Peneliti FMIPA ITB Kembangkan Insulin Analog Aspart Berbasis Ragi untuk Atasi Ketergantungan Impor
BANDUNG, itb.ac.id – Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali melaksanakan rangkaian kunjungan (site visit) kepada para penerima dana Program Inovasi Unggul Berdampak Tahun 2025. Pada Rabu (4/2/2026), tim DRI menyambangi tim peneliti yang dipimpin oleh Prof. Dessy Natalia, Ph.D. dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB. Kunjungan ini difokuskan pada topik riset beliau yang berjudul “Produksi Proinsulin Analog Aspart dan Konversinya Menjadi Insulin Aktif dalam Pichia pastoris“.
Dalam diskusi tersebut, Prof. Dessy memaparkan bahwa pengembangan produk ini didasari oleh keresahan mendalam mengenai kondisi kesehatan masyarakat dan ketahanan farmasi nasional. Diabetes Melitus saat ini menjadi ancaman serius yang dapat memicu komplikasi fatal, mulai dari penyakit jantung hingga stroke.
Data statistik menunjukkan fakta yang mengkhawatirkan: Indonesia kini menempati peringkat ke-5 dunia dalam jumlah penderita diabetes terbanyak, mencapai 19,5 juta jiwa dari total 270 juta penduduk. Ironisnya, di tengah kebutuhan pasar yang sangat tinggi tersebut, Indonesia masih sangat bergantung pada produk luar negeri. Hingga saat ini, seluruh produk insulin yang terdaftar di Indonesia merupakan produk impor. Realitas inilah yang mendorong tim peneliti ITB untuk menciptakan kemandirian produksi insulin dalam negeri.
Mengenal Insulin Analog Aspart
Produk unggulan yang dikembangkan dalam riset ini adalah Insulin Analog Aspart. Berbeda dengan insulin manusia biasa, produk ini memiliki spesifikasi dan keunggulan tersendiri.
Melalui pendekatan rekayasa genetika, tim peneliti memodifikasi struktur asam amino pada protein insulin agar memiliki sifat fast-acting (bekerja cepat). Keunggulan utamanya terletak pada respon yang cepat, sesaat setelah disuntikkan, insulin ini langsung aktif mengatur kadar glukosa darah. Karakteristik ini menjadikannya solusi efektif bagi penderita diabetes untuk mengontrol lonjakan gula darah pasca-makan.
Proses produksi insulin ini memanfaatkan bioteknologi modern dengan menggunakan ragi Pichia pastoris sebagai inang produksi. Adapun alur mekanismenya adalah sebagai berikut:
- Desain dan Fermentasi: Tahap awal dimulai dengan mendesain konstruksi genetik pada ragi, yang kemudian dikembangbiakkan dalam fermentor. Proses ini menghasilkan cairan fermentasi yang mengandung pro-insulin.
- Pemisahan & Pemekatan: Cairan hasil fermentasi kemudian dipisahkan dari sel-sel ragi dan dipekatkan volumenya menggunakan teknologi Tangential Flow Filtration (TFF).
- Pemurnian (Purifikasi): Untuk mendapatkan protein murni, tim menggunakan instrumen FPLC (Fast Protein Liquid Chromatography). Melalui kolom resin, molekul dipisahkan berdasarkan muatan dan ukurannya hingga diperoleh isolat pro-insulin yang murni.
- Aktivasi: Pro-insulin yang telah murni kemudian dipotong menggunakan enzim tripsin untuk mengaktifkannya menjadi Insulin Aspart yang siap bekerja dalam tubuh manusia.
Sebagai langkah awal industrialisasi, tim telah berhasil membuat Research Cell Bank (bank sel ragi pembawa gen insulin) yang kini telah disimpan di PT Bio Farma sebagai mitra industri.
Visi Masa Depan: Menuju Insulin Oral
Pengembangan riset ini tidak berhenti pada produk injeksi (suntik). Prof. Dr. Rukman Hertadi, anggota tim peneliti, mengungkapkan visi masa depan dari riset ini, yaitu penciptaan Insulin Oral.
Memahami ketidaknyamanan pasien terhadap jarum suntik, tim sedang meneliti sistem penghantaran obat menggunakan polimer inulin. Teknologi ini dirancang untuk melindungi insulin agar tidak rusak oleh asam lambung saat dikonsumsi secara oral.
Ke depannya, insulin ini diharapkan dapat hadir dalam bentuk serbuk atau tablet yang bisa dicampurkan ke dalam makanan. Dengan demikian, penderita diabetes dapat menikmati makanan manis tanpa rasa cemas karena makanan tersebut telah mengandung insulin pengontrol gula darah. Sinergi antara ITB dan PT Bio Farma diharapkan dapat terus berlanjut untuk merealisasikan produk inovatif ini hingga dapat diakses oleh masyarakat luas.
Kontributor: Aura Salsabila Alviona
