Enter your keyword

DRI ITB Gelar Monev Keberlanjutan Rikub 2026, Tekankan Produk Nyata, TKT 6–7, dan Mitra Sejak Awal

DRI ITB Gelar Monev Keberlanjutan Rikub 2026, Tekankan Produk Nyata, TKT 6–7, dan Mitra Sejak Awal

DRI ITB Gelar Monev Keberlanjutan Rikub 2026, Tekankan Produk Nyata, TKT 6–7, dan Mitra Sejak Awal

Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui DRI ITB dan DPPM menggelar Rapat Monitoring dan Evaluasi (Monev) Keberlanjutan Rikub 2026 pada Senin, 2 Februari 2026, bertempat di Ruang Rapat A, Lantai 6, Gedung CRCS, Kampus ITB Ganesha, Bandung. Rapat yang dimulai pukul 08.30 WIB ini menjadi forum untuk menilai perkembangan riset, memastikan kesiapan prototipe, serta memetakan peluang keberlanjutan dan hilirisasi program secara realistis.

Kegiatan monev dihadiri oleh perwakilan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), yaitu Dr. Imron Rosyadi, S.T., M.T., Ir. Dedy T. Suprayogi, dan Dr. Hery Tri Waluyo, serta Dr. Nina Siti Aminah, S.Si., M.Si. dari FMIPA ITB. Dari sisi pengelola program hadir M. Wildan, Hotniar Siringoringo, dan Achmad Syafiuddin (DPPM), bersama Elfahmi, Noviyanti, dan Nia Nuraeni (DRI ITB).

Dalam pengantarnya, pimpinan diskusi menegaskan bahwa monev tidak berhenti pada paparan, tetapi harus menyentuh aspek yang paling penting: melihat produk dan progres nyata. “Tujuan kita adalah melihat produknya,” menjadi penekanan agar evaluasi tidak hanya berbasis dokumen, melainkan juga bukti implementasi dan kesiapan integrasi di lapangan. Sejumlah hal administratif juga disinggung singkat terkait komposisi tim dan ketentuan jumlah anggota, untuk memastikan kesesuaian aturan program.

Rapat kemudian menyoroti prinsip penting dalam pengelolaan inovasi: tidak semua riset akan langsung sampai hilirisasi, dan hal itu wajar dalam ekosistem riset global. Namun demikian, peserta monev sepakat perlunya pengambilan keputusan berbasis data. Apabila dari perkembangan terlihat jalur hilirisasi tidak potensial, maka program tidak perlu dipaksakan. Di sisi lain, apabila ada potensi, tim didorong memperkuat kesiapan teknologi hingga level TKT 6–7, seraya tetap membuka ruang untuk evaluasi berkala—termasuk keputusan berhenti apabila tidak feasible.

Pengalaman konsorsium riset juga menjadi pembelajaran yang dibahas. Forum menyinggung upaya menghidupkan kembali pola konsorsium sejak 2024, termasuk untuk tema climate change dan baterai. Skema konsorsium dinilai dapat membuka peluang lahirnya beberapa inovasi dalam satu rumpun solusi, dengan kemungkinan hasil yang beragam: bisa semua gagal, bisa sebagian berhasil, atau hanya satu yang berhasil. Bagi peserta monev, variasi hasil tersebut merupakan bagian dari proses inovasi, selama tetap ada pengelolaan target dan indikator dampak yang jelas.

Salah satu pesan kunci yang mengemuka adalah pentingnya mitra terlibat sejak awal, bukan sekadar tercantum di proposal. Dalam diskusi, ditekankan perlunya menghindari pola “mitra-mitraan”, yakni mitra yang formalitasnya ada namun kontribusi dan keterlibatannya tidak nyata. Dengan keterlibatan mitra sejak awal, rasa memiliki terhadap produk akan lebih kuat, strategi adopsi lebih realistis, dan pengetahuan pasar lebih akurat karena mitra memahami kondisi pengguna secara langsung. Model kolaborasi semacam ini dinilai memperbesar peluang produk riset dapat dipasarkan dan diadopsi lebih luas.

Pada bagian pemantauan teknis, peserta meninjau capaian prototipe yang memanfaatkan material berbasis sampah dan diarahkan pada sistem kontrol berbasis IoT. Tim memaparkan pengembangan perangkat dan integrasi komponen, termasuk rancangan konveyor yang dapat dikendalikan jarak jauh (remote) serta rencana perakitan komponen agar sistem bekerja secara utuh. Dalam sesi ini, peserta monev juga memberi catatan kritis agar pengembangan tidak berulang dari nol setiap tahun. Konsistensi pengembangan, dokumentasi progres, dan kesinambungan aset riset ditekankan agar tahun berikutnya tidak kembali “membangun ulang” tanpa keberlanjutan desain.

Diskusi lapangan turut memuat rencana uji atau penempatan prototipe di area kampus (disebutkan target sekitar Februari 2026), sekaligus memastikan tahapan integrasi berjalan rapi—mulai dari komponen utama hingga sistem kendali. Peninjauan langsung tersebut membantu tim monev menangkap kondisi aktual, termasuk bagian yang belum terakit, kebutuhan integrasi, dan potensi bottleneck yang perlu diselesaikan sebelum tahap implementasi berikutnya.

Menutup rangkaian, panitia menyampaikan dukungan logistik dan koordinasi kunjungan, serta mengapresiasi kolaborasi lintas unit dan mitra. Monev Keberlanjutan Rikub 2026 ini diharapkan memperkuat budaya evaluasi berbasis bukti, mendorong inovasi menuju dampak yang lebih terukur, serta memastikan keberlanjutan program melalui penguatan TKT, konsorsium yang efektif, dan kemitraan yang benar-benar berjalan sejak awal.