ITB dan Kemenkeu Bersinergi Wujudkan Pusat Riset Pembiayaan Risiko Bencana (DRF)
Bandung – Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) Institut Teknologi Bandung (ITB) menerima kunjungan delegasi dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu) pada Kamis, 2 Oktober 2025. Pertemuan yang berlangsung di Ruang Rapat B, Gedung CRCS lantai 6, mulai pukul 08.00 WIB ini membahas diskusi awal mengenai tindak lanjut riset Pembiayaan Risiko Bencana (Disaster Risk Financing/DRF).
Mandat Riset dan Pendanaan World Bank
Kunjungan Kemenkeu ini bertujuan untuk menjalankan mandat dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) guna membangun Pusat Riset terkait Disaster Risk Financing di kampus ITB, sebuah proyek yang didanai oleh World Bank dan telah berlangsung sejak tahun 2021. Riset awal LPDP ini kini dilanjutkan dengan pendanaan dari World Bank hingga akhir tahun 2025.
Pertemuan ini melibatkan perwakilan dari Kemenkeu dan para akademisi ITB, termasuk KK Statistika (Aktuaria) ITB, Pusat Penelitian Mitigasi Bencana (PPMB) ITB, dan DRI ITB.

Pembentukan Center DRF di ITB
Roki Gangsar Winoto, Directorate General of Financing and Risk Management Kemenkeu, menyampaikan apresiasi kepada DRI ITB. Ia menjelaskan bahwa rapat tersebut membahas rencana pengusulan pembentukan Center DRF di Indonesia, yang direncanakan dikembangkan di ITB.
“Center itu dimungkinkan dengan dua pendekatan, dari Pusat Penelitian atau Pusat saja,” ujar Roki Gangsar Winoto. “Nanti dari pihak pengusul Tim Prof. Dr. Irwan Meilano, S.T., M.Sc. akan menyusun proposal, apakah nanti metodenya sendiri atau berbagi ke center yang sudah ada.”

Dukungan Aktuaria dan Pengelolaan Dana Bencana
Dalam diskusi tersebut, para akademisi ITB memberikan pandangan tentang pentingnya pusat riset ini. Prof. Udjianna Sekteria Pasaribu, Ph.D., dari Kelompok Keahlian (KK) Statistika (Aktuaria) FMIPA ITB, menyoroti aspek perhitungan keuangan dalam kebencanaan.
“Kebencanaan itu dihitung sampai keuangannya karena ini harusnya menjadi tanggung jawab pemerintah, industri, dan masyarakat,” jelas Prof. Udjianna. Ia menjelaskan peran KK Statistika dalam membantu menemukan model, seperti perhitungan premi, untuk memastikan ketersediaan dana bencana yang memadai.
Menurutnya, meski dana yang terkumpul di Kemenkeu saat ini cukup besar, jumlah tersebut tidak akan mencukupi ketika terjadi bencana besar (katastrofi). “Sehingga perlu pengalokasian di mana supaya dana itu bisa berkembang,” tambahnya, menekankan perlunya pelibatan masyarakat, terutama untuk risiko properti pribadi, agar beban pemerintah tidak terlalu besar.
Sementara itu, Dr. Ir. Zulfakriza, S.Si., M.T., dari PPMB ITB, menegaskan bahwa keberlanjutan riset RISPRO LPDP ini bertujuan untuk membuat Pusat yang nantinya mengakomodasi kegiatan-kegiatan Risk Financing.
“Tentunya di ITB kita sudah harus ada PPMB. Nanti apakah di bawah PPMB atau berdiri sendiri,” kata Dr. Zulfakriza. “Pada prinsipnya PPMB akan mendukung berdiri sendiri dan juga mendukung kalau seandainya berada di bawah PPMB. Itu tentu menjadi diskusi antara tim peneliti dan PPMB, salah satu poin penting untuk menjaga keberlanjutan riset yang sudah terlaksana sejak tahun 2021.”

Delegasi yang Hadir
Rombongan Kemenkeu yang hadir dalam rapat tersebut antara lain:
- Roki Gangsar Winoto (Directorate General of Financing and Risk Management)
- Muhammad Irvan Paleva (HR professional di DJPPR)
- Ferdinandus Andreas (DJPPR)
- Sunandar (DJPPR)
Perwakilan DRI dan ITB yang mengikuti diskusi meliputi:
- Dr. Grandprix Thomryes Marth Kadja, M.Si. (Deputi Direktur Bidang Pengembangan Pusat/Pusat Penelitian/PUI DRI ITB)
- Prof. Udjianna Sekteria Pasaribu, Ph.D. (KK Statistika – Aktuaria, FMIPA ITB)
- Dr. Ir. Zulfakriza, S.Si., M.T. (PPMB ITB)
- Dr. Rio Raharja, S.T., M.T. (FITB ITB)
- Prof. Sapto Wahyu Indratno, S.Si., M.Sc., Ph.D. (FMIPA ITB)
- Dr. RR. Kurnia Novita Sari, S.Si., M.Si. (FMIPA ITB)
- Dr. Fiza Wira Atmaja (Peneliti ITB)
Rencana pembentukan pusat riset ini diharapkan dapat menjadi fondasi yang kuat bagi Indonesia dalam mengelola risiko dan pembiayaan bencana secara berkelanjutan dan terstruktur.