Enter your keyword

ITB Gelar Pembekalan Pimpinan 2026, Fokus Benahi Hambatan Sistemik Menuju QS WUR Top 150

ITB Gelar Pembekalan Pimpinan 2026, Fokus Benahi Hambatan Sistemik Menuju QS WUR Top 150

ITB Gelar Pembekalan Pimpinan 2026, Fokus Benahi Hambatan Sistemik Menuju QS WUR Top 150

BANDUNG, itb.ac.id – Institut Teknologi Bandung (ITB) menyelenggarakan Konsinyering, Pembekalan, dan Workshop bagi Pimpinan Unit setingkat Direktur, Deputi Direktur, Sekretaris Badan, serta Kepala Subdirektorat, yang berlangsung pada Senin–Selasa (19-20/1/2026) di Bandung. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat langkah menuju visi “ITB 2030″ sebagai 4th Generation University yang tidak hanya unggul dalam pendidikan dan riset, namun juga berdampak luas melalui inovasi dan kepeloporan.

Agenda ini dihadiri oleh jajaran pimpinan dari berbagai unit, termasuk dari Direktorat Riset dan Inovasi, yang dipimpin Prof. Dr. apt. Elfahmi, S.Si., M.Si. (Direktur), didampingin oleh para Deputi Direktur yakni Nur Ahmadi, S.T., M.Eng., Ph.D. (Bidang Riset dan Diseminasi), Dr. Eng. Isty Adhitya Purwasena, S.Si., M.Si. (Bidang Inovasi Sains dan Teknologi), dan Dr. Grandprix Thomryes Marth Kadja, M.Si. (Bidang Pengembangan Pusat/Pusat Penelitian/PUI). Turut hadir pula para Kepala Subdirektorat, yaitu Noviyanti, A.Md., S.M. (Program, Monitoring, dan Evaluasi), Raditya Panji Birama, A.Md., S.E. (Keuangan dan Anggaran), dan Housny Mubarok, S.T. (Sarana, Prasarana, dan Sistem Informasi).

Dalam pertemuan tersebut, ITB menetapkan target ambisius untuk menembus peringkat #150 QS World University Rankings (QS WUR) pada tahun 2030. Guna mencapai lompatan tersebut, fokus utama pembekalan tahun ini diarahkan pada pembenahan fundamental terhadap hambatan sistemik dalam tata kelola tridarma dan optimalisasi proses bisnis internal.

Sebagai wujud evaluasi yang objektif, pembekalan ini memaparkan data riil mengenai hambatan di lapangan. Hasil survei menunjukkan bahwa tantangan utama akselerasi ITB bukan terletak pada SDM, melainkan pada inefisiensi proses bisnis dan tata kelola. 

Masalah teknis seperti fragmentasi sistem informasi, birokrasi manual, dan kurangnya sinkronisasi antarunit menjadi sorotan dominan. Pembenahan di sektor ini dinilai krusial untuk membangun fondasi organisasi yang gesit dalam kompetisi global.

Menjawab tantangan tersebut, ITB menekankan pentingnya perubahan gaya kepemimpinan di level manajerial. Para pimpinan unit didorong untuk menerapkan kepemimpinan yang humanis, kolaboratif, dan memberdayakan. Pimpinan unit diharapkan tidak hanya sekadar memberi instruksi, tetapi berperan aktif dalam memfasilitasi tim dan membantu menyelesaikan hambatan di lapangan.

Di sisi strategi, ITB menerapkan manajemen perubahan yang berorientasi pada hasil (execution matters). Hal ini mencakup transformasi tata kelola yang lebih otonom namun akuntabel, serta penguatan ekosistem ITB Kinarya untuk mendorong hilirisasi, komersialisasi inovasi, dan kemandirian pendanaan yang berkelanjutan.

Melalui pembekalan ini, ITB menegaskan komitmennya untuk menyelaraskan gerak langkah seluruh unit kerja. Transformasi ini diharapkan dapat menciptakan iklim akademik yang lebih produktif, menuntaskan hambatan administratif, dan pada akhirnya membawa ITB menjadi perguruan tinggi kelas dunia yang memberikan solusi nyata bagi persoalan bangsa.

 

Kontributor: Aura Salsabila Alviona