Kawal Hilirisasi Riset, DRI ITB Tegaskan Pentingnya Transfer Teknologi dalam Penjajakan Kerja Sama dengan Korea Selatan
BANDUNG, dri.itb.ac.id – Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) Institut Teknologi Bandung (ITB) mengambil langkah strategis untuk memastikan setiap kerja sama internasional membawa dampak nyata bagi pengembangan teknologi nasional. Hal ini ditekankan dalam Rapat Koordinasi Tindak Lanjut Kunjungan Korea Selatan yang diselenggarakan pada Jumat (05/06/2026) di Ruang Rapat A, lantai 6, gedung CRCS, Kampus ITB, Jln. Ganesa No. 10, Bandung. Rapat ini membahas persiapan kolaborasi riset, investasi, dan hilirisasi antara ITB dengan sejumlah institusi akademik serta industri asal Korea Selatan.
Rapat koordinasi ini dihadiri oleh sejumlah pemangku kepentingan utama, di antaranya Direktur Riset dan Inovasi ITB, Prof. Dr. apt. Elfahmi, S.Si., M.Si., Deputi Direktur Bidang Transfer Teknologi DKST ITB, Rofiq Iqbal, S.T., M.Eng., Ph.D., Agus Chahyadi selaku CEO EBM Scitech, perwakilan dari bidang Arsitektur, Permana, S.T., M.T. dan Prihantono, serta perwakilan dari Desain Komunikasi Visual (DKV), Dr. Intan Rizky Mutiaz, M.Ds.
Sebagai direktorat yang mengorkestrasi seluruh kegiatan riset di ITB, DRI menyoroti pentingnya menjaga kedaulatan teknologi Indonesia dalam setiap kesepakatan investasi asing. Prof. Elfahmi menegaskan bahwa Indonesia, dan secara khusus ITB, tidak boleh hanya menjadi target pasar komersial semata.
“Kerja sama dengan luar negeri ini harus kita jaga betul. Kita bukan hanya sebagai tempat investasi karena pasar Indonesia sangat luar biasa besar. Ini betul-betul harus win-win benefit. Perguruan tinggi harus dilibatkan buat transfer technology dan R&D (Riset dan Pengembangan) di sini,” tegas Prof. Elfahmi dalam arahannya.
Prof. Elfahmi juga mengingatkan agar para peneliti ITB tidak bersikap inferior terhadap teknologi asing. Beliau mencontohkan produk kosmetik dan kesehatan asal Korea yang laku keras berkat strategi pengemasan dan marketing budaya pop (Drakor), padahal peneliti ITB memiliki kapasitas untuk mengembangkan produk dengan khasiat yang setara, atau bahkan lebih baik, menggunakan sumber daya alam lokal.
Untuk itu, DRI ITB akan segera melakukan pemetaan mendalam guna membentuk tim teknis spesifik yang siap berhadapan langsung (head-to-head) secara bisnis dan riset dengan pihak Korea Selatan, mencakup bidang Artificial Intelligence (AI), kesehatan, dan formulasi produk halal. ITB sendiri saat ini didukung oleh pendanaan hilirisasi yang solid dari LPDP, yang akan dimaksimalkan untuk menopang pengembangan produk-produk inovasi tersebut.
Berdasarkan laporan kunjungan ke Korea Selatan yang disampaikanl, terdapat beberapa institusi dan konglomerasi Korea yang siap menanamkan investasinya di Indonesia dengan menggandeng ITB. Beberapa di antaranya meliputi:
- Kumoh National Institute of Technology (KIT) & POSTECH: Penjajakan kerja sama pengembangan ekosistem inkubasi startup yang menghubungkan universitas langsung dengan industri.
- Dexter Studio: Perusahaan industri kreatif afiliasi CJ Group yang tertarik untuk membangun immersive studio di lingkungan ITB (Summarecon atau Jatinangor). Studio ini nantinya tidak hanya dikomersialisasikan untuk masyarakat umum, tetapi juga difungsikan sebagai ruang kelas dan laboratorium mahasiswa untuk memproduksi Computer-Generated Imagery (CGI) berlatar lanskap lokal Indonesia.
- NH Group: Konglomerasi berbasis koperasi pertanian ini berencana membawa model ekosistem hulu-ke-hilir ke Indonesia. Sebagai proyek percontohan, akan dilakukan uji coba ternak ayam terpadu di kawasan Cilengkrang yang mencakup produksi pakan, pembibitan, hingga produk akhir berupa telur olahan siap jual.
Sebagai langkah konkret, ITB melalui Direktorat Kawasan Sains dan Teknologi (DKST) dan DRI akan menyelenggarakan konferensi dan seremoni peluncuran kerja sama pada tanggal 1-2 Juli 2026 di ITB Summarecon.
Rofiq Iqbal menjelaskan bahwa acara tersebut akan menggabungkan seremoni Memorandum of Understanding (MoU) dengan sesi business matching. “Kita berharap meeting kita itu, kick-off-nya seremonial umum, tapi sorenya kita langsung pasang-pasangkan (business matching). Sehingga benar-benar kita berharap sudah ada tindak lanjutnya,” jelasnya.
Beberapa agenda krusial dalam business matching tersebut meliputi:
- Kerja sama Pusat Halal dan peneliti ITB terkait reformulasi produk perawatan kulit (skincare) asal Korea agar memenuhi regulasi Jaminan Produk Halal (JPH) yang berlaku di Indonesia pada Oktober mendatang.
- Kolaborasi pembuatan film dan infrastruktur CGI dengan DKV ITB.
- Integrasi teknologi Artificial Intelligence (AI) buatan ITB dalam model bisnis industri.
Di akhir rapat, DRI menekankan agar setiap draf MoU yang akan ditandatangani pada Juli mendatang tidak hanya menjadi dokumen formalitas. Setiap dokumen harus dilengkapi dengan rincian list of to-do dan skema alih teknologi yang jelas guna mengawal kebocoran inovasi dan memaksimalkan perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) milik peneliti Indonesia.
Kontributor: Nada Raudah Mumtazah
