Enter your keyword

DRI ITB Matangkan Strategi Riset Vaksin, Bioteknologi, dan Farmasi Bersama Peneliti Lintas Fakultas

DRI ITB Matangkan Strategi Riset Vaksin, Bioteknologi, dan Farmasi Bersama Peneliti Lintas Fakultas

DRI ITB Matangkan Strategi Riset Vaksin, Bioteknologi, dan Farmasi Bersama Peneliti Lintas Fakultas

Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) kembali menggelar rapat lanjutan pembahasan riset vaksin, bioteknologi, dan farmasi di Ruang Rapat A, lantai 6 Gedung CRCS, Jalan Ganesha No. 10, Kampus ITB, Bandung. Pertemuan yang berlangsung pukul 10.00–12.00 WIB ini digelar secara hybrid, memadukan kehadiran langsung dan partisipasi daring melalui Zoom.

Rapat dipimpin oleh Direktur Riset dan Inovasi ITB, Prof. Dr. apt. Elfahmi, S.Si., M.Si., dan dihadiri oleh para dosen dan peneliti lintas fakultas dan sekolah, antara lain:
Ir. V. Sri Harjati Suhardi, Ph.D. (PPBB), Prof. Dessy Natalia, Ph.D. (FMIPA ITB), Dr. rer. nat. Didin Mujahidin, M.Si. (FMIPA), Dr. rer. nat. apt. Catur Riani, S.Si., M.Si. (Sekolah Farmasi), Dr. apt. Amirah Adlia, S.Si., M.Si. (Sekolah Farmasi ITB), Dr. apt. Aluicia Anita Artarini, S.Si., M.Sc. (Sekolah Farmasi ITB), Prof. Dr. rer. nat. Marselina Irasonia Tan, M.S. (SITH ITB), Falah Azizah Elmaria (FTI ITB), Evan Fajri Mulia Harahap (FTI ITB), Prof. Fenny Martha Dwivany, S.Si., M.Si., Ph.D. (SITH ITB), dan Ernawati Arifin Giri-Rachman, M.Si., Ph.D. (SITH ITB).  Turut bergabung secara daring Husna Nugrahapraja, S.Si., M.Si., Ph.D. (SITH ITB).

Rapat ini merupakan kelanjutan dari pertemuan-pertemuan sebelumnya yang telah membahas penguatan ekosistem riset vaksin di ITB dan peluang kolaborasi dengan mitra industri strategis.

Memperkuat Sinergi Penelitian dan Industri Farmasi

Dalam diskusi, para peserta menekankan pentingnya membangun pola kemitraan yang lebih strategis dengan industri farmasi nasional, khususnya perusahaan berskala besar yang saat ini menjadi pemain utama dalam produksi vaksin.

Rapat mengidentifikasi beberapa karakteristik penting mitra industri, di antaranya:

  • Fokus perusahaan pada skala produksi besar pasca transfer teknologi vaksin COVID-19. Perusahaan hanya bersedia bermitra jika riset di tingkat laboratorium sudah terbukti pada skala kecil.
  • Kecenderungan penggunaan dana pemerintah untuk riset awal, sehingga universitas perlu hadir dengan riset yang sudah matang dan siap dialih-teknologikan.
  • Kebutuhan industri terhadap vaksin terapi, yang saat ini dinilai lebih mendesak dibandingkan vaksin preventif, serta pencarian alternatif komponen Starting In-Process (SIP) yang dapat dikembangkan oleh perguruan tinggi.

Dalam konteks global, peserta rapat juga menyoroti pengalaman Indonesia yang sempat berpeluang menjadi hub vaksin mRNA dunia melalui perusahaan farmasi milik negara, namun kemudian posisi tersebut bergeser ke negara lain di Afrika Selatan karena iklim riset di Indonesia dinilai belum cukup kuat. Hal ini menjadi pembelajaran penting bagi ITB untuk memperbaiki tata kelola dan ekosistem hilirisasi riset.

Strategi Riset: Vaksin Dengue, Hepatitis, dan Lipid Nanoparticle

ITB merumuskan strategi riset yang lebih fokus dan kompetitif, terutama pada:

  • Pengembangan vaksin Dengue dan Hepatitis, sebagai dua penyakit dengan urgensi tinggi di Indonesia.
  • Pengembangan formulasi pendukung berbasis Lipid Nanoparticle (LNP), yang menjadi komponen kunci pembawa (delivery system) dalam teknologi vaksin modern.

Dalam skema ini, ITB menempatkan diri pada penguatan sintesis komponen kunci dan pengembangan LNP Library untuk kepentingan screening kandidat terbaik. Kegiatan screening diperkirakan memerlukan anggaran sekitar Rp 2–3 miliar, khusus untuk tahap seleksi formulasi.

Untuk mempercepat kemajuan, diusulkan pembentukan konsorsium riset nasional bersama perguruan tinggi lain guna menguji beberapa kandidat vaksin Dengue secara paralel. Harapannya, kandidat terbaik dari konsorsium ini dapat mendapatkan dukungan penuh pemerintah melalui pendanaan khusus.

Pendanaan riset direncanakan akan diupayakan dari berbagai skema, antara lain:

  • Skema top-down LPDP,
  • Skema RIKUP,
  • Serta peluang program hilirisasi dari Kemdikbudristek yang disebutkan akan membuka call for proposal baru pada November 2025.

Model Bisnis dan Komersialisasi: Belajar dari “Artis-like Company”

Selain aspek riset, para peserta rapat sepakat bahwa keberlanjutan program vaksin dan bioteknologi tidak dapat hanya bertumpu pada pendanaan hibah. Diperlukan model bisnis yang terencana, mengacu pada praktik perusahaan riset kecil yang lincah (Artis-like company), dengan beberapa arah strategi:

  • Menciptakan nilai jual melalui optimasi proses bagi industri, misalnya peningkatan efisiensi dan kualitas produksi melalui rekayasa proses dan formulasi.
  • Mengembangkan program pelatihan atau training industri berbayar tinggi, sehingga riset yang dihasilkan di laboratorium dapat dikemas menjadi modul peningkatan kapasitas SDM industri.
  • Memanfaatkan alat dan ruang riset yang saat ini belum terpakai (dormant) di kampus, sehingga investasi peralatan terdahulu dapat dihidupkan kembali dan menghasilkan nilai tambah.
  • Mengupayakan tambahan pendanaan alat dari skema APT tahun 2024 untuk melengkapi fasilitas yang dibutuhkan dalam pengembangan vaksin dan LNP.

Dengan demikian, inovasi yang lahir dari kampus tidak hanya berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi juga menghasilkan aliran pendapatan yang dapat menopang kegiatan riset jangka panjang.

Latar Belakang: Rapat Perdana dan Arah Tindak Lanjut

Rapat lanjutan ini berakar pada pertemuan perdana yang diselenggarakan pada Senin (29/9/2025) di Ruang Rapat A Gedung CRCS lantai 6. Pada rapat pertama tersebut, yang juga berlangsung secara hybrid, DRI ITB melibatkan pimpinan dan peneliti dari berbagai fakultas.

Rapat perdana dihadiri langsung oleh:

  • Dr.Eng. Isty Adhitya Purwasena, S.Si., M.Si. (Deputi Direktur Bidang Inovasi Sains dan Teknologi DRI),
  • Nur Ahmadi, S.T., M.Eng., Ph.D. (Deputi Direktur Bidang Riset dan Diseminasi DRI),
    serta perwakilan fakultas dan sekolah:
  • Prof. Dessy Natalia, Ph.D. (FMIPA),
  • Prof. Dr. rer. nat. Marselina Irasonia Tan, M.S. (SITH),
  • Ernawati Arifin Giri-Rachman, M.Si., Ph.D. (SITH),
  • Dr. rer. nat. apt. Catur Riani, S.Si., M.Si. (Sekolah Farmasi),
  • Dr. rer. nat. Didin Mujahidin, M.Si. (FMIPA),
  • Dr. Eng. Muhammad Iqbal, S.T., M.T. (FTI).

Secara daring, hadir Prof. Dr. apt. Elfahmi, Prof. Fenny Martha Dwivany, dan Husna Nugrahapraja.

Dalam pengantarnya saat itu, Prof. Elfahmi menyampaikan bahwa pertemuan mengenai vaksin ini sudah memasuki pertemuan ketiga bersama tim, sebagai tindak lanjut dari diskusi-diskusi sebelumnya. Agenda utama meliputi:

  • perkembangan status penelitian,
  • identifikasi kendala atau bottleneck,
  • kebutuhan dana dan peralatan,
  • ketersediaan SDM,
  • urgensi kebutuhan masyarakat (market-driven),
  • serta arah riset ke depan (future direction).

Pada sesi diskusi, Dr. Muhammad Iqbal menyoroti banyaknya peluang program dari Kemdikbudristek untuk hilirisasi riset, termasuk adanya ajakan dari pihak industri untuk bersinergi melalui skema call for proposal baru. Sementara itu, Dr. Isty Adhitya Purwasena menekankan pentingnya pemanfaatan peralatan riset secara optimal dan mendorong agar riset di ITB selaras dengan slogan “riset berdampak”—bukan hanya menghasilkan publikasi, tetapi juga mengarah pada hilirisasi, komersialisasi, dan perbaikan desain program pendanaan seperti matching fund.

Menutup rangkaian diskusi, Dr. Isty menegaskan bahwa seluruh masukan telah dihimpun dan akan disampaikan kepada pimpinan ITB untuk dicarikan solusi terbaik, sekaligus menjadi pijakan dalam menyusun roadmap riset vaksin, bioteknologi, dan farmasi ITB yang lebih terarah dan berdaya saing, baik di tingkat nasional maupun global.