Ganesha sebagai Pusat Inovasi Energi Bersih: FTMD–PPEBT ITB Bangun Konsorsium Global TEPIC
Melalui kerja sama stratgis dengan Tsinghua University dan PT Datong Jaya Indonesia serta penyelenggaraan 91st IEA-FBC TCP Meeting, ITB memosisikan Kampus Ganesha sebagai simpul utama kolaborasi riset, industri, dan diplomasi energi dunia.
Suasana di Multipurpose Hall CRCS ITB Kampus Ganesha pada Jumat pagi, 14 November 2025, terasa berbeda. Di antara deretan delegasi asing bersetelan jas dan akademisi yang sibuk bertukar gagasan, tiga nama penting duduk di meja utama, menandatangani sebuah dokumen yang bisa mengubah peta kolaborasi energi di Indonesia. Di hadapan Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB resmi menggandeng Department of Thermal Engineering Tsinghua University dan PT Datong Jaya Indonesia untuk membentuk sebuah konsorsium baru: Thermal Power Innovation Consortium (TEPIC). Penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) oleh Dekan FTMD ITB, Prof. Dr. Ir. Hermawan Judawisastra, M.Eng.; Prof. Hairui Yang sebagai delegasi Tsinghua University; dan Mr. Wan Ping mewakili PT Datong Jaya Indonesia, bukan sekadar seremoni formal di sela agenda konferensi internasional. MoA ini menjadi pernyataan bersama bahwa riset dan teknologi pembangkitan daya tidak lagi bisa berdiri sendiri di ruang laboratorium, melainkan harus berjalan beriringan dengan industri dan jejaring global jika ingin memberi dampak nyata bagi transisi energi di Indonesia.
TEPIC dirancang sebagai wadah kolaborasi yang memadukan tiga kekuatan utama: kapasitas akademik FTMD ITB, reputasi riset kelas dunia Tsinghua University, dan pengalaman industri PT Datong Jaya Indonesia. Melalui konsorsium ini, ketiga pihak sepakat mengembangkan riset bersama di bidang teknologi pembangkitan energi, mempercepat pengembangan dan adopsi teknologi baru, memperluas program transfer pengetahuan dan pelatihan, membuka mobilitas akademik lintas negara, serta mengawal hilirisasi hasil riset agar bisa diimplementasikan langsung dalam proses produksi dan pengembangan pembangkit. Bagi FTMD, TEPIC bukan hanya soal membuka peluang riset internasional, tetapi juga menyediakan jalur konkret bagi mahasiswa dan peneliti untuk masuk ke ekosistem inovasi global.
Akses terhadap platform riset bersama, laboratorium mitra, dan jejaring industri internasional memberi konteks baru dalam pembelajaran: mahasiswa tidak lagi sekadar mengerjakan tugas akhir atau riset di ruang tertutup, tetapi bisa melihat bagaimana ide-ide yang mereka kembangkan berpotensi menjelma menjadi teknologi yang dipakai di lapangan. Di sisi lain, industri seperti PT Datong Jaya Indonesia memperoleh kanal langsung untuk menyerap inovasi yang matang secara ilmiah dan siap diuji dalam skala nyata. Momentum penandatanganan TEPIC ini hadir di tengah berlangsungnya sebuah forum energi internasional bergengsi: 91st International Energy Agency – Fluidized Bed Conversion Technology Collaboration Programme (IEA-FBC TCP) Meeting, yang diselenggarakan oleh FTMD dan Pusat Penelitian Energi Baru dan Terbarukan (PPEBT) ITB pada 14–17 November 2025 di Kampus ITB Ganesha. Dengan tema “Biomass Utilization: Challenges and Solutions”, pertemuan ini menghimpun lebih dari 90 peserta dari sepuluh negara, mulai dari Tiongkok, Jepang, Finlandia, Italia, Estonia, Kazakhstan, Kanada, Republik Ceko, Swedia, hingga Indonesia sebagai tuan rumah.
Inisiatif untuk menjadi tuan rumah pertemuan ke-91 ini sebenarnya sudah dirintis sejak April 2025, ketika delegasi PPEBT dan FTMD ITB menghadiri pertemuan IEA-FBC TCP di Nanjing, Tiongkok. Saat itu, ITB menyatakan ketertarikan untuk terlibat lebih aktif dalam jaringan tersebut dan mengajukan diri sebagai penyelenggara pertemuan berikutnya. Langkah itu bukan sekadar ekspresi antusiasme, tetapi juga strategi: Indonesia belum pernah memiliki representasi tetap dalam jaringan IEA-FBC TCP. Dengan menjadi tuan rumah, ITB membuka peluang untuk menjadi wakil resmi pertama dan satusatunya dari Indonesia di forum kerja sama teknologi energi yang strategis ini. Selama empat hari, ruangruang di ITB diisi oleh presentasi teknis, diskusi intensif, dan pertukaran ide yang berfokus pada inovasi energi bersih serta teknologi pembangkitan daya.
Salah satu topik kunci yang mengemuka adalah pengembangan teknologi Circulating Fluidized Bed (CFB), sistem pembakaran biomassa dan batubara peringkat rendah yang menawarkan emisi lebih rendah dan fleksibilitas tinggi. Teknologi CFB dinilai sangat relevan bagi Indonesia: negara dengan sumber daya biomassa melimpah, kebutuhan energi yang terus meningkat, dan komitmen menuju target Net Zero Emission (NZE) pada 2060. Perwakilan dari berbagai aktor strategis di sektor energi nasional—seperti PT PLN, PT Riau Andalan Pulp and Paper, dan PT Cikarang Listrindo—ikut berbagi pengalaman dan tantangan dalam penerapan teknologi rendah emisi.
Di antara para pembicara, nama Prof. Emeritus Bo G. Leckner dari Chalmers University of Technology, Swedia, menjadi salah satu yang paling banyak menyita perhatian. Sebagai pakar dunia di bidang teknologi pembakaran dan fluidized bed, kehadirannya membawa perspektif panjang perjalanan teknologi ini dari masa riset awal hingga penerapan di berbagai negara.
Di balik rangkaian acara yang padat, terdapat kerja panjang yang digerakkan oleh tim ITB. Ide besar penyelenggaraan forum ini digagas oleh Ketua PPEBT ITB, Prof. Ir. Ari Darmawan Pasek, Ph.D., dan diketuai oleh Dr.Eng. Firman Bagja Juangsa, S.T., M.Eng. Mereka didukung oleh tim pelaksana yang terdiri atas Dr.Eng. Gea Fardias Mumin, Ilman Nuran Zaini, S.T., M.Eng., Ph.D., Ir. Poetro Lebdo Sambegoro, M.Sc., Ph.D., serta perwakilan PT Datong Jaya Indonesia, Bayu Aji Prakoso, MBA. Di tangan merekalah, forum ini dirangkai bukan hanya sebagai agenda akademik, tetapi juga sebagai jembatan strategis menuju kolaborasi riset dan industri.
Dimensi forum ini pun melampaui ruang sidang dan laboratorium. Para peserta diajak mengenal sisi lain Indonesia melalui kunjungan ke Saung Angklung Udjo, menikmati lanskap Kawah Putih di Ciwidey, serta tur teknis ke pembangkit listrik berbasis CFB di PLTU Babelan milik PT Cikarang Listrindo. Kombinasi antara diskusi ilmiah, kunjungan industri, dan pengalaman budaya menciptakan nuansa diplomasi akademik yang hangat: Indonesia tampil bukan hanya sebagai negara berkembang yang membutuhkan teknologi, tetapi juga sebagai mitra yang siap berkontribusi ide, riset, dan inisiatif.
Di tengah kepadatan agenda itu, harapan jangka panjang untuk peran ITB di kancah global berulang kali mengemuka. “Harapan kami, ITB melalui FTMD dan PPEBT dapat menjadi anggota permanen IEA-FBC TCP. Forum ini adalah pintu pembuka menuju jejaring global teknologi energi. Jika ITB bisa menjadi wakil resmi Indonesia, dampaknya tidak hanya untuk kampus, tetapi juga ekosistem energi nasional,” ujar Dr. Gea Fardias Mumin. Ia menekankan bahwa kolaborasi seperti ini tidak boleh berhenti pada tataran wacana: “Kolaborasi harus terus berlanjut agar riset kita dapat bergerak menuju implementasi nyata—menjawab kebutuhan energi, industri, dan masyarakat.”
Bila dirangkai dalam satu garis besar, penandatanganan MoA TEPIC dan penyelenggaraan 91st IEA-FBC TCP Meeting memperlihatkan arah baru yang sedang ditempuh FTMD ITB: menjadi simpul yang menghubungkan kampus, industri, dan jejaring internasional dalam isu strategis energi. Melalui TEPIC, pengembangan teknologi pembangkitan daya diarahkan untuk lebih dekat dengan kebutuhan industri dan agenda nasional menuju NZE 2060. Melalui IEA-FBC TCP, ITB menempatkan diri dalam arus utama diskursus global tentang teknologi energi bersih.
Bagi mahasiswa, peneliti, dan sivitas akademika ITB, dua momentum ini adalah undangan terbuka untuk melihat riset bukan lagi sebagai aktivitas yang berhenti di jurnal atau laporan akhir, tetapi sebagai bagian dari ekosistem yang lebih besar: ekosistem yang menuntut keberanian berinovasi, kemampuan berkolaborasi lintas batas, dan komitmen agar ilmu pengetahuan berujung pada manfaat nyata bagi masyarakat. Dan dari Kampus Ganesha, di tengah diskusi tentang biomassa, CFB, dan dekarbonisasi, ITB sedang menegosiasikan tempatnya di peta energi dunia bukan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai salah satu pemain yang ingin ikut menentukan arah. (DRI ITB)
Berita Pusat: Pusat Penelitian Energi Baru dan Terbarukan (PPEBT)
Ganesha sebagai Pusat Inovasi Energi Bersih: FTMD–PPEBT ITB Bangun Konsorsium Global TEPIC
Simpul 3P Vol. 31 Edisi November 2025, halaman 1
Penanggung Jawab: Prof. Dr. apt. Elfahmi, S.Si., M.Si.; Dr. Ir. Grandprix Thomryes Marth Kadja, M.Si.
Editor: Efson Thrismono, S.ST, M.Pd.
Creative Lead: Nadia Falasiva
Kontributor: Noviyanti, A.Md., S.M.; Inda Meidian, S.Kom.
Berita Terkait:
- itb.ac.id: FTMD-PPEBT ITB Gelar Pertemuan Internasional IEA-FBC TCP ke-91: Dorong Inovasi Energi Bersih dan Hilirisasi Riset Global
- ftmd.itb.ac.id: FTMD ITB Gandeng Tsinghua University dan PT Datong Jaya Indonesia dalam Pengembangan Teknologi Energi Inovatif
- listrikindonesia.com: Kolaborasi ITB–Tsinghua–Datong Jaya Lahirkan Konsorsium Riset Energi Baru
