GEOLINI: Seismograf Canggih Karya FTTM ITB
BANDUNG, dri.itb.ac.id – Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali melaksanakan rangkaian kunjungan (site visit) kepada para penerima dana Program Inovasi Unggul Berdampak Tahun 2025. Pada Rabu (11/2/2026), tim DRI menyambangi Laboratorium Inovasi Vulkanologi dan Panas Bumi yang berlokasi di Labtek XI Lantai 1, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM) ITB.
Kunjungan ini bertujuan meninjau kemajuan riset yang dipimpin oleh Dr. Ir. Zulfakriza, S.Si., M.T. dengan topik berjudul “GEOLINI: Seismograf Modular Berbasis Inovasi Dalam Negeri yang Berdampak pada Penelitian dan Pendidikan Kegempaan di Indonesia”. Riset ini menjadi bukti nyata kontribusi akademisi ITB dalam menjawab tantangan kemandirian teknologi nasional di bidang kebencanaan.
Pengembangan Geolini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa Indonesia masih sangat bergantung pada alat ukur gempa buatan luar negeri. Dr. Zulfakriza mengungkapkan bahwa laboratorium riset selama ini sangat bergantung pada seismometer impor untuk pengambilan data.
“Selama ini kita menggunakan produk-produk luar negeri. Sehingga kami dari Lab Vulkanologi mencoba untuk mengembangkan seismometer produk dalam negeri untuk kemandirian teknologi,” ujar Dr. Zulfakriza.
Inisiasi proyek ini bermula pada tahun 2020 saat pandemi COVID-19 dan kini telah memasuki tahun kelima. Rekan peneliti, Prof. Dr. Andri Dian Nugraha, S.Si., M.Si., menambahkan bahwa pengembangan dimulai dari tahap prototype sederhana hingga kini mencapai skala yang siap untuk produksi massal.
Mengenal Geolini: Seismograf Canggih Karya Anak Bangsa
Nama Geolini berasal dari gabungan kata “Geo” (Bumi) dan “Lini” (bahasa Sunda untuk Gempa), yang dirancang sebagai “Seismograf Ganesha untuk Bangsa”. Saat ini, alat tersebut telah mencapai pengembangan Versi 2 yang jauh lebih canggih.
Jika versi sebelumnya masih mengandalkan konektivitas kabel, Versi 2 telah bertransformasi menjadi nirkabel (wireless) dan menerapkan prinsip Internet of Things (IoT). Fitur ini memungkinkan para peneliti untuk memantau data kegempaan secara langsung (real-time) dari jarak jauh.
Secara teknis, Geolini bekerja melalui sistem yang terintegrasi. Tiga sensor geophone menangkap getaran tanah, yang kemudian sinyalnya diubah menjadi data digital oleh digitizer—sebuah papan elektronik (electronic board) yang dikembangkan sendiri oleh tim peneliti.
“Fungsi digitizer ini adalah mengubah sinyal analog menjadi sinyal digital serta mengatur sistem waktu menggunakan GPS. Data yang telah diolah kemudian dikirimkan secara nirkabel melalui modul komunikasi dan antena,” jelas Dr. Zulfakriza.
Sensitivitas Tinggi: Mampu Deteksi Gempa Hingga Filipina
Kehebatan teknologi ini telah terbukti melalui serangkaian uji validasi. Pengujian awal dilakukan di stasiun seismograf Teknik Geofisika Kampus Jatinangor dengan menyandingkannya bersama alat buatan luar negeri. Hasilnya menunjukkan rekaman gelombang gempa yang konsisten dan setara dengan brand asing.
Salah satu bukti keunggulan utama Geolini adalah sensitivitasnya yang tinggi. Saat ditempatkan di Jatinangor, alat ini berhasil menangkap sinyal gempa yang berpusat jauh di Filipina. Dr. Zulfakriza memperlihatkan data seismogram yang menangkap dua fase vital gempa: gelombang P (Primer) yang tiba lebih awal dan gelombang S (Sekunder) yang menyusul.
“Terlihat bahwa konsistensi rekaman pas kejadian gempa, fase gelombang P dan fase gelombang S untuk alat yang kita kembangkan, Geolini, dan brand yang lain itu konsisten merekam,” tegas Zulfakriza menunjukkan bukti data rekaman.
Kolaborasi Dosen dan Mahasiswa Lintas Jenjang
Keberhasilan pengembangan Geolini tidak lepas dari kerja sama antara dosen dan mahasiswa lintas jenjang di Teknik Geofisika ITB. Aditya Lesmana (Mahasiswa S3) bersama Piero Epan (Mahasiswa S2) berperan penting dalam pengambilan data lapangan dan pemasangan stasiun seismik temporer.
Sementara itu, proses Quality Control (QC) dan preparasi data dipercayakan kepada tim analis yang terdiri dari Vera Basyifa (Mahasiswa S3) dan Colin Seima (Mahasiswa S1).
“Peran kami adalah melakukan QC terhadap data yang diambil dari lapangan untuk selanjutnya diolah agar kita bisa melihat hasilnya seperti apa,” jelas Vera.
Harapan Masa Depan Untuk Kemandirian Teknologi Nasional.
Kehadiran Geolini diharapkan memberikan manfaat luas, tidak hanya sebagai simbol kemandirian alat, tetapi juga untuk menunjang kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat di Indonesia. Selain itu, kolaborasi dengan mitra industri juga telah terjalin untuk mempercepat hilirisasi produk ini.
Tim peneliti menyampaikan apresiasi kepada DRI yang telah mendukung pendanaan pada tahun 2025, serta LPPM yang memberikan dukungan pada tahun-tahun sebelumnya. Harapannya, Geolini dapat segera diproduksi secara massal dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri dalam pemantauan aktivitas kegempaan.
Kontributor: Aura Salsabila Alviona
