Menuju Kedaulatan Pertahanan, ITB Kembangkan Radar Pasif Anti-Siluman dan Sistem Pertahanan Terintegrasi
BANDUNG, dri.itb.ac.id – Institut Teknologi Bandung (ITB) terus memperkuat perannya dalam kemandirian teknologi pertahanan nasional. Di tengah tantangan geopolitik dan pembatasan transfer teknologi dari negara maju, dosen Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB, Dr. Joko Suryana, S.T., M.T., mengungkapkan bahwa tim peneliti ITB berhasil mengembangkan Radar Pasif (Passive Radar) yang mampu mendeteksi pesawat tempur siluman (stealth fighter), serta mendorong konsep Integrated Defense System.
Dalam diskusi Technology Outlook yang dipandu oleh Islaminur Pempasa dan Saffanah Zahirah dari Idealog di Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) ITB, Rabu (21/1). Dalam diskusi tersebut, Joko Suryana memaparkan bahwa ketergantungan pada teknologi asing seringkali menempatkan Indonesia pada posisi yang rentan.
Dalam pengembangan pesawat tempur KFX/IFX bersama Korea Selatan, Indonesia menghadapi kendala pelik terkait teknologi radar AESA (Active Electronically Scanned Array). “Teknologi ini dikuasai segelintir negara, utamanya Amerika Serikat. Bahkan Korea Selatan sekutu mereka pun tidak diberi akses teknologi ini untuk proyek KFX/IFX,” ujar Joko Suryana.
Kondisi ini memaksa Indonesia untuk mandiri. Pembelian dari luar negeri seringkali datang dengan batasan, vendor asing menjual pesawat dengan radar yang dikunci kemampuannya atau tanpa kode sumber (source code). “Mereka jual pesawatnya, tapi ‘pedangnya’ atau ‘matanya’ dibatasi. Itu bagian dari kontrol mereka,” tambah Joko.
Menjawab tantangan tersebut, ITB bekerja sama dengan Kementerian Pertahanan telah mengembangkan Radar Pasif.
“Radar pasif ITB memanfaatkan sinyal dari pemancar pihak ketiga, seperti gelombang TV, FM, hingga sinyal GSM dan GPS yang ada di lingkungan. Pantulan sinyal-sinyal ini dari badan pesawat musuh yang kita tangkap,” jelas Joko.
Keunggulan utama teknologi ini adalah kemampuannya mendeteksi pesawat siluman (Generasi 5) seperti F-35. Joko memaparkan bahwa pesawat siluman dirancang untuk membelokkan gelombang radar aktif frekuensi tinggi, namun rentan terdeteksi oleh prinsip hamburan gelombang frekuensi rendah yang digunakan dalam konsep radar pasif ini. Selain itu, biaya produksinya jauh lebih efisien. “Satu set radar pasif impor bisa mencapai Rp 250 miliar. Riset kami selama 4 tahun dengan biaya total sekitar Rp 40 miliar sudah menghasilkan jangkauan deteksi hingga 120 km,” ungkapnya.
Meski secara teknologi mumpuni, Joko Suryana menyoroti tantangan valley of death dalam hilirisasi. Sebagai lembaga pendidikan, ITB tidak memiliki pabrik manufaktur. Regulasi seringkali menghambat penyerapan produk R&D langsung oleh pengguna, yaitu TNI.
“ITB bisa membuat prototype yang berfungsi, bahkan lebih canggih dari kompetitor, tapi kami bukan pabrik. Solusinya, kita perlu industri pertahanan yang in-hand, yang bisa memproduksi teknologi ini secara massal,” tegasnya. Saat ini, ITB telah bergabung dalam konsorsium GCI (Ground Control Intercept) bersama PT Len Industri, PT RTI, dan Infoglobal untuk menjembatani hal ini.
Menutup diskusi, Joko menekankan bahwa Indonesia membutuhkan Integrated Defense System yang menghubungkan matra darat, laut, udara, antariksa, siber, dan bawah air. “Ancaman bisa datang tiba-tiba dari berbagai pintu. Kita butuh sistem yang memungkinkan koordinasi otomatis.”
Kontributor: Nada Raudah Mumtazah
