Enter your keyword

DRI ITB Luncurkan 6 Skema Riset dan Inovasi 2026 serta Klinik Penulisan

DRI ITB Luncurkan 6 Skema Riset dan Inovasi 2026 serta Klinik Penulisan

DRI ITB Luncurkan 6 Skema Riset dan Inovasi 2026 serta Klinik Penulisan

BANDUNG, dri.itb.ac.id –Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) Institut Teknologi Bandung (ITB) resmi meluncurkan Program Riset dan Inovasi Tahun 2026. Peluncuran ini membawa misi strategis untuk mendongkrak posisi ITB menuju peringkat 150 dunia pada tahun 2030, dengan fokus utama pada peningkatan sitasi per fakultas dan jejaring riset internasional.

Dalam sosialisasi yang digelar pada Kamis (15/01/2026) ini, Direktur Riset dan Inovasi ITB, Prof. Elfahmi, menegaskan bahwa kenaikan peringkat ITB saat ini (peringkat 255) memerlukan akselerasi kerja yang luar biasa. Berdasarkan analisis, 75% kontribusi sitasi berasal dari artikel Q1, sehingga skema tahun ini dirancang untuk mendorong kualitas luaran tersebut secara signifikan.

4 Skema Riset untuk Penguatan Ekosistem

Deputi Direktur Bidang Riset dan Diseminasi, Nur Ahmadi, Ph.D., . memaparkan empat skema riset yang ditawarkan untuk Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) 1-3, dengan batas waktu pengajuan proposal hingga 29 Januari 2026 pukul 17.00 WIB.

  1. Riset Unggulan ITB (Pendanaan maks. Rp150 Juta): Luaran wajib berupa publikasi Q1, diprioritaskan bagi yang menargetkan Top Tier.
  2. Riset Internasional ITB (Pendanaan maks. Rp150 Juta): Diutamakan kemitraan dengan Top 100 World Class University atau peneliti prominen di bidangnya, dibuktikan dengan Letter of Intent.
  3. Riset Dosen Muda ITB (Pendanaan maks. Rp150 Juta): Khusus bagi dosen dengan masa kerja ≤ 8 tahun untuk mengakselerasi rekam jejak riset 
  4. Riset Peningkatan Kapasitas Peneliti (Pendanaan maks. Rp100 Juta): Skema baru untuk mengaktifkan kembali dosen (masa kerja > 8 tahun) yang belum pernah menjadi ketua peneliti dalam 5 tahun terakhir.

 

Hilirisasi Melalui Program Inovasi

Di sisi hilirisasi (TKT 4-6), Deputi Direktur Bidang Inovasi Sains dan Teknologi, Dr.Eng. Isty Adhitya Purwasena, memperkenalkan dua skema strategis yang mewajibkan pelibatan mitra industri, pemerintah, atau UMKM.

  1. Inovasi Unggul Berdampak (Pendanaan maks. Rp100 Juta): Untuk riset dengan TKT awal 3 menuju purwarupa (TKT 4-5). Mitra dapat berkontribusi secara in-kind.
  2. Akselerasi Inovasi Multidisiplin (Pendanaan maks. Rp300 Juta): Mewajibkan kolaborasi minimal dua fakultas/sekolah berbeda. Mitra wajib memberikan pendanaan pendamping (match funding) dengan rasio 1:1, di mana minimal 15% berupa in-cash.

Kebijakan Baru dan Jawaban atas Keresahan Peneliti

Dalam sesi diskusi, DRI ITB menjawab sejumlah pertanyaan krusial dari para dosen terkait kebijakan pendanaan dan teknis pelaksanaan:

  1. Aturan Pendanaan: Peneliti boleh mengajukan proposal ke berbagai skema, namun hanya satu proposal yang akan didanai sebagai ketua.
  2. Kebijakan Article Processing Charge (APC): Saat ini belum ada dana terpusat untuk menanggung APC jurnal Open Access karena estimasi biaya yang sangat tinggi. Biaya dibebankan pada anggaran riset.
  3. Konsekuensi “Utang” Luaran: Nilai proposal tahun ini akan dikurangi bagi peneliti yang belum menyelesaikan luaran publikasi dari hibah tahun sebelumnya.

Untuk mendukung tercapainya target publikasi, ITB juga meluncurkan CERDAS, sebuah fasilitas klinik penulisan (coaching clinic) dan co-working space untuk mendampingi dosen dan mahasiswa S3 dalam memfinalisasi draf artikel ilmiah hingga siap submit.

Kontributor: Aura Salsabila Alviona