Enter your keyword

DRI ITB Gelar Diskusi Pengelola Jurnal: Membidik Kuartil Tinggi dan Memperluas Jejak Sitasi Global

DRI ITB Gelar Diskusi Pengelola Jurnal: Membidik Kuartil Tinggi dan Memperluas Jejak Sitasi Global

DRI ITB Gelar Diskusi Pengelola Jurnal: Membidik Kuartil Tinggi dan Memperluas Jejak Sitasi Global

Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) Institut Teknologi Bandung (ITB) menyelenggarakan diskusi penting bagi para pengelola jurnal ilmiah di lingkungan ITB pada tanggal 18 November 2025. Acara yang bertajuk “Menembus Kuartil Tinggi dan Memperluas Jejak Sitasi: Tantangan dan Solusi untuk Pengelola Jurnal” ini bertujuan untuk memperkuat tata kelola jurnal serta merumuskan strategi peningkatan reputasi jurnal ITB di kancah internasional.

Diskusi yang berlangsung di Ruang Amphitheatre Gedung PAU ini dihadiri oleh para Chief Editor jurnal ilmiah ITB dan menghadirkan dua narasumber pakar di bidang publikasi ilmiah bereputasi: Prof. Istadi (Chief Editor BCREC Universitas Diponegoro) dan Dr. Eny Kusrini (Managing Editor IJTech Universitas Indonesia). Acara ini dimoderatori oleh Rizki Armanto M., Ph.D., Anggota Dewan Redaksi JETS ITB dan Sdri. Dian Hutami sebagi Master of Ceremony.

Strategi Peningkatan Reputasi Jurnal

Dalam sambutan pembuka oleh Deputi Direktur Bidang Pengembangan Pusat/Pusat Penelitian/PUI DRI ITB, Dr. Grandprix Thomryes Marth Kadja, M.Si., menyampaikan bahwa tujuan utama diskusi adalah mendorong semua jurnal untuk “naik kelas bersama-sama”. Peningkatan kelas ini tidak hanya dilihat dari matriks yang baik, tetapi juga dari tata kelola yang profesional. Sementara itu Dr. Endra Gunawan, Chief Editor JETS dalam sambutannya menyampaikan bahwa JETS melakukan analisis awal dengan breakdown kategori Saat ini JETS sudah Q2 di bidang earth surface.

Prof. Istadi dari BCREC (saat ini Q3) membagikan sejumlah strategi untuk meningkatkan Kuartil (Q) dan reputasi jurnal, yang berfokus pada peningkatan sitasi dan tata kelola metadata:

  • Peningkatan Sitasi:
    • Mempublikasikan artikel ilmiah original research dan systematic literature review yang konsisten, berkualitas, dan membahas isu yang sedang menjadi perhatian (hot).
    • Mendorong dosen-dosen ITB, yang mayoritas memiliki publikasi di jurnal Q1, untuk mensitasi jurnal ITB.
    • Mentargetkan sitasi dari jurnal-jurnal berkategori Q1 atau Q2.
    • Melakukan diseminasi intensif setiap artikel di media sosial secara berulang-ulang dengan tagar topik penting.
    • Memprioritaskan kolaborasi penulis antarnegara, terutama dengan pakar ternama.
    • Mengatur agar jumlah artikel yang dipublikasi meningkat dengan tetap menjaga konsistensi kualitas.
  • Tata Kelola dan Metadata:
    • Jurnal harus terbit tepat waktu (jangan sampai terlambat).
    • Memastikan lima metadata penting tercantum dalam galley/PDF, yaitu: judul sirahan, lisensi akses, hak cipta, riwayat naskah (genesis article), dan DOI.
    • Hak cipta harus secara eksplisit milik penulis (“copyright by author”), dengan penerbit yang memublikasikan (“published by IRCS-ITB” pada kasus JETS).
    • Editor disarankan membuat akun di Web of Science (WoS) untuk mencatatkan kegiatan editorial.

Manajemen Proses dan Tantangan Editor

Dr. Eny Kusrini memaparkan praktik terbaik dalam manajemen jurnal berdasarkan pengalaman IJTech (Q2). IJTech menggunakan sistem berbayar (Article Processing Charge/APC) yang dinaikkan hingga 1.000 USD, yang bertujuan untuk memfilter artikel yang masuk, mengingat tingginya volume submisi (~600 per tahun). Biaya ini digunakan untuk proofreading, DOI, honor reviewer, dan biaya operasional.

Terkait proses peer-review yang sering menjadi kendala, Dr. Eny dan Prof. Istadi memberikan solusi:

  • Kecepatan Proses: Jurnal tidak boleh memproses artikel lebih dari enam bulan. Jika reviewer sulit didapatkan atau lambat, editor perlu turut serta dalam proses review.
  • Networking: Dewan editor perlu memiliki jaringan yang kuat untuk memperkenalkan jurnal.
  • Sistem IT: Masalah surel (email) yang masuk ke folder spam harus dikoordinasikan dengan tim IT pusat agar domain (.itb.ac.id) tidak mengalami fail indikator server.
  • Model Review: Prof. Istadi menyarankan agar tidak perlu khawatir dengan model single-blind atau double-blind, karena penilaian akreditasi keduanya bernilai sama, dan yang terpenting adalah integritas editor.

Diskusi ini juga menyentuh aspek penting lain, termasuk perbedaan perhitungan Kuartil antara Scopus, SJR, dan Cite Score. Selain itu, disoroti pentingnya kejelasan pendanaan riset (acknowledge funder) dalam artikel, karena artikel tanpa pendanaan yang jelas dinilai lebih rendah valuenya oleh WoS.

Para peserta yang aktif dalam diskusi interaktif ini antara lain: Housny Mubarok, S.T., Supri Haryanto, S.Sos., Rika Wahyuningtyas, S.Pi., M.Sc., M.P., Ph.D., Ir. Estiyanti Ekawati, M.T., Ph.D., Dr. rer. nat. Rino Rakhmata Mukti, S.Si., M.Sc., dan Sdri. Mistriana.

Secara keseluruhan, diskusi ini memberikan wawasan mendalam dan langkah-langkah praktis bagi para pengelola jurnal di ITB untuk menembus kuartil jurnal yang lebih tinggi dan meningkatkan dampak sitasi, yang pada akhirnya akan memperkuat reputasi akademik ITB di mata dunia.