, sementara pemanfaatan komersial skala industri dilakukan melalui lisensi yang berkeadilan.

Pada sesi tanya jawab, isu validasi ilmiah juga dibahas—bahwa pengetahuan lokal sering “berfungsi” meski narasi penjelasannya tidak selalu ilmiah. Peran akademisi adalah menghormati praktik yang terbukti efektif, kemudian menjelaskan mekanisme ilmiahnya secara bertanggung jawab. Prof. Gupta juga menekankan budaya “mengunggah kontribusi”, misalnya melalui basis data proyek/inovasi agar pengetahuan tidak hilang, dapat ditelusuri, dan menjadi pijakan riset berikutnya. Kegiatan ditutup dengan refleksi pentingnya menjembatani high-tech dan grassroots innovation sebagai dua kekuatan yang saling melengkapi dalam mendorong inovasi berdampak.