Pengembangan Bioartificial Kidney dan Organ-on-Chip, Kupas Tuntas Masa Depan Inovasi Kesehatan di Sharing Session Vol. 12
BANDUNG, dri.itb.ac.id – Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui Sekolah Farmasi (SF) ITB bekerja sama dengan Direktorat Riset dan Inovasi ITB terus mendorong kemajuan inovasi di bidang kesehatan medis. Komitmen ini terwujud dalam Sharing Session Vol. 12 yang mengangkat tema bertajuk “How Organ-on-Chip and Bioartificial Organs Are Shaping the Future of Healthcare” pada Kamis (21/05/26). Kegiatan strategis ini menghadirkan pakar internasional, Prof. dr. Rosalinde Masereeuw, Professor of Experimental Pharmacology dari Utrecht Institute for Pharmaceutical Sciences sekaligus Vice-dean of Research, Faculty of Science, Utrecht University. Dr. apt. Amirah Adlia dari SF ITB hadir dalam diskusi keilmuan ini sebagai moderator.
Dalam pemaparannya, Prof. Rosalinde menyoroti kompleksitas mekanisme ekskresi ginjal dalam menyaring limbah tubuh maupun obat-obatan. Ia memaparkan temuan terkait gut-kidney axis atau poros usus-ginjal, sebuah proses di mana ginjal merespons metabolisme dari saluran pencernaan dengan efisien. Namun, pada pasien gagal ginjal kronis, keseimbangan ini terganggu sehingga memicu masalah mikrobiota usus (gut microbiota dysbiosis). Tim risetnya juga menemukan bahwa manajemen farmakologis untuk pasien ginjal perlu dievaluasi kembali, mengingat banyaknya obat yang justru bersaing dengan racun uremik sehingga dapat memperburuk sisa fungsi ginjal pasien.
Sebagai solusi masa depan, riset yang dipaparkan mengarah pada pengembangan bioengineered kidney tubes (tabung ginjal hasil rekayasa biologis) yang ditujukan untuk menciptakan bioartificial kidney. Melalui pendekatan Organ-on-Chip, sel-sel epitel tubulus ginjal ditumbuhkan dengan dukungan teknologi pencetakan 3D mutakhir, seperti melt electrowriting, untuk meniru arsitektur pembuluh darah fisiologis secara akurat. Tim peneliti juga memanfaatkan extracellular vesicles untuk mematangkan organoid ginjal (tubuloids), sehingga sel-sel tersebut mampu mengekspresikan protein dan fungsi ekskresi layaknya jaringan ginjal dewasa.
Teknologi tabung ginjal rekayasa ini tidak hanya berpotensi menjadi komponen alat medis ekstrakorporeal (di luar tubuh), tetapi juga terbukti sangat efektif untuk memodelkan penyakit langka.
“Tabung ginjal rekayasa biologis ini selain menjadi komponen perangkat ginjal bio-artifisial, juga dapat digunakan untuk tujuan lain, dan salah satu tujuan tersebut adalah untuk mempelajari penyakit,” jelas Prof. Rosalinde. Ia mencontohkan penggunaan teknologi ini dalam mempelajari Sistinosik (Cystinosis), penyakit kelainan ginjal pada anak di mana kristal sistin merusak sel dan menyebabkan kebocoran nutrisi esensial.
Lebih jauh, Prof. Rosalinde menegaskan bahwa pengembangan rekayasa jaringan ini tidak boleh mengabaikan aspek regulasi dan bioetika. Target inovasi saat ini sudah bergerak menuju pra-klinis dengan perangkat skala besar (upscaled system) yang diuji coba untuk meniru terapi dialisis secara in-vivo.
“Kita tidak boleh menunggu, tetapi kita harus terus mengembangkan dan menyadarinya. Jadi, peta jalan yang saya tunjukkan ini, kami sebenarnya sekarang juga sedang berdiskusi dengan badan pengatur untuk melihat pengembangan lebih lanjut, dan ginjal bio-artifisial akan menjadi target menengah karena itu sangat mungkin dilakukan,” pungkas Prof. Rosalinde.
Melalui wadah diseminasi seperti Sharing Session ini, Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) ITB berharap sinergi antara peneliti ITB dan para ahli global mampu menghasilkan riset yang pada akhirnya membawa dampak revolusioner bagi pelayanan kesehatan di masa depan.
Kontributor: Nada Raudah Mumtazah
