Membangun Ekosistem Riset Berdampak: DRI ITB Hadirkan Prof. Rose Amal dalam Lokakarya “Mentoring in Research”
BANDUNG, dri.itb.ac.id – Dalam upaya terus mendorong budaya keilmuan dan hilirisasi inovasi yang berdampak global, Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama Fakultas Teknologi Industri (FTI) sukses menyelenggarakan lokakarya bertajuk “Mentoring in Research” pada Rabu (15/4/2026). Acara yang didukung oleh program Equity Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) ini menghadirkan tokoh kebanggaan diaspora Indonesia, Scientia Professor Rose Amal dari University of New South Wales (UNSW), Australia.
Kehadiran Prof. Rose Amal, pionir teknologi Sunlight-to-X yang menjabat sebagai Co-Director ARC Training Centre for the Global Hydrogen Economy dengan capaian h-index 115, menjadi momentum berharga bagi para dosen dan peneliti muda ITB untuk menggali wawasan strategis seputar manajemen riset, publikasi produktif, hingga komersialisasi teknologi.
Prof. Rose menekankan bahwa pendampingan (mentoring) dalam riset sejatinya adalah proses memberdayakan perjalanan akademik seseorang untuk menciptakan sebuah warisan (legacy), bukan sekadar mengejar posisi atau indeks publikasi. Beliau merangkum filosofi pendampingannya dalam akronim EMPOWER (Enable, Motivate, Provoke thinking, Observe and listen, Walk alongside, Elevate, Release).
“Sebagai mentor, kita harus bisa membuka pintu peluang bagi mahasiswa kita (Elevate), menuntun mereka, namun pada akhirnya kita juga harus berani melepas mereka (Release) agar mereka bisa tumbuh mandiri dan menciptakan inovasinya sendiri,” ujar pakar yang pernah masuk dalam daftar Top 100 Most Influential Engineers di Australia ini.
Selain itu, Prof. Rose membagikan resep bagi para akademisi untuk sukses membangun rekam jejak riset melalui prinsip LEADER (Leverage mentors, Establish networks, Allocate time wisely, Develop communication skills, Empower team, Respected reputation). Beliau secara khusus menyoroti pentingnya para inovator untuk memiliki kompetensi T-shape (kedalaman spesialisasi sekaligus wawasan multidisiplin yang luas) serta keahlian X-shape (kemampuan menghubungkan dan mengintegrasikan berbagai disiplin keilmuan demi memecahkan masalah sistemik).
Sejalan dengan visi DRI ITB untuk menjembatani inovasi sains ke masyarakat, Prof. Rose membagikan cerita sukses hilirisasi riset di UNSW. Tim bimbingannya berhasil menetaskan berbagai perusahaan rintisan (spin-off), di antaranya Eco-peroxide (produksi disinfektan dari air dan listrik), Oz-Ammonia (pupuk dari limbah air dan udara), Decarb Air, hingga Gurung Fuel (bahan bakar penerbangan berkelanjutan).
Acara ini turut mendapat apresiasi tinggi dari Prof. I Gede Wenten, M.Sc., Ph.D., tokoh ITB yang juga pernah menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi. Prof. Wenten menyoroti krusialnya kehadiran sosok respected scientist di Indonesia yang berdedikasi nyata tanpa kompromi terhadap kualitas sains keilmuannya.
“Kita sangat memerlukan sosok yang betul-betul dihormati dalam ranah sains untuk dijadikan contoh nyata bagi iklim riset kita. Mudah-mudahan ke depan ada era ‘Rose Amal’ baru di Indonesia,” ungkap Prof. Wenten.
Acara ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk meruntuhkan dinding ego sektoral dan memperkuat jaring kolaborasi riset demi kemajuan inovasi berkelanjutan di tanah air.
Kontributor: Nada Raudah Mumtazah
Youtube: Mentoring in Research bersama Prof. Rose Amal
