ITB dan MHI Perkuat Kolaborasi Riset Teknologi Ammonia-Hydrogen Co-Firing untuk Transisi Energi
BANDUNG, dri.itb.ac.id – Kolaborasi riset antara Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Mitsubishi Heavy Industries, Ltd. (MHI) yang telah berjalan sejak 2022 kini memasuki babak baru yang krusial. Dalam pertemuan pemaparan hasil riset tahun ke-3 di Auditorium CRiMSE Building, ITB, Senin (19/1/2026), tim peneliti berhasil mengidentifikasi teknologi pembakaran yang lebih stabil dan aman untuk turbin gas masa depan.
Acara ini dihadiri oleh jajaran pimpinan MHI, termasuk Satoshi Hada (Director, GTCC Business Division of Energy Systems) dan Hiroyuki Takeishi (Deputy Manager, Research & Innovation Center), serta diterima langsung oleh Prof. Ir. Ari Darmawan Pasek, Ph.D. selaku Kepala Pusat Penelitian Energi Baru dan Terbarukan (PPEBT) dan tim peneliti yaitu: Ketua Peneliti, Dr. Ir. Yuli S Indartono, serta Dr. Firman Hartono, Dr. Firman Bagja Juangsa, dan Prof. Dr. Iman K Reksowardojo sebagai anggota peneliti.
Mewakili Direktur Riset dan Inovasi ITB, Prof. Ir. Ari Darmawan Pasek, Ph.D., menegaskan bahwa kerja sama ini bukan sekadar transfer teknologi, melainkan pembentukan ekosistem riset yang matang.
“Kami sangat mengapresiasi MHI atas kepercayaan yang diberikan kepada ITB sejak 2022 untuk melakukan frontier research di bidang pembakaran amonia-hidrogen. Riset ini sangat menantang, membutuhkan fasilitas eksperimental canggih dan kemampuan numerik tingkat tinggi,” ujar Prof. Ari.
Dr. Firman Hartono, mewakili tim peneliti ITB, Dr. Firman, memaparkan hasil riset tahun ketiga yang berfokus pada investigasi pembakaran premixed NH3/H2/N2 dan gas alam. Metodologi yang digunakan mencakup eksperimen pembakaran fisik serta analisis Computational Fluid Dynamics (CFD) untuk memodelkan perpindahan panas pada dinding turbin serta menghitung potensi kehilangan panas (heat loss). Dr. Firman memaparkan temuan kritis dalam memecahkan tantangan teknis penggunaan bahan bakar campuran Amonia-Hidrogen-Nitrogen. Masalah terbesar dalam penggunaan hidrogen pada turbin gas adalah risiko flashback (api merambat balik ke arah penyuplai bahan bakar) yang dapat merusak mesin.
Dalam diskusi teknis, terungkap bahwa Indonesia memiliki sekitar 60 unit turbin gas yang masih beroperasi. Mengganti seluruh unit tersebut dengan teknologi baru membutuhkan biaya yang sangat besar. Melalui riset ini, ITB dan MHI mengembangkan metode agar turbin-turbin tersebut dapat dimodifikasi (retrofit) untuk menggunakan bahan bakar campuran amonia dan hidrogen yang bebas karbon.
“Teknologi ini aplikatif. Kita tidak perlu mengganti turbin gas yang ada, namun dapat mengurangi emisi karbon secara signifikan tanpa menghilangkan aset yang sudah beroperasi,” ujar perwakilan tim riset dalam sesi diskusi yang dihadiri oleh Direktur Divisi Bisnis GTCC MHI, Satoshi Hada.
Kerja sama ini juga menekankan pada transfer pengetahuan (knowledge transfer) yang melibatkan mahasiswa pascasarjana ITB. Dalam sesi tanya jawab, Roby Pratama Sitepu dan Alif Kurniawan berdialog langsung dengan para insinyur MHI mengenai integrasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam desain turbin gas masa depan.
Satoshi Hada menyambut baik antusiasme ini, menegaskan bahwa MHI kini mulai memanfaatkan data yang diolah oleh insinyur muda untuk diinput ke dalam sistem AI guna mengoptimalkan desain komponen energi. Hal ini sejalan dengan misi Net Zero 2040 yang diusung MHI.
Puncak acara ditandai dengan peresmian keberlanjutan kerja sama melalui penandatanganan Agreement of Research and Development for Ammonia-Hydrogen Co-Firing Technologies. Penandatanganan dilakukan oleh Prof. Ir. Ari Darmawan Pasek, Ph.D. (ITB) dan Satoshi Hada (MHI). Penampilan seni dari mahasiswa ITB turut memeriahkan suasana, menyimbolkan harmonisasi antara teknologi dan budaya.
Kontributor: Nada Raudah Mumtazah