Enter your keyword

Energy Transition Summit 2025 di ITB dan lahirnya koalisi baru menuju Indonesia rendah karbon

Energy Transition Summit 2025 di ITB dan lahirnya koalisi baru menuju Indonesia rendah karbon

Energy Transition Summit 2025 di ITB dan lahirnya koalisi baru menuju Indonesia rendah karbon

Aula Timur ITB pada Kamis, 13 November 2025, menjadi ruang pertemuan berbagai gagasan tentang masa depan energi Indonesia. Di sana berkumpul akademisi, perwakilan kementerian, pelaku industri, dan lembaga swadaya masyarakat dalam forum Energy Transition Summit 2025, sebuah ajang yang tidak hanya memperlihatkan kemajuan riset, tetapi juga mempertemukan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan kebijakan publik dan dinamika industri.

Inisiatif ini lahir dari kelompok keahlian dan pusat penelitian di lingkungan ITB yang selama ini berkecimpung dalam isu energi dan ketahanan energi nasional. Alih-alih menjadi konferensi teknis yang semata memaparkan hasil penelitian, summit ini dirancang sebagai ruang dialog strategis untuk merumuskan langkah konkret menuju sistem energi rendah karbon dan mendekatkan Indonesia pada target net zero emission. ITB menempatkan dirinya sebagai simpul intelektual yang menghubungkan kampus, pemerintah, dan sektor produksi dalam satu percakapan yang berkelanjutan.

Sejak awal, Ketua Panitia Pelaksana, Prof. Ir. Tutuka Ariadji, M.Sc., Ph.D., menekankan bahwa transisi energi yang sedang dihadapi Indonesia tidak bisa dipahami sebagai kelanjutan dari perubahanperubahan sebelumnya. Jika dulu pergeseran sumber energi banyak didorong oleh pertimbangan efisiensi dan biaya, kini orientasinya bergeser kepada keberlanjutan dan pengurangan emisi. Dengan kata lain, yang dipertaruhkan bukan sekadar stabilitas pasokan, tetapi juga kualitas lingkungan dan daya saing jangka panjang perekonomian nasional.

Prof. Tutuka juga mengingatkan bahwa rentang waktu transisi ini bukan dalam hitungan tahun, melainkan puluhan tahun. Konsekuensinya, proses tersebut tidak mungkin hanya digerakkan oleh kebijakan pemerintah pusat. Keterlibatan perguruan tinggi, pemerintah daerah, sektor swasta, dan masyarakat sipil menjadi prasyarat agar transisi berjalan terarah, konsisten, dan dapat dikoreksi secara berkala. Summit di Aula Timur ini menjadi salah satu upaya untuk membangun kesadaran bahwa transisi energi adalah tanggung jawab kolektif yang menuntut pengawalan jangka panjang.

Salah satu keluaran penting dari pertemuan ini adalah penyusunan policy brief yang akan disampaikan kepada kementerian dan lembaga terkait, khususnya Kementerian ESDM, Kementerian Keuangan, Kementerian Perindustrian, serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Dokumen tersebut diharapkan menjadi jembatan antara pemikiran akademik dan rancangan kebijakan, dengan tetap memperhatikan realitas fiskal, kebutuhan industri, dan tuntutan mitigasi perubahan iklim. ITB juga berupaya menjadikan Energy Transition Summit sebagai agenda tahunan, sehingga diskursus dan rekomendasi mengenai transisi energi dapat dipantau dan diperbarui secara terstruktur.

Di tengah kuatnya fokus pada teknologi, muncul satu isu yang berulang kali disorot dalam diskusi, yakni kesiapan sumber daya manusia. Dr. Filda Citra Yusgiantoro, Ketua Umum Purnomo Yusgiantoro Center, menggarisbawahi bahwa pembicaraan mengenai panel surya, turbin angin, atau teknologi penyimpanan energi sering kali tidak diimbangi oleh pembahasan sistematis tentang tenaga kerja yang akan mengoperasikan, merawat, dan mengembangkan teknologi tersebut. Menurutnya, ada kesenjangan antara kecepatan perkembangan teknologi energi bersih dan kecepatan adaptasi sistem pendidikan tinggi dan pelatihan vokasi.

Dalam konteks tersebut, perguruan tinggi seperti ITB menghadapi tantangan sekaligus kesempatan. Penguatan kurikulum yang selaras dengan kebutuhan industri energi masa depan menjadi kebutuhan mendesak. Kompetensi teknis di bidang energi terbarukan perlu dipadukan dengan pemahaman atas regulasi, pembiayaan, serta aspek sosial lingkungan. Dr. Filda juga menekankan pentingnya pengembangan standar kompetensi nasional bagi teknisi energi terbarukan, agar tenaga kerja Indonesia memiliki sertifikasi dan pengakuan yang jelas di mata industri, baik di dalam maupun luar negeri.

Namun, tanggung jawab pengembangan sumber daya manusia tidak berhenti di kampus. Kolaborasi yang erat antara universitas, pemerintah, industri, dan lembaga nonpemerintah diperlukan untuk merancang program pelatihan, magang, dan penelitian terapan yang relevan. Tanpa kolaborasi semacam itu, Indonesia berisiko hanya menjadi pengguna teknologi impor tanpa basis keahlian domestik yang memadai untuk mengembangkannya. Summit ini, dengan kehadiran beragam aktor, menjadi contoh bagaimana dialog lintas sektor dapat digunakan untuk merumuskan peta jalan pengembangan SDM energi bersih yang lebih terkoordinasi.

Dimensi lain yang mengemuka dalam pertemuan ini adalah soal diversifikasi sumber energi. Prof. Sanggono Adisasmito, Ketua Kelompok Keahlian Energi dan Teknologi Berkelanjutan ITB, menekankan bahwa kemandirian energi Indonesia tidak dapat digantungkan pada satu jenis sumber energi saja. Di satu sisi, peningkatan pemanfaatan energi baru dan terbarukan merupakan keharusan. Di sisi lain, realitas saat ini masih menempatkan energi fosil sebagai komponen penting dalam bauran energi nasional.

Prof. Sanggono mengajak untuk melihat transisi energi sebagai proses yang berlapis. Peningkatan efisiensi pemanfaatan energi fosil, misalnya melalui teknologi yang lebih bersih, tetap relevan selama masa transisi, sejajar dengan upaya mendorong pemanfaatan energi surya, angin, panas bumi, bioenergi, dan bentuk energi baru lainnya. Di luar itu, ia menawarkan perspektif yang memperluas cakupan pembahasan: limbah dan sampah tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif.

Pemanfaatan sampah sebagai energi, atau integrasi daur ulang dalam sistem produksi, membuka peluang baru bagi riset dan inovasi. Contoh sederhana adalah pengolahan plastik menjadi bahan baku baru, yang sekaligus mengurangi timbunan sampah dan menghemat pemakaian sumber daya alam. Pendekatan seperti ini memerlukan keterlibatan lintas disiplin, dari teknik kimia dan material hingga perencanaan kota dan ekonomi lingkungan. Bagi ITB, ini adalah kesempatan untuk mengintegrasikan riset yang tersebar di berbagai fakultas ke dalam agenda bersama transisi energi nasional.

Melalui Energy Transition Summit 2025, tampak bahwa peran kampus kini bergerak melampaui batas tradisionalnya. Laboratorium dan ruang kuliah tetap menjadi pusat pembelajaran dan inovasi, tetapi Aula Timur pada hari itu menunjukkan fungsi tambahan: kampus sebagai arena pertemuan kepentingan. Data dan model perhitungan dibawa ke meja yang sama dengan pertimbangan fiskal, kepentingan industri, dan aspirasi masyarakat. ITB berupaya memainkan peran sebagai penghubung, yang tidak hanya menghasilkan pengetahuan tetapi juga memastikan pengetahuan tersebut ikut membentuk kebijakan dan praktik.

Dalam kerangka yang lebih luas, summit ini dapat dibaca sebagai upaya ITB untuk mengembangkan tradisi baru dalam keterlibatan akademik. Perguruan tinggi tidak lagi cukup hanya hadir sebagai pengkritik kebijakan dari kejauhan. Ia didorong untuk terlibat dalam proses perumusan, implementasi, hingga evaluasi kebijakan, dengan tetap menjaga integritas ilmiah dan kebebasan akademik. Policy brief yang dihasilkan, rencana menjadikan summit sebagai agenda tahunan, serta penekanan berulang pada pentingnya pandangan jangka panjang, semuanya mengarah pada model peran baru tersebut.

Perjalanan menuju net zero emission dan sistem energi rendah karbon tentu akan diwarnai dinamika politik, ekonomi, dan teknologi yang tidak selalu mudah diprediksi. Namun, pertemuan seperti Energy Transition Summit 2025 memberikan satu landasan penting, yaitu kesepakatan bahwa transisi energi bukan sekadar proyek teknis, melainkan transformasi struktural yang memerlukan pengetahuan yang kuat, koordinasi yang rapi, dan komitmen yang berkelanjutan.

ITB, melalui peran aktif dalam menginisiasi dan menyelenggarakan forum seperti ini, menunjukkan kesiapannya untuk ikut mengawal transformasi tersebut. Dari Aula Timur, gagasan tentang energi, keberlanjutan, dan keadilan sosial dirangkai menjadi peta jalan awal. Tantangan ke depan adalah memastikan bahwa peta jalan itu terus diperbarui, diuji dengan data dan pengalaman, dan yang terpenting, diterjemahkan dalam kebijakan yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.

*Artikel ini diadaptasi dari berita Pikiran Rakyat berjudul “Melalui Energy Transition Summit 2025, ITB Dorong Kolaborasi Nasional Hadapi Tantangan Transisi Energi”

Foto: Dok. ITB / Pikiran Rakyat.

Simpul 3P Vol. 31 Edisi November 2025, halaman 5
Penanggung Jawab: Prof. Dr. apt. Elfahmi, S.Si., M.Si. Dr. Ir. Grandprix Thomryes Marth Kadja, M.Si.
Editor: Efson Thrismono, S.ST, M.Pd.
Creative Lead: Nadia Falasiva
Kontributor: Noviyanti, A.Md., S.M.; Inda Meidian, S.Kom.

Berita Terkait:

  1. jabar.pikiran-rakyat.com: Melalui Energy Transition Summit 2025, ITB Dorong Kolaborasi Nasional Hadapi Tantangan Transisi Energi