Enter your keyword

Peringati 100 Tahun BTHF, DRI ITB Tegaskan Visi Postgraduate-Driven Research dalam Kolaborasi Indonesia-Belanda

Peringati 100 Tahun BTHF, DRI ITB Tegaskan Visi Postgraduate-Driven Research dalam Kolaborasi Indonesia-Belanda

Peringati 100 Tahun BTHF, DRI ITB Tegaskan Visi Postgraduate-Driven Research dalam Kolaborasi Indonesia-Belanda

BANDUNG, dri.itb.ac.id – Dalam perayaan satu abad Bandoengsche Technische Hoogeschool Fonds (BTHF), Institut Teknologi Bandung (ITB) tidak hanya bernostalgia, namun menegaskan kembali DNA riset yang telah tertanam sejak era kolonial. Dalam sesi Career, Talent & Networking Expo yang digelar di Aula Barat ITB, Selasa (10/2/2026), Dr. Grandprix Thomryes Marth Kadja, M.Si., Wakil Kepala Bidang Pengembangan Pusat/Pusat Penelitian/PUI Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) ITB, memaparkan strategi besar ITB menjembatani warisan masa lalu menuju tantangan masa depan.

Alih-alih sekadar memaparkan statistik, Dr. Gradprix ini membuka wawasan audiens dengan sebuah fakta sejarah yang jarang diketahui publik, peran sentral ITB dalam penemuan sifat sinar kosmik (cosmic ray).

Dr. Grandprix menyoroti sosok Profesor Jacob Clay, Rektor kedua Technische Hoogeschool (cikal bakal ITB) yang menjabat pada 1925-1927. Pada masa itu, terjadi perdebatan sengit di komunitas fisika global antara dua peraih Nobel, Robert Millikan dan Arthur Compton, mengenai sifat sinar kosmik, apakah itu gelombang elektromagnetik atau partikel bermuatan.

Riset yang dilakukan Jacob Clay di kampus Ganesha pada tahun 1927 menjadi kunci fundamental yang dikutip oleh Arthur Compton untuk membuktikan bahwa sinar kosmik adalah partikel bermuatan. Dr. Grandprix menegaskan bahwa riset kelas dunia ini dilakukan dengan instrumen terbatas di Bandung, bukan di laboratorium raksasa Eropa.

“Apa yang bisa kita pelajari adalah bahwa kualitas riset tidak bergantung pada seberapa besar atau kecil laboratoriumnya, tetapi lebih pada bagaimana kita belajar dari alam melalui cara yang penuh semangat dan tangguh,” ujar Dr. Grandprix mengutip laporan 100 Years of Cosmic Rays.

Membawa semangat tersebut ke era modern, ITB kini melakukan transformasi strategis. Dr. Grandprix memaparkan visi ITB 2030 yang menargetkan posisi 150 besar dunia dalam QS Ranking. Kunci utama untuk mencapai hal tersebut adalah pergeseran fokus populasi mahasiswa menuju Postgraduate-Driven Research.

“Kami mencoba menggeser fraksi populasi menuju pascasarjana. Bukan berarti sarjana tidak penting, tetapi kami perlu meningkatkan porsi program pascasarjana kami,” jelasnya.

Strategi ini mulai membuahkan hasil. Pada tahun 2025, untuk pertama kalinya ITB berhasil membalikkan tren kualitas publikasi. Mayoritas publikasi riset ITB (40%) kini berada di kuartil tertinggi (Q1), melampaui publikasi non-kuartil yang sebelumnya mendominasi.

Peran BTHF sebagai mitra strategis dinilai krusial dalam ekosistem ini. Melalui pendanaan BTHF Grants, ITB berhasil mengirimkan talenta terbaiknya ke kancah global.

Salah satu kisah sukses yang diangkat adalah kolaborasi Dr. Roswanda, asisten professor dari Program Studi Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB dengan Profesor Ben Feringa, peraih Nobel Kimia, di Universitas Groningen. Berkat dukungan BTHF, mahasiswa pascasarjana ITB kini memiliki kesempatan langka untuk mendapatkan supervisi langsung dari seorang peraih Nobel.

Menutup sesi pembuka dalam acara 100 tahun BTHF, Dr. Grandprix memberikan pesan motivasi bagi para mahasiswa dan alumni yang hadir untuk terus mengejar keunggulan akademik tanpa takut akan keterbatasan.

“Kalau mau pasti ada jalan, kalau tidak mau pasti banyak alasan. If we truly want it, we will do our best and make it happen,” pungkasnya mengutip kata-kata Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., Rektor ITB saat ini.

Acara ini dilanjutkan dengan sesi pitching dari 10 perusahaan dan 1 universitas. Tujuannya adalah menjembatani talenta ITB dengan perusahaan-perusahaan Belanda dan multinasional di sektor air, energi, dan teknologi, sebagai bukti nyata implementasi riset ke dunia industri. Perusahaan yang hadir di antaranya Van Oord, Haskoning Indonesia, PT Fugro Indoneisa, Nazava Water Filters, De Heus, PT Lion Super Indo, The Water Agency, Boskalis, NX Filtration, Agriterra, dan Leiden University.

 

Kontributor: Nada Raudah Mumtazah