Merancang Pusat Riset Baru sebagai Simpul Kolaborasi Multidisiplin: Dari Gagasan Konseptual Menuju Arsitektur Kelembagaan yang Berkelanjutan
Pembentukan sebuah pusat riset baru pada hakikatnya bukan sekadar menghadirkan unit organisasi tambahan, melainkan merancang sebuah simpul strategis yang mampu mengonsolidasikan kekuatan keilmuan, menjawab kebutuhan pembangunan nasional, serta memperkuat arah transformasi institusi menuju universitas berbasis riset pascasarjana yang unggul secara global.
Diskusi ini berlangsung pada Jumat, 13 Februari 2026, pada pukul 14.30 WIB di Ruang Rapat B, Lantai 6, Gedung CRCS, Kampus ITB, Jalan Ganesha No. 10, Bandung, dipimpin oleh Deputi Direktur Bidang Pengembangan Pusat/Pusat Penelitian/PUI DRI ITB, Grandprix Thomryes Marth Kadja, hadir sebagai peserta diskusi perwakilan dari Teknokultur, Prima Roza, Harry Nuriman, Chairil Siregar, Shohib Khoiri, perwakilan dari KKIK/SPITM, Nia Kurniasih dan Mirzam Abdurrachman.
Diskusi memperlihatkan kesadaran kolektif bahwa keberadaan pusat baru harus berangkat dari diferensiasi yang jelas. Pusat tidak boleh hadir sebagai entitas yang hanya mereplikasi aktivitas unit yang telah ada, tetapi harus mampu mengisi celah keilmuan dan menjadi ruang temu bagi kolaborasi lintas disiplin yang selama ini berjalan secara sporadis. Dengan demikian, pusat ditempatkan bukan sebagai struktur administratif, melainkan sebagai platform orkestrasi pengetahuan.
Pendekatan bertahap dipandang sebagai strategi yang paling realistis. Pada fase awal, pusat difungsikan sebagai platform kolaborasi yang mengonsolidasikan sumber daya manusia, memetakan kompetensi peneliti, serta merumuskan program riset bersama yang konkret. Fase ini menjadi fondasi untuk membangun critical mass—yang meliputi rekam jejak publikasi, keberhasilan memperoleh pendanaan kompetitif, serta terbentuknya jejaring internasional—sebelum pusat diarahkan menuju status center of excellence.
Dalam konteks transformasi institusi yang mengedepankan postgraduate-driven research, pusat diharapkan menjadi ekosistem akademik yang mengintegrasikan riset dosen dengan topik tesis dan disertasi mahasiswa. Integrasi ini tidak hanya meningkatkan produktivitas publikasi ilmiah, tetapi juga membangun jalur regenerasi peneliti yang berkelanjutan. Pusat menjadi ruang inkubasi bagi mahasiswa pascasarjana untuk terlibat dalam proyek riset berskala nasional maupun internasional, sekaligus memperkuat keterkaitan antara program studi dan agenda riset institusi.
Pembahasan juga menekankan pentingnya penyusunan roadmap yang selaras dengan Rencana Strategis institusi. Roadmap tersebut harus mampu menerjemahkan indikator kinerja institusi ke dalam target yang operasional dan terukur pada tingkat pusat. Dengan demikian, kontribusi pusat terhadap peningkatan reputasi akademik, perolehan pendanaan eksternal, serta dampak sosial dapat dievaluasi secara objektif.
Keberlanjutan menjadi isu kunci yang tidak dapat diabaikan. Oleh karena itu, pusat perlu mengembangkan model bisnis yang memungkinkan diversifikasi sumber pendanaan. Kerja sama riset dengan industri, penyelenggaraan pelatihan profesional, layanan konsultansi berbasis kepakaran, hingga pemanfaatan fasilitas laboratorium sebagai revenue generating activity menjadi opsi yang dibahas. Namun demikian, seluruh aktivitas tersebut harus tetap berakar pada mandat akademik dan core keilmuan pusat agar tidak kehilangan identitasnya sebagai entitas ilmiah.
Pada tahap awal operasional, strategi quick wins dipandang sebagai instrumen penting untuk membangun legitimasi. Program kolaborasi internasional yang segera berjalan, riset bersama dengan mitra strategis, serta penyelenggaraan forum ilmiah berskala global akan menjadi indikator bahwa pusat tidak hanya hadir secara struktural, tetapi juga aktif secara substansial. Visibilitas ini diperkuat melalui strategi komunikasi yang sistematis, mencakup pengelolaan website, diseminasi policy brief, publikasi kegiatan, serta dokumentasi capaian.
Dari sisi tata kelola, kebutuhan akan struktur organisasi yang adaptif dan mekanisme kerja yang akuntabel menjadi perhatian utama. Sistem pelaporan, evaluasi periodik, serta prosedur pengambilan keputusan harus dirancang sejak awal untuk memastikan efektivitas operasional. Dukungan lintas fakultas melalui komitmen kelembagaan juga menjadi faktor kunci, mengingat karakter multidisiplin pusat menuntut koordinasi yang kuat dan berkelanjutan.
Selain itu, analisis risiko turut menjadi bagian penting dalam perencanaan. Risiko terkait keberlanjutan program, keterlibatan anggota, serta stabilitas pendanaan harus diidentifikasi beserta strategi mitigasinya. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pembentukan pusat tidak hanya berorientasi pada peluang, tetapi juga pada kesiapan menghadapi dinamika yang mungkin terjadi.
Sebagai langkah konkret, forum menyepakati pembentukan tim kecil yang bertugas menyusun dokumen konsep secara komprehensif dalam kurun waktu satu bulan. Dokumen tersebut akan memuat justifikasi akademik, peta jalan pengembangan, struktur organisasi, strategi pendanaan, program kerja prioritas, serta indikator kinerja. Penyusunan dokumen ini juga akan diperkuat dengan surat dukungan dari fakultas terkait sebagai bentuk komitmen institusional.
Melalui proses ini, pembentukan pusat tidak lagi dipahami sebagai penambahan unit baru, melainkan sebagai pembangunan arsitektur kelembagaan yang dirancang secara sadar untuk memperkuat ekosistem riset, memperluas jejaring kolaborasi global, serta meningkatkan kontribusi keilmuan terhadap masyarakat dan industri. Pusat menjadi ruang di mana pengetahuan diproduksi secara kolektif, diintegrasikan dengan pendidikan pascasarjana, dan ditransformasikan menjadi solusi nyata bagi tantangan masa depan.
