Enter your keyword

Lawan “Jajahan” Teknologi Impor, Tim FITB ITB Kembangkan Stasiun Cuaca Mandiri dan Murah untuk Masyarakat Pesisir

Lawan “Jajahan” Teknologi Impor, Tim FITB ITB Kembangkan Stasiun Cuaca Mandiri dan Murah untuk Masyarakat Pesisir

Lawan “Jajahan” Teknologi Impor, Tim FITB ITB Kembangkan Stasiun Cuaca Mandiri dan Murah untuk Masyarakat Pesisir

BANDUNG, dri.itb.ac.id – Indonesia sebagai negara maritim memiliki kebutuhan krusial akan data cuaca dan kelautan yang akurat. Namun, ketergantungan pada teknologi impor seringkali menjadi kendala, terutama terkait biaya langganan perangkat lunak yang selangit. Menjawab tantangan ini, tim peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang dipimpin oleh Dr. Iwan Pramesti Anwar, S.Si., M.Si. dari Kelompok Keahlian (KK) Oseanografi Lingkungan dan Terapan, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), mengembangkan inovasi Sistem Observasi dan Prediksi Bencana Kebumian Terintegrasi berbasis Internet of Things (IoT).

Berbasis di Laboratorium Observasi Oseanografi Fisika, Kampus ITB Cirebon, inovasi ini bukan sekadar merakit alat, melainkan sebuah upaya untuk memerdekakan sistem data cuaca Indonesia dari ketergantungan vendor asing.

Bersama tim DRI ITB, pada Selasa (03/02/26), Pak Iwan mengungkapkan keresahannya terhadap dominasi alat impor. Meskipun sensor fisik masih harus dibeli dari luar karena pertimbangan presisi, sistem otak atau logger dan komunikasi IoT 100% buatan tim ITB.

“Untuk sistem, kita harus mandiri. Kalau kita beli merek yang sudah established seperti Davis, instrumennya saja sudah Rp50 jutaan. Logger-nya default mengukur per 15 menit. Kalau mau di-unlock supaya bisa lebih cepat, harus subscribe lagi dan itu lebih mahal, bisa Rp150 jutaan,” ujar Pak Iwan.

Dengan mengembangkan software dan hardware logger sendiri, tim ITB berhasil memangkas biaya dan mendapatkan keleluasaan data. Alat ini mampu mengambil data per detik, jauh lebih rapat dibandingkan setelan pabrikan alat impor, sehingga memungkinkan analisis yang lebih mendalam.

Alat Automatic Weather Station (AWS) ini telah diuji coba di Dermaga Pelindo, Cirebon, sejak bulan Oktober 2025. Stasiun ini bertenaga mandiri menggunakan panel surya dan merekam berbagai parameter penting, diantaranya curah hujan, arah dan kecepatan angin, kelembaban, tekanan udara, suhu, hingga water level (pasang surut air laut).

Namun, perjalanan riset ini bukan tanpa kendala. Pak Iwan menceritakan tantangan ketahanan energi saat cuaca ekstrem. “Kemarin sempat mendung dan hujan seminggu penuh di Cirebon. Baterai drop di bawah 7 volt dan alat mati. Tapi hebatnya, begitu besoknya ada matahari, dia otomatis menyala kembali,” jelasnya. Selain itu, stabilitas koneksi internet dari provider seluler juga menjadi catatan evaluasi untuk pengembangan sistem penyimpanan data cadangan.

Selain Cirebon, alat ini juga diuji di Timbulsloko, Demak, sebuah kawasan yang mengalami banjir rob dengan tingkat keparahan yang cukup tinggi. Di sana, sensor water level menjadi sangat krusial bagi warga yang bertahan di rumah-rumah yang terendam, memberikan data prediksi kapan air pasang akan naik, melengkapi prakiraan BMKG yang stasiunnya berjarak cukup jauh dari lokasi terdampak.

Salah satu temuan menarik dari riset ini adalah respons pengguna terhadap tampilan data atau dashboard. Berdasarkan survei terhadap 70 responden, tampilan antarmuka (interface) saat ini dinilai sangat teknis.

“Mahasiswa Meteorologi atau Oseanografi memberi nilai A, sekitar 80 ke atas, karena mereka mengerti. Tapi responden dari Sosial Humaniora memberi nilai D,” ungkap Pak Iwan.

Hal ini menjadi pekerjaan tambahan bagi tim peneliti. Karena tujuan akhirnya adalah membantu nelayan kecil dan masyarakat awam, Pak Iwan berencana menggandeng ahli desain (DKV) atau antropolog untuk menyederhanakan visualisasi data agar mudah dipahami, misalnya memberikan indikator sederhana kapan waktu yang aman untuk melaut.

Ke depan, tim ini tidak hanya berhenti di stasiun cuaca darat. Bersama tim, Pak Iwan sedang mengembangkan prototipe buoy untuk alat pengukur gelombang di tengah laut dengan biaya rendah. Uniknya, prototipe awal alat ini dibuat menggunakan bahan sederhana, bahkan sempat menggunakan panci dapur sebagai bahan percobaan awal.

“Semangatnya bukan jualan alat, tapi insight. Kalau alatnya murah, kita bisa sebar sebanyak mungkin. Dengan data yang banyak, kita bisa memberikan prediksi gelombang yang akurat untuk pelabuhan atau peringatan dini bagi nelayan,” tutup Pak Iwan.

Inovasi ini diharapkan dapat menjadi solusi cost-effective bagi kebutuhan data maritim Indonesia, mendukung kedaulatan data, serta memberikan manfaat nyata bagi keselamatan masyarakat pesisir.

 

Kontributor: Nada Raudah Mumtazah