Mengolah Bahan Alam Indonesia Menjadi Material Maju: Perjalanan Riset Robby Roswanda di Kimia Organik ITB
BANDUNG, dri.itb.ac.id – Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Kekayaan ini tidak hanya penting bagi pangan, kesehatan, dan lingkungan, tetapi juga membuka peluang besar bagi pengembangan riset material maju. Gagasan inilah yang menjadi salah satu fokus pembahasan dalam Podcast DRI Episode 13 bersama Dr. Robby Roswanda, S.Si., M.Si., Ph.D., dosen dan peneliti di Kelompok Keahlian Kimia Organik, FMIPA ITB. Episode ini dipandu oleh Nadia Valasifa dan Efson Thrismono M.Pd., di Gedung PAU Lantai 8, Kampus ITB, Bandung.
Dalam perbincangan tersebut, Robby menjelaskan bahwa riset bahan alam di ITB telah memiliki sejarah panjang. Sejak sekitar tahun 1980-an, bidang ini berkembang melalui kontribusi para peneliti kimia organik ITB, terutama dalam kemampuan menentukan struktur molekul bahan alam yang kompleks. Menurutnya, kekuatan ini menjadi modal penting untuk membawa riset bahan alam ke arah yang lebih luas.
Selama ini, bahan alam Indonesia banyak dikenal melalui pemanfaatannya di bidang kesehatan, seperti antibakteri, antijamur, antivirus, atau pengembangan senyawa obat. Namun, Robby melihat peluang lain yang tidak kalah penting, yaitu menjadikan bahan alam sebagai building block atau rangka dasar untuk pengembangan material maju.
“Bahan alam Indonesia selama ini banyak digunakan untuk jamu, herbal, dan pengobatan. Itu tentu baik. Namun, kami ingin menawarkan perspektif lain: bahan alam juga bisa digunakan sebagai building block untuk material maju,” jelasnya.
Ketertarikan Robby pada bidang ini berangkat dari perjalanan akademiknya saat menempuh pendidikan doktoral di University of Groningen, Belanda. Di sana, ia bekerja dalam lingkungan riset yang banyak berkaitan dengan material molekuler maju. Pembimbing doktoralnya, Prof. Ben L. Feringa, kemudian menerima Hadiah Nobel Kimia pada tahun 2016 atas kontribusinya dalam pengembangan molecular machines.
Setelah kembali ke Indonesia dan bergabung dengan ITB, Robby mulai memikirkan bagaimana keahlian yang ia peroleh di luar negeri dapat dikembangkan dalam konteks Indonesia. Ide tersebut kemudian diperkuat melalui diskusi dengan almarhum Prof. Yana Maolana Syah, yang mendorong kolaborasi antara kekuatan riset bahan alam ITB dan keahlian Prof. Feringa dalam bidang molecular motor dan molecular machines.
Dari sinilah Robby mulai merintis gagasan untuk mengolah bahan alam Indonesia menjadi material molekuler maju. Salah satu konsep penting dalam riset ini adalah molecular switch, yaitu molekul yang dapat berubah bentuk atau kondisi ketika diberi rangsangan tertentu, misalnya cahaya. Dalam riset yang dikembangkan, perubahan molekul dari bentuk cis ke trans menjadi bagian penting untuk memahami bagaimana bahan alam dapat diarahkan menjadi sistem yang responsif.
Robby menjelaskan bahwa pengembangan material maju dari bahan alam bukan pekerjaan sederhana. Bekerja dengan bahan alam memiliki tantangan tersendiri karena senyawa yang diperoleh dari tanaman sering kali jumlahnya sangat terbatas. Dari beberapa kilogram sampel tanaman, hasil senyawa yang berhasil diisolasi bisa hanya sekitar satu gram. Selain itu, bahan alam memiliki struktur yang kompleks, sehingga proses modifikasi dan karakterisasinya membutuhkan ketelitian tinggi.
Salah satu tanaman yang digunakan dalam risetnya adalah Tephrosia vogelii atau dikenal sebagai kacang babi. Dari tanaman tersebut, senyawa bahan alam diisolasi, dimurnikan, lalu dimodifikasi untuk melihat potensinya sebagai bagian dari sistem material maju. Proses ini membutuhkan waktu panjang, mulai dari ekstraksi, isolasi, sintesis, hingga pengukuran untuk memastikan struktur dan sifat molekul yang dihasilkan.
Tantangan lain juga muncul dari keterbatasan fasilitas, ketersediaan bahan kimia, serta kebutuhan alat karakterisasi yang tidak selalu tersedia secara mudah di Indonesia. Karena itu, kolaborasi menjadi bagian penting dalam proses riset. Menurut Robby, untuk membuktikan bahwa sebuah molekul benar-benar bekerja sesuai klaim ilmiah, peneliti tidak hanya perlu mampu menyintesisnya, tetapi juga harus memiliki dukungan instrumen dan keahlian analisis yang memadai.
Meski penuh tantangan, riset ini membuka peluang besar bagi masa depan. Robby membayangkan bahwa suatu saat bahan alam Indonesia dapat dikembangkan menjadi sistem obat yang aktivitasnya bisa dikendalikan menggunakan cahaya. Dengan pendekatan ini, senyawa tertentu dapat diaktifkan atau dinonaktifkan sesuai kebutuhan, sehingga membuka kemungkinan baru dalam pengembangan teknologi kesehatan berbasis molecular switch.
Ia menegaskan bahwa riset seperti ini masih berada pada tahap fundamental. Namun, riset fundamental memiliki peran penting karena menjadi dasar bagi inovasi masa depan. Sebagaimana perkembangan pesawat terbang pada masa Wright Brothers, manfaat dari sebuah temuan ilmiah tidak selalu langsung terlihat pada awalnya. Namun, dengan proses yang konsisten, riset dasar dapat menjadi pijakan bagi teknologi besar di masa mendatang.
Dalam konteks industri, Robby berharap konsep yang sedang dikembangkan dapat terus bergerak menuju proof of concept. Jika sistem ini berhasil dibuktikan dan dikembangkan lebih lanjut, kerja sama dengan industri dan bidang lain, seperti teknik kimia, dapat menjadi langkah penting untuk memikirkan produksi dalam skala yang lebih besar.
Di akhir perbincangan, Robby menyampaikan pesan kepada mahasiswa dan generasi muda yang ingin terjun ke dunia riset. Menurutnya, hal pertama yang perlu ditemukan adalah passion. Ketertarikan yang kuat akan membantu seseorang bertahan dalam proses riset yang panjang, penuh percobaan, dan tidak selalu memberikan hasil cepat.
“Temukan passion. Pastikan kita enjoy di sana. Pastikan kita senang dengan bidangnya, agar ketika menjalankannya tidak terasa terlalu berat,” pesannya.
Melalui riset yang dikembangkan Robby Roswanda dan tim, bahan alam Indonesia tidak hanya dilihat sebagai warisan hayati, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan dan inovasi untuk masa depan. Dari laboratorium kimia organik ITB, kekayaan alam Indonesia mulai dibaca ulang sebagai fondasi bagi pengembangan material maju yang berpotensi memberi kontribusi bagi sains, teknologi, dan masyarakat.
Youtube: Podcast DRI EPS 13 – Mengolah Bahan Alam Indonesia Menjadi Material Maju
