ITB dan Tsinghua University Perkuat Kolaborasi Riset melalui Penandatanganan Research Collaboration Agreement
BANDUNG, dri.itb.ac.id — Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Tsinghua University resmi memperkuat kerja sama riset melalui penandatanganan Research Collaboration Agreement yang dilaksanakan pada Rabu, 8 Juli 2026, di Ruang Rapim A, Gedung Rektorat ITB, Jalan Tamansari, Bandung.
Penandatanganan perjanjian tersebut dilakukan oleh Vice Director for Research and Innovation of Institut Teknologi Bandung, Prof. Ir. Lavi Rizki Zuhal, Ph.D., dan Vice President Professor WU Huaqiang dari Tsinghua University. Turut hadir Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Riset dan Inovasi ITB, Dr. Ir. Grandprix Thomryes Marth Kadja, M.Si. mendampingi Prof. Lavi.
Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memperluas kolaborasi akademik dan riset antara dua institusi pendidikan tinggi terkemuka di bidang sains dan teknologi.
Dalam sambutannya, Prof. Ir. Lavi Rizki Zuhal, Ph.D. menyampaikan apresiasi kepada delegasi Tsinghua University atas komitmen mereka dalam memperkuat hubungan jangka panjang dengan ITB. Ia menekankan bahwa penandatanganan ini menjadi tonggak penting dalam kemitraan yang dibangun atas dasar kepercayaan, keunggulan akademik, serta visi bersama untuk menghasilkan dampak nyata melalui riset dan inovasi.
Menurutnya, perjanjian ini memberikan kerangka kerja yang kuat untuk memperluas kolaborasi riset di berbagai bidang strategis, antara lain energi, keberlanjutan, kedokteran, perencanaan kota, kebijakan publik, serta bidang terkait lainnya. Lebih dari itu, kerja sama ini juga membuka peluang bagi para peneliti, dosen, dan mahasiswa dari kedua institusi untuk saling bertukar gagasan, mengembangkan jejaring akademik, serta menghasilkan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat global.
Prof. Lavi juga menyampaikan bahwa perjanjian ini menghadirkan mekanisme yang lebih terstruktur untuk mendukung keberlanjutan kolaborasi, termasuk melalui tata kelola bersama dan dukungan pendanaan riset. Kerangka tersebut mencerminkan komitmen kuat kedua institusi dalam membangun kerja sama jangka panjang yang produktif dan berdampak.
Sementara itu, Vice President Professor WU Huaqiang menyampaikan bahwa kolaborasi riset antara Tsinghua University dan ITB memiliki nilai strategis yang sangat penting. Ia menyebut ITB sebagai salah satu universitas terkemuka di bidang sains dan teknologi, sementara Tsinghua University juga memiliki kekuatan besar dalam bidang yang sama. Oleh karena itu, kerja sama riset ini dinilai akan memberikan manfaat besar bagi pengembangan kolaborasi kedua institusi dalam tiga tahun ke depan.
Professor WU Huaqiang juga menjelaskan bahwa Tsinghua University telah mengembangkan berbagai proyek kolaborasi internasional di sejumlah bidang, termasuk kimia, teknik, dan bidang keilmuan terkait lainnya. Melalui perjanjian ini, kedua institusi diharapkan dapat membuka peluang call for proposals, memperluas diskusi akademik, serta mendorong kerja sama riset yang lebih konkret.
Ia juga menyampaikan bahwa kerja sama ini mendapat sambutan positif dari Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, yang menurutnya turut mendukung penguatan hubungan riset antara Tsinghua University dan institusi pendidikan tinggi di Indonesia. Professor WU Huaqiang turut menyoroti semakin banyaknya mahasiswa Indonesia yang melanjutkan studi maupun terlibat dalam riset di Tsinghua University.
Research Collaboration Agreement antara ITB dan Tsinghua University ini mencakup berbagai aspek kerja sama, Perjanjian ini berlaku selama tiga tahun sejak tanggal efektif.
Setelah sesi sambutan, acara dilanjutkan dengan prosesi penandatanganan dokumen kerja sama, sesi foto bersama, serta pertukaran cendera mata sebagai simbol apresiasi dan penguatan hubungan antara kedua institusi.
Melalui penandatanganan perjanjian ini, ITB dan Tsinghua University berharap dapat membangun kolaborasi riset yang semakin erat, berkelanjutan, dan berdampak luas. Kerja sama ini diharapkan tidak hanya memperkuat kapasitas akademik kedua universitas, tetapi juga mendorong lahirnya inovasi dan solusi ilmiah bagi tantangan global di masa depan.
Kontributor: Nada Raudah Mumtaza
