Enter your keyword

Inovasi SITH ITB: Purwarupa Ektoin dari Virgibacillus salarius untuk Kemandirian Industri Kesehatan dan Kosmetik

Inovasi SITH ITB: Purwarupa Ektoin dari Virgibacillus salarius untuk Kemandirian Industri Kesehatan dan Kosmetik

Inovasi SITH ITB: Purwarupa Ektoin dari Virgibacillus salarius untuk Kemandirian Industri Kesehatan dan Kosmetik

BANDUNG, dri.itb.ac.id – Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) ITB kembali melakukan kegiatan kunjungan (site visit) dalam rangka monitoring para penerima dana Program Inovasi Unggul Berdampak Tahun 2025. Pada Jumat (13/3/26), kunjungan dilakukan ke Laboratorium Instrumentasi Terpadu, Labtek XI, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH).

Fokus kunjungan kali ini adalah riset inovatif yang dipimpin oleh Prof. Fenny Martha Dwivany, Ph.D., bersama Husna Nugrahapraja, Ph.D., dari Kelompok Keahlian Genetika dan Bioteknologi Molekuler SITH. Tim peneliti ini berhasil mengembangkan purwarupa Ektoin dari bakteri Virgibacillus salarius sebagai senyawa penanda (marker) murni untuk mengurangi ketergantungan impor.

Tantangan Ektoin dan Ketergantungan Impor

Pengembangan inovasi ini berawal dari keprihatinan atas kondisi Indonesia yang masih sangat bergantung pada ektoin impor untuk industri kesehatan dan kosmetik. Ektoin sangat dicari karena sifatnya sebagai osmoprotektan, yakni senyawa yang mampu melindungi sel dan molekul dari kondisi ekstrem seperti suhu tinggi, radiasi sinar UV, hingga kadar garam tinggi.

“Selama ini, produksi ektoin dari bakteri aslinya (wild type) membutuhkan kadar garam yang sangat tinggi. Jika diproduksi dalam skala besar menggunakan bioreaktor industri, hal ini akan memicu korosi parah pada peralatan,” jelas Prof. Fenny.

Untuk mengatasi kendala tersebut, tim peneliti menggunakan pendekatan Smart Exploration dan Smart Exploitation. Mereka mengeksplorasi biodiversitas laut Indonesia, tepatnya koral lunak dari Karimun Jawa, untuk mengisolasi senyawa potensial dari bakteri Virgibacillus salarius. Alih-alih mengambil sumber daya alam secara masif, tim hanya mengambil informasi genetik dari bakteri simbion koral lunak melalui metode genome mining.

Gen penghasil ektoin tersebut kemudian dipindahkan ke inang bakteri Escherichia coli melalui teknologi biologi sintetik. Hasilnya, produksi ektoin di inang baru ini mampu meningkat hingga 130 kali lipat dibandingkan bakteri aslinya, tanpa memerlukan kadar garam tinggi yang merusak alat.

Kualitas Dunia dengan Harga Kompetitif

Keunggulan purwarupa ini tidak hanya pada kuantitas, tetapi juga kualitas. Produk ektoin murni yang dihasilkan tim SITH ITB telah teruji setara dengan standar komersial luar negeri yang harganya mencapai Rp6 juta per 25 miligram. Kemandirian ini memungkinkan ITB dan Indonesia memiliki senyawa standar sendiri tanpa harus mengimpor dari negara lainnya.

Riset ini juga menjadi ruang kolaborasi multidisiplin yang melibatkan mahasiswa. Tsastyani Dipananda (S1 Biologi 2022) berperan dalam analisis ekspresi gen dan optimasi produksi kultur ektoin menggunakan instrumen mutakhir seperti RT-qPCR dan HPLC. Sementara itu, Denise Luna Liem (S1 Biologi 2022) berkontribusi dalam pemetaan klaster gen biosintetik menggunakan perangkat lunak AntiSMASH untuk mendeteksi potensi senyawa lainnya.

Masa Depan: Diversifikasi dan Hilirisasi

Proyek ini tidak berhenti pada ektoin. Dr. Husna menekankan bahwa potensi biodiversitas Indonesia sangat luas. “Kami juga tengah melihat potensi pengembangan komponen bernilai tinggi lainnya seperti Vitamin B12 dan Squalene,” ungkapnya.

Saat ini, akselerasi menuju komersialisasi skala besar tengah dijalankan melalui kolaborasi erat antara SITH ITB, Pusat Penelitian Biosains dan Bioteknologi ITB, peneliti BRIN, serta mitra industri PT EBM Scitech.

“Harapan kami, teknologi ini memungkinkan eksplorasi kekayaan alam Indonesia dilakukan dengan lebih bijak. Dari hasil genome mining, informasi genetik dari bakteri laut dapat dimanfaatkan untuk produksi senyawa dengan pendekatan biologi sintetik, sehingga bioindustri Indonesia dapat dikembangkan  tanpa mengganggu ekosistem alami,” pungkas Prof. Fenny.

 

Kontributor: Aura Salsabila Alviona