DRI ITB Matangkan Penyusunan Technological Outlook Melalui Rangkaian Wawancara Pakar
Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali menggelar rangkaian wawancara mendalam dengan para dosen dan pakar ITB guna mematangkan penyusunan buku Technological Outlook. Rangkaian wawancara lanjutan ini berlangsung sejak 23 hingga 27 Februari 2026, dengan fokus pada pemetaan serta proyeksi teknologi di lima sektor strategis nasional, yaitu kesehatan, maritim, pangan, antariksa, dan pendidikan.
Sektor Antariksa (26/02/26): Prof. Dr. Taufiq Hidayat, D.E.A. (FMIPA)
Pada sesi wawancara hari Kamis (26/2/2026), pemetaan difokuskan pada sektor antariksa bersama Prof. Dr. Taufiq Hidayat, D.E.A. dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), yang juga menjabat sebagai Ketua Pusat Sains dan Teknologi Inovasi Antariksa (PSTIA) ITB. Secara lugas, Prof. Taufiq memaparkan bahwa strategi utama pengembangan teknologi antariksa ITB berporos pada pendekatan riset multidisiplin dan kolaborasi internasional, mengingat tingginya skala dan biaya dalam industri ini.
Alih-alih berfokus pada pembangunan infrastruktur masif seperti roket secara mandiri, ITB memilih untuk berkontribusi pada pengembangan teknologi spesifik dan purwarupa yang relevan. Beberapa fokus riset unggulan yang tengah dirintis meliputi pembuatan satelit mini (cubesat) yang terjangkau untuk pemantauan atmosfer dan kebakaran hutan di Indonesia, perancangan rover geologis untuk eksplorasi bulan, hingga riset space biology yang meneliti viabilitas tanaman tropis di luar angkasa. Selain itu, ITB juga mematangkan kolaborasi global, salah satunya melalui partisipasi instrumen teleskop (VLBI Global Observing System/VGOS) dalam pemantauan navigasi program pendaratan bulan Chang’e bersama Tiongkok, serta pengembangan teknologi satelit kuantum.
Terkait tingkat kesiapan ekosistem (ecosystem readiness), Prof. Taufiq memproyeksikan kesiapan teknologi antariksa ITB saat ini berada di skala 6 dari 10. Meski dukungan regulasi dan kebijakan di tingkat nasional masih terbilang rendah (skor 3), tingkat penerimaan sosial terhadap visi ini sudah tergolong baik (skor 7). Keunggulan lainnya terletak pada aspek kelestarian lingkungan hidup, di mana pengembangan inovasi antariksa ini memiliki risiko pencemaran yang sangat minim terhadap bumi (skor 8).

Sektor Maritim (27/02/26) : Prof. Ir. Muslim Muin, M.SOE, Ph.D (FTSL) dan Prof Ir. Andojo Wurjanto, MCE, Ph.D. (FTSL)
Pada sesi pemetaan sektor maritim, diskusi menyoroti krusialnya peran kepakaran pemodelan (modeling) terapan dan kemandirian engineering software.
Prof. Andojo Wurjanto menekankan bahwa keunggulan utama ITB berada pada kepakaran sumber daya manusianya dalam memecahkan masalah infrastruktur riil, seperti desain pelabuhan dan analisis hidrodinamika untuk penempatan tailing laut dalam, meskipun pengembangan ini sering kali terkendala oleh minimnya data primer nasional dan keterbatasan akses komputasi tingkat tinggi (supercomputer).
Di sisi lain, Prof. Muslim Muin menggarisbawahi urgensi pengembangan software buatan dalam negeri agar praktisi dan akademisi tidak terus bergantung pada teknologi asing. Terkait proyeksi teknologi ke depan, Prof. Muslim merekomendasikan ITB untuk mulai melirik pengembangan sistem pertahanan bawah laut (underwater defense systems), seperti drone laut dan teknologi sonar/akustik kelautan, mengingat pemanfaatan energi terbarukan dari gelombang laut dinilai masih belum ekonomis untuk karakteristik perairan Indonesia saat ini.
Secara garis besar, kedua pakar sepakat bahwa riset di bidang maritim harus direalisasikan menjadi karya atau solusi yang aplikatif bagi industri dan negara.

Kontributor: Nada Raudah Mumtazah
Foto: Saffa Zahirah