Enter your keyword

DRI ITB Sambut Delegasi University of Queensland untuk Perluas Kolaborasi Riset Global dan Program PhD

DRI ITB Sambut Delegasi University of Queensland untuk Perluas Kolaborasi Riset Global dan Program PhD

DRI ITB Sambut Delegasi University of Queensland untuk Perluas Kolaborasi Riset Global dan Program PhD

BANDUNG, dri.itb.ac.id – Dalam upaya berkelanjutan untuk memperkuat jaringan akademik dan riset global, Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) Institut Teknologi Bandung (ITB) menggelar pertemuan strategis dengan delegasi dari Faculty of Science, The University of Queensland (UQ), Australia, pada hari Rabu (22/04/26). Dialog ini berfokus pada penguatan kolaborasi yang saling menguntungkan, optimalisasi komersialisasi riset, serta pengembangan program gelar bersama (joint-degree) yang inovatif.

Delegasi UQ yang hadir antara lain Prof. Avril Robertson selaku Associate Dean Research dan Deputy Executive Dean di Fakultas Sains; Angela Huang; serta Nadia Sarah, Senior Principal Adviser untuk kawasan Asia Tenggara. Rombongan disambut hangat oleh Direktur Riset dan Inovasi ITB, Prof. Dr. apt. Elfahmi, S.Si., M.Si., bersama Nur Ahmadi, S.T., M.Eng., Ph.D., dan perwakilan ITB, Allya P. Koesoema, Dosen Teknik Biomedika ITB.

Dalam diskusi tersebut, Prof. Elfahmi menekankan komitmen ITB untuk mengubah luaran riset menjadi produk yang dapat dikomersialisasikan. Visi ini sangat sejalan dengan latar belakang Prof. Robertson, seorang ahli kimia medisinal bereputasi internasional yang memiliki rekam jejak luar biasa dalam komersialisasi riset. Kesuksesan beliau dalam mendirikan perusahaan spinout bioteknologi, seperti Inflazome yang diakuisisi oleh Roche dalam kesepakatan bernilai fantastis, menjadi tolok ukur yang menginspirasi bagi target komersialisasi ITB.

Salah satu sorotan utama dalam pertemuan ini adalah pembahasan skema “ITB Global Alliance”. Didukung oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), inisiatif ini bertujuan untuk membangun program double-degree PhD dengan format “2+2”. Berbeda dengan beasiswa tradisional, skema ambisius ini dirancang untuk tidak hanya memfasilitasi mobilitas akademik, tetapi juga menyediakan pendanaan riset terintegrasi serta sistem bimbingan bersama (co-supervision) antara pakar ITB dan UQ.

Untuk memastikan kolaborasi ini berjalan efektif, kedua universitas sepakat akan pentingnya interaksi langsung antarpeneliti (researcher-to-researcher). Prof. Elfahmi mengusulkan format workshop matchmaking untuk peneliti atau “speed meeting” secara daring. Pendekatan ini memungkinkan para ilmuwan dari kedua institusi untuk mengadakan diskusi paralel yang terarah guna memunculkan ide-ide riset bersama secara cepat.

Upaya kolaborasi awal akan memprioritaskan bidang-bidang yang menjadi kekuatan kedua belah pihak, di antaranya:

  • Ilmu Bahan Alam (Natural Product Science) dan Kimia
  • Bioteknologi dan Biosains Molekuler
  • Pertanian, Keanekaragaman Hayati, dan Ilmu Kelautan

Bidang-bidang ini dipilih secara strategis agar selaras dengan prioritas nasional “Astacita” Indonesia, guna menjawab tantangan terkait ketahanan manusia, keamanan kesehatan, hingga material maju.

Kunjungan ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk memperpanjang Nota Kesepahaman (MoU) antara ITB dan UQ yang akan berakhir pada bulan Agustus mendatang, membuka jalan bagi kemitraan institusional yang lebih erat dan berdampak luas.

Kontributor: Nada Raudah Mumtazah