Enter your keyword

Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) ITB Perkuat Sinergi dengan Kemenkes untuk Hilirisasi Produk Kesehatan Nasional

Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) ITB Perkuat Sinergi dengan Kemenkes untuk Hilirisasi Produk Kesehatan Nasional

Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) ITB Perkuat Sinergi dengan Kemenkes untuk Hilirisasi Produk Kesehatan Nasional

BANDUNG, dri.itb.ac.id – Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) Institut Teknologi Bandung (ITB) menggelar pertemuan strategis dengan tim dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI pada Selasa (19/05/26), bertempat di Auditorium Gedung CRiMSE, ITB. Pertemuan ini bertujuan untuk memetakan hasil riset ITB di bidang farmasi dan alat kesehatan yang siap dihilirisasi agar dapat segera memberikan manfaat nyata bagi masyarakat serta mendukung kemandirian industri kesehatan nasional.

Pertemuan tersebut dibuka oleh Direktur Riset dan Inovasi ITB, Prof. Dr. apt. Elfahmi, S.Si., M.Si. Dalam sambutannya, Prof. Elfahmi menekankan bahwa ITB memiliki banyak periset dengan inovasi yang telah mencapai tingkat kesiapan teknologi (Technology Readiness Level/TRL) matang. “Pertemuan ini adalah langkah konkret untuk menjembatani riset ITB dengan kebutuhan riil di lapangan. Kami ingin menciptakan need-driven research yang menjawab tantangan industri kesehatan nasional yang saat ini masih didominasi produk impor,” ujar Prof. Elfahmi.

Dalam sesi diskusi, hadir dari pihak Kemenkes: Agus Tjahajana Wirakusumah, S.E., M. Sc., IPU (Staf Khusus Menteri Kesehatan bidang Transformasi Sistem Kesehatan), Dr. Jeffri Ardiyanto, M.App.Sc (Direktur Ketahanan Farmasi dan Alat Kesehatan), serta Nurhidayat, S.Si, Apt (Ketua Tim Kerja Pengembangan dan Fasilitasi Hilirisasi Alkes Dalam Negeri). Dari RSUP Hasan Sadikin, hadir dr. Fitra (Direktur SDM, Pendidikan, dan Penelitian) beserta timnya.

Diskusi tersebut mengupas tuntas realitas Valley of Death atau jurang pemisah antara riset akademis dan produk komersial. Para peneliti ITB seperti Prof. Dr. Suprijanto, S.T., M.T., Prof. Dr. apt. Heni Rachmawati, M.Si., Prof. Dessy Natalia, Ph.D., Prof. Dr. apt. Neng Fisheri Kurniati, S.Si., M.Si., Dr. rer. nat. apt. Catur Riani, S.Si., M.Si., hingga Khoirul Muslim, S.T., M.Sc., Ph.D. memaparkan hambatan teknis yang selama ini dihadapi, seperti sulitnya memenuhi standar regulasi Badan POM, mahalnya biaya scale-up produksi dari skala laboratorium ke industri, serta belum adanya jaminan pasar bagi produk inovasi dalam negeri.

Menanggapi hal tersebut, Agus Tjahajana Wirakusumah menegaskan pentingnya perubahan pola pikir dari riset sporadis menjadi riset yang tersinkronisasi dengan roadmap Kemenkes 2029. Ia mendorong peneliti ITB untuk memetakan produk berdasarkan kebutuhan pasar riil yang ada di rumah sakit. Dr. Jeffri Ardiyanto menambahkan bahwa direktoratnya siap memfasilitasi business matching dengan industri, sementara dr. Fitra menekankan bahwa RSUP Hasan Sadikin berkomitmen menjadi mitra utama sebagai wahana uji klinis melalui Clinical Research Unit (CRU) guna mengawal riset sejak fase awal hingga ke proses perizinan.

Hasil dari pertemuan ini menyepakati pembentukan mekanisme kerja sama yang lebih terintegrasi. DRI ITB akan mengompilasi data mendetail mengenai produk-produk inovasi yang siap dihilirisasi untuk segera ditindaklanjuti. Dengan sinergi yang lebih erat antara ITB, Kemenkes, dan RSHS, diharapkan hambatan hilirisasi yang selama ini terjadi di dunia akademik dapat teratasi, sehingga produk kesehatan buatan dalam negeri dapat mendominasi pasar dan meningkatkan aksesibilitas kesehatan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

 

Kontributor: Nada Raudah Mumtazah