ITB Resmikan Indonesia Center of Excellence for CCS and CCUS Perkuat Peran Indonesia dalam Teknologi Penangkapan dan Pemanfaatan Karbon
Institut Teknologi Bandung (ITB) meresmikan Indonesia Center of Excellence for CCS and CCUS atau Center of Carbon Dioxide and Flared Gas Utilization pada Senin, 8 Desember 2025, di Gedung Labtek XVII (Gedung Pak Dato), Kampus ITB Ganesha. Pusat unggulan ini diharapkan menjadi salah satu motor penggerak riset, inovasi, dan pembentukan ekosistem teknologi penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon di Indonesia.
Acara turut dihadiri antara lain oleh Kepala SKK Migas Bapak Djoko Siswanto, Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi ITB Prof. Ir. Lavi Rizki Zuhal, Ph.D., BP Regional President Asia Pacific Ibu Kathy Wu, Global CCS Lead BP Bapak Daniel Fletcher, serta perwakilan pusat-pusat unggulan (Center of Excellence/CoE) di ITB dan para tamu undangan lainnya.
Tampak hadir juga mantan Rektor ITB, Prof. Reini Wirahadikusumah, Ph.D. yang turut meresmikan Gedung Labtek XVII Dato’ Dr. Low Tuck Kwong di ITB Kampus Ganesha pada 2024 lalu, serta Prof. Ir. Sanggono Adisasmito, M.Sc., Ph.D. guru besar Fakultas Teknologi Industri ITB.
Paparan Pusat Unggulan dan Kunjungan Laboratorium
Rangkaian kegiatan dimulai sejak pagi hari. Pada pukul 09.00–10.00, para pimpinan dan tamu undangan mendapatkan penjelasan mengenai beberapa Center of Excellence di ITB, terutama:
- CoE CCS ITB (Center of Excellence for Carbon Capture and Storage)
- CoE Mature Wells
- Pusat Riset Katalis (PRK) ITB
Dalam sesi ini, para narasumber dari ITB memaparkan sejarah dan latar belakang pembentukan CoE sebagai organisasi multidisiplin di bidang sains, teknologi, dan inovasi industri untuk menjawab kebutuhan pasar dan tantangan transisi energi. Peran CoE dalam penyusunan regulasi, pengembangan teknologi, pembukaan pasar baru, hingga penciptaan lapangan kerja turut digarisbawahi.
ITB juga menyoroti dukungan pendanaan dan peralatan dari Kementerian DIKTI untuk CoE CCS ITB, serta pendanaan riset dari BPDPKS untuk PRK ITB, yang menjadi contoh sinergi kebijakan, riset, dan industri.
Pada pukul 10.00–11.00, rombongan mengunjungi beberapa laboratorium kunci, yaitu Laboratorium Enhanced Oil Recovery (EOR), Laboratorium CCS, Laboratorium Subsurface Modeling, dan Laboratorium CCU. Kunjungan ini memberikan gambaran konkrit tentang fasilitas yang dimiliki ITB untuk riset migas berkelanjutan, pemanfaatan CO₂, serta pengembangan teknologi rendah karbon.
Inaugurasi dan Penyerahan Donasi BP untuk ITB
Sesi utama peresmian Center of Excellence berlangsung sekitar pukul 11.00–12.00. Acara dibuka dengan sapaan hangat kepada para tamu dan undangan, disertai pengantar mengenai pentingnya momen ini dalam sejarah ITB.
Dalam sambutannya, Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi ITB, Prof. Ir. Lavi Rizki Zuhal, Ph.D., menegaskan bahwa peresmian pusat unggulan ini tidak sekadar pembukaan ruang fisik baru, tetapi simbol sebuah komitmen bersama.
Beliau menyampaikan bahwa ITB telah lama berada di garis depan pengembangan sains dan teknologi di Indonesia, namun pencapaian keunggulan tidak pernah bisa dilakukan sendiri. Kolaborasi dengan dunia industri, khususnya mitra strategis seperti BP Asia Pacific, menjadi kunci penguatan ekosistem riset dan inovasi.
Pusat baru ini diharapkan menjadi ruang belajar, kreativitas, kolaborasi lintas disiplin, dan inovasi yang memberi manfaat jangka panjang bagi mahasiswa, peneliti, dan generasi mendatang yang akan melanjutkan misi pengembangan ilmu pengetahuan dan kontribusi bagi kemajuan bangsa dan dunia. Prof. Lavi juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada BP atas kepercayaan, dukungan, dan kemitraan jangka panjang dengan ITB, sembari membuka peluang perluasan kerja sama dalam riset, pengembangan talenta, dan program strategis lainnya.
Komitmen BP untuk CCS dan Pengembangan Talenta Indonesia
Dalam sesi berikutnya, BP Regional President Asia Pacific, Ibu Kathy Wu, menyampaikan pidato yang menekankan kuatnya hubungan BP dan ITB sebagai salah satu universitas teknik dan riset terkemuka di Indonesia.
Ia menyoroti beberapa poin penting:
- BP membutuhkan tenaga profesional Indonesia yang terampil untuk mengoperasikan fasilitas LNG, menemukan sumber gas baru, dan mengembangkan kawasan Tangguh sebagai hub masa depan untuk penyimpanan karbon.
- Bersama pemerintah Indonesia, BP telah memberikan lebih dari 1.400 beasiswa bagi mahasiswa di bidang-bidang terkait, serta menjalankan program magang multi-tahun yang telah melatih lebih dari seratus teknisi yang kini bekerja di fasilitas BP.
- Sejak 2020, BP dan ITB telah berkolaborasi dalam studi Enhanced Gas Recovery (EGR) sebagai bagian dari proyek CCS berskala besar di Tangguh yang berstatus Proyek Strategis Nasional, dengan nilai investasi lebih dari 7 miliar dolar AS.
- ITB berperan penting dalam mendukung kajian ilmiah yang membantu proses perizinan, hingga tercapainya keputusan investasi final (FID) pada tahun 2024. Proyek ini ditargetkan mulai mengalirkan gas pada 2028 dan memulai injeksi karbon pada awal dekade berikutnya.
Melalui donasi peralatan dan dukungan pembentukan Center of Excellence di ITB, BP juga sedang mendanai beasiswa magister dan doktoral bertema CCS/CCUS untuk menumbuhkan generasi baru pakar CCS di Indonesia dan kawasan Asia Pasifik. Ibu Kathy menegaskan bahwa BP memandang kerja sama dengan ITB dan universitas-universitas lain sebagai investasi jangka panjang bagi keamanan energi, masa depan energi, dan agenda dekarbonisasi Indonesia.
Momen Peresmian: Pemotongan Pita dan Tur Fasilitas
Puncak acara ditandai dengan upacara pemotongan pita sebagai simbol resmi beroperasinya Indonesia Center of Excellence for CCS and CCUS di ITB.
Di depan area peresmian, Wakil Rektor ITB dan BP Regional President Asia Pacific Ibu Kathy Wu berdiri di belakang garis pita. Kepala SKK Migas, Bapak Djoko Siswanto, turut diundang maju untuk menyaksikan secara langsung prosesi pemotongan pita yang disambut tepuk tangan meriah hadirin.
Setelah sesi foto bersama, para tamu diajak melakukan tur singkat ke ruang-ruang kerja dan fasilitas yang telah direnovasi. Penjelasan mengenai konsep desain, fungsi ruangan, dan pemanfaatan peralatan didampingi oleh perwakilan BP Indonesia, Bapak Stevy Kristofer Wospakrik – Geoscientist at BP dan perwakilan ITB, Bapak Aqsha, S.T., M.Sc., Ph.D. .
Acara resmi kemudian diakhiri dengan jamuan makan siang sambil berbincang santai, termasuk menikmati hidangan khas seperti bakso, yang turut menambah suasana keakraban di tengah diskusi mengenai masa depan riset CCS dan energi berkelanjutan di Indonesia.
Kerja Sama ITB–BP Sejak 2023 dan Keterkaitan dengan Carbon Digital Conference
Dalam wawancara seusai acara, Dr.rer.nat. R. Mohammad Rachmat Sule, S.T., M.T., selaku salah satu penggerak CoE CCS ITB, menjelaskan bahwa kerja sama antara ITB dan BP sejatinya telah dimulai sejak 2023.
Kerja sama tersebut mencakup:
- Penandatanganan MoU dan MoA antara ITB dan BP sebagai payung kolaborasi jangka panjang.
- Joint Study yang saat ini masih berjalan, terkait teknologi CCS/CCUS dan aplikasinya di lapangan.
- Program beasiswa yang akan bergulir mulai tahun depan bagi mahasiswa yang fokus di bidang-bidang terkait.
- Donasi ruang kerja (working space) berupa penataan interior dan furnitur untuk mendukung aktivitas riset dan kolaborasi di Center of Excellence ini.
Rachmat menjelaskan, karena hasil donasi berupa ruang dan interior sangat tampak secara kasat mata, ITB dan BP sepakat mengemasnya dalam sebuah upacara peresmian khusus seperti yang digelar hari ini.
Ia juga menambahkan bahwa momen ini bertepatan dengan penyelenggaraan Carbon Digital Conference di Aula Barat dan Aula Timur ITB. Konferensi tersebut dimaksudkan untuk mendorong agar kredit karbon yang dihasilkan dari proyek-proyek CCS dapat diakui sebagai pengurangan emisi dalam skema pasar karbon sukarela (voluntary) dan dapat diperdagangkan di pasar internasional.
Menurutnya, saat ini harga karbon di pasar domestik masih berada di kisaran Rp96.000 per ton, sementara di pasar internasional dapat mencapai lebih dari 30 dolar AS per ton. Di tengah belum adanya insentif pemerintah khusus CCS serta belum diterapkannya pajak karbon secara penuh di Indonesia, akses ke pasar karbon internasional menjadi salah satu peluang penting bagi proyek-proyek pengurangan emisi di Tanah Air.
Dukungan SKK Migas: Dari Net Zero hingga Riset EOR dan CCS
Dalam kesempatan terpisah, Kepala SKK Migas, Bapak Djoko Siswanto, menegaskan bahwa SKK Migas mendukung penuh pengembangan CCS di Indonesia sebagai bagian dari komitmen terhadap Paris Agreement dan target net zero emission.
Ia menjelaskan bahwa di industri hulu migas, gas suar (flared gas) dan CO₂ merupakan isu penting yang perlu dikelola lebih baik. Melalui pusat riset seperti Center of Excellence ini, SKK Migas berharap dapat:
- Menghasilkan kajian dan studi yang membantu pemanfaatan gas suar sehingga emisi dapat ditekan hingga mendekati nol.
- Mengoptimalkan pemanfaatan CO₂ untuk Enhanced Oil Recovery (EOR), yakni dengan menginjeksikan kembali CO₂ ke reservoir untuk menjaga tekanan dan membantu melepas minyak dari batuan sehingga produksi dapat meningkat.
- Menyediakan laboratorium uji yang dapat dimanfaatkan perusahaan-perusahaan migas untuk menguji sampel (misalnya batuan inti) dan menilai efektivitas penggunaan CO₂ untuk berbagai tujuan teknis dan ekonomi.
Djoko juga mengungkapkan bahwa SKK Migas telah memiliki MoU dengan ITB untuk melakukan berbagai kajian, tidak hanya CCS/CCUS tetapi juga studi kelayakan (feasibility study) cadangan, penilaian rencana pengembangan (Plan of Development/POD), dan aspek-aspek lain yang berkaitan dengan pengelolaan hulu migas.
Terkait harapannya terhadap Direktorat Riset dan Inovasi ITB, ia menyatakan bahwa SKK Migas mendorong agar riset-riset di ITB dapat:
- Menggali cara-cara baru peningkatan produksi minyak dan gas secara lebih mendalam.
- Mengembangkan metode analisis seismik eksplorasi yang lebih cepat dan akurat.
- Menemukan terobosan teknologi yang dapat menekan biaya namun tetap menjaga aspek keselamatan dan keberlanjutan lingkungan.
Mengarah pada Ekosistem CCS dan CCUS yang Lebih Kuat
Peresmian Indonesia Center of Excellence for CCS and CCUS di ITB menandai langkah penting dalam membangun ekosistem ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebijakan terkait penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon di Indonesia. Kolaborasi erat antara perguruan tinggi, pemerintah, dan industri — yang tercermin dalam keterlibatan ITB, BP, SKK Migas, dan mitra lainnya — menunjukkan bahwa agenda transisi energi dan dekarbonisasi hanya dapat dicapai melalui kerja bersama.
Dengan beroperasinya pusat unggulan ini, ITB diharapkan mampu:
- Memperkuat kapasitas riset dan pendidikan di bidang CCS/CCUS,
- Melahirkan talenta-talenta baru yang siap berkontribusi pada industri energi masa depan,
- Serta memberikan masukan ilmiah bagi penyusunan kebijakan dan pengembangan pasar karbon nasional maupun internasional.
Melalui sinergi inilah, Indonesia diharapkan dapat mengambil posisi yang lebih strategis dalam upaya global mengurangi emisi dan mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.
