Enter your keyword

Podcast Mini DRI episode 2 Kepercayaan, Semangat Merah Putih, dan Lahirnya “Katalis Merah Putih”

Podcast Mini DRI episode 2 Kepercayaan, Semangat Merah Putih, dan Lahirnya “Katalis Merah Putih”

Podcast Mini DRI episode 2 Kepercayaan, Semangat Merah Putih, dan Lahirnya “Katalis Merah Putih”

Bagi Melia Laniwati Gunawan, setiap langkah dalam pengembangan katalis adalah perpaduan antara semangat dan ketakutan. Sejak awal, timnya sadar bahwa kepercayaan industri bukan sesuatu yang datang begitu saja. Mereka harus membuktikan bahwa katalis yang dirancang di laboratorium kampus mampu bekerja sebaik, atau bahkan lebih baik, dari produk komersial yang selama ini diimpor.

Taruhannya tidak kecil, sebab jika gagal, kerugian di sisi industri bisa mencapai miliaran rupiah, dan yang lebih berat, kepercayaan yang susah payah dibangun bisa runtuh seketika.

Di titik inilah Melia menyebut pentingnya peran orang orang yang “dadanya merah putih”, atau memakai istilah Prof. Subagio yang juga penggemar sepak bola, orang-orang yang merasa ada “Garuda” di dadanya. Mereka adalah para pengambil keputusan di industri dan institusi yang berani memberi kepercayaan kepada peneliti dalam negeri, meski itu berarti mempertaruhkan jabatan dan nama lembaganya. Kepercayaan itu lahir dari keyakinan bahwa kemampuan ilmuwan Indonesia tidak kalah dari luar negeri; yang sering kurang justru keberanian dan kesempatan. Begitu jalur kerja sama terbuka, permintaan dari industri mulai mengalir dan secara alami menjadi sumber tema bagi tugas akhir mahasiswa, yaitu mengembangkan Katalis A, B, C, dan seterusnya.

Dari sinilah istilah “Katalis Merah Putih” mulai digunakan sejak 2011, ketika katalis hydrotreating nafta pertama yang dikembangkan tim ITB berhasil menunjukkan kinerja setara dengan katalis komersial luar negeri. Seorang alumnus Teknik Kimia, almarhum Lisminto, mengusulkan nama itu karena seluruh formulasi dan proses pengembangan dilakukan oleh putra putri bangsa tanpa campur tangan pihak luar. “Merah putih” di sini jelas bukan soal warna fisik katalis—yang umumnya tidak merah—melainkan simbol kedaulatan teknologi. Di balik nama tersebut, Melia dan tim merasakan beban moral yang besar, yakni lambang gajah ITB seolah bertengger di pundak, mengingatkan bahwa setiap kepercayaan yang datang harus dijawab dengan kerja serius dan hasil nyata. Karena itu, regenerasi pun dipersiapkan; ketika ia pensiun kelak, sudah ada generasi muda yang dididik untuk melanjutkan estafet Katalis Merah Putih.

Momentum baru muncul tahun 2016, ketika Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) mulai membuka skema pendanaan riset terkait sawit. Tim ITB mengajukan proposal untuk melanjutkan kembali gagasan yang pernah digarap Subagio puluhan tahun sebelumnya, kali ini dengan tujuan yang lebih terarah, yaitu mengembangkan katalis untuk mengubah fraksi minyak sawit menjadi bensin. Proposal itu diterima, dan riset pun dimulai kembali dengan napas baru.

Secara kimia, penjelasannya kembali pada konsep dasar yang akrab di bangku kuliah. Minyak sawit adalah trigliserida, molekul hidrokarbon dengan gugus karboksilat yang mengandung oksigen di ujungnya. Jika “oksigen” itu dihilangkan dan rantai trigliserida dipotong menjadi bagian bagian lebih kecil, struktur yang tersisa adalah hidrokarbon yang komposisinya mirip dengan fraksi minyak bumi. Di kilang minyak, fraksi fraksi ini dikenal sebagai nafta yang dapat diolah menjadi bensin, kerosin yang bisa menjadi bahan bakar pesawat, hingga fraksi berat yang ebrdekatan dengan diesel. Tantangannya, yaitu menghilangkan oksigen dalam molekul nyata tentu tidak sesederhana menghapus simbol “O” di kertas. Di sinilah katalis berperan.

Dengan merancang katalis dan kondisi reaksi yang tepat, tim ITB berhasil mengonversi minyak sawit menjadi bensin dengan angka oktan (RON) yang sangat tinggi. Pendekatan serupa, dengan jenis katalis dan kondisi reaksi yang berbeda, juga menghasilkan fraksi lain yang setara dengan diesel. Karena istilah “biodiesel” sudah lazim dipakai untuk produk berbasis metil ester, tim memilih menyebut produknya diesel biohidrokarbon, diesel dari biomassa yang di literatur global sering dikenal sebagai green diesel. Dari inti sawit, mereka memproduksi minyak inti sawit yang, melalui jalur reaksi serupa, dapat diolah menjadi kerosin dan kemudian disempurnakan menjadi bioavtur.

Semangat baru di kebun sawit dan di tengah masyarakat

Bagi Melia dan timnya, salah satu kebahagiaan terbesar adalah melihat perubahan di lapangan. Kabar bahwa minyak sawit bisa diolah bukan hanya menjadi CPO atau minyak goreng tetapi juga bensin diesel dan avtur membuat para petani sawit melihat tanaman mereka dengan cara yang berbeda. Sawit tidak lagi tampak sebagai komoditas mentah semata, melainkan sumber energi yang strategis dan penuh kemungkinan. Di tingkat masyarakat luas, keberhasilan ini menumbuhkan rasa bangga bahwa dengan pendanaan riset yang jauh lebih kecil dibanding negara maju, ilmuwan Indonesia tetap mampu mengembangkan teknologi yang diakui dan diperhitungkan dunia.

Semangat itu semakin menguat ketika muncul rencana pelarangan sawit di Eropa sekitar tahun 2018. Di tengah tekanan tersebut Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa jika sawit tidak terserap di luar negeri maka Indonesia akan memakainya sendiri. Bagi para peneliti, kalimat sederhana itu terasa seperti dorongan moral. Mereka sadar konsumsi minyak goreng tidak mungkin digandakan berkali-kali lipat, sementara kebutuhan bahan bakar untuk kendaraan bermotor sangat besar dan selama ini masih ditopang impor. Jika minyak sawit bisa diubah menjadi bahan bakar bermutu, maka dampaknya langsung menyentuh kedaulatan energi dan kesejahteraan masyarakat.

Pabrik katalis nasional dan lahirnya BENSA

Dari sisi teknologi, perjalanan ini melahirkan tonggak penting berupa berdirinya pabrik katalis nasional. Sebelum itu Indonesia tidak memiliki pabrik katalis sendiri sehingga seluruh kebutuhan harus diimpor. Hasil riset di kampus dan dukungan program strategis nasional akhirnya membuat pabrik katalis pertama dapat terwujud. Kehadirannya tidak hanya memungkinkan produksi katalis Merah Putih dalam skala besar, tetapi juga menekan harga katalis sejenis di luar negeri sebagai efek tidak langsung yang kuat terasa di kalangan industri.

Di tengah kemajuan itu, tim merasa perlu memberi identitas yang jelas pada bensin berbasis sawit. Karena riset ini didukung dana dari badan pengelola dana perkebunan kelapa sawit dan berbasis bahan baku sawit, mereka memopulerkan istilah bensin sawit yang disingkat menjadi BENSA. Kini ketika orang menyebut BENSA, asosiasinya langsung mengarah pada bensin yang dihasilkan dari minyak sawit. Melia menegaskan bahwa tujuan mereka bukan menggantikan bensin fosil secara mendadak, melainkan menyiapkan penopang ketika cadangan minyak bumi menurun dan kebutuhan energi terus meningkat. Indonesia punya lahan luas yang masih dapat ditanami sawit dan berbagai tanaman penghasil minyak lain, dan di situ letak peluang besar bahan bakar biohidrokarbon.

Skala produksi, uji lapangan, dan peran minyak nabati lain

Secara teknis, katalis dan teknologi proses untuk BENSA sudah mampu menghasilkan bensin sawit hingga ratusan liter. Target yang sedang dikejar adalah kapasitas seribu liter per hari. Namun Melia mengingatkan bahwa mereka masih berada pada tahap penelitian sehingga prosesnya dijalankan dalam berbagai kondisi operasi untuk mencari titik yang paling optimal, bukan diproduksi terus menerus seperti di pabrik komersial. Meski demikian, produk BENSA ini sudah cukup sering digunakan. Di lingkungan kampus para dosen asisten peneliti dan teknisi mengisi sepeda motor mereka dengan BENSA, sekaligus menguji perilaku bahan bakar tersebut dalam pemakaian sehari hari.

Di luar kampus, BENSA juga hadir di ajang lomba kendaraan hemat energi dan kompetisi mahasiswa. Tim dari Universitas Jember bahkan datang langsung ke laboratorium untuk mengambil puluhan liter BENSA sebagai bahan bakar perlombaan. Melia sempat mengingatkan agar pengangkutan dilakukan dengan hati hati, sebaiknya tidak saat mobil melaju di siang hari yang panas, supaya uap bensin tidak memenuhi kabin dan membuat penumpang pusing. Bagi tim, cerita cerita seperti ini adalah penanda bahwa BENSA sudah melewati tahap konsep dan benar-benar hadir sebagai produk yang bisa dipakai.

Ke depan, Melia melihat peluang untuk melangkah lebih jauh dari sawit saja. Indonesia adalah negara agraris dengan banyak tanaman penghasil minyak. Katalis yang dikembangkan di laboratorium ITB sudah dicoba pula pada berbagai jenis minyak nabati lain. Artinya, pintu menuju era bahan bakar biohidrokarbon terbuka lebar dari beragam sumber biomassa lokal. Di titik ini peran kampus adalah memastikan katalis dan teknologi prosesnya siap, sekaligus menyiapkan sumber daya manusia melalui pelatihan agar masyarakat dapat mengelola teknologi tersebut ketika saatnya tiba.

Perbincangan hangat di podcast mini Direktorat Riset dan Inovasi ITB bersama Ibu Melia, Pak Efson dan Nadia mengingatkan kita bahwa riset bukan hanya urusan jurnal dan laboratorium, tetapi juga bentuk kasih sayang pada bangsa. Melalui kisah Pusat Rekayasa Katalisis ITB, kita melihat bagaimana mimpi yang dulu terasa jauh, kini menjelma menjadi inovasi nyata yang membawa manfaat bagi Indonesia. Seperti pesan Ibu Melia, “jangan takut bermimpi, dan jangan gentar meneliti” sebab di balik kegagalan, selalu ada benih pengetahuan yang siap tumbuh jika kita tekun menyiraminya.

Bagi para mahasiswa dan peneliti muda, cerita ini adalah ajakan halus namun tegas, peliharalah rasa ingin tahu, percayalah pada kemampuan diri, dan jangan ragu berdiri sejajar di panggung dunia sebagai anak bangsa. Dengan ilmu pengetahuan, kolaborasi, dan hati yang tulus untuk Indonesia, kita bukan hanya “bisa”, tetapi pasti mampu berkontribusi bagi kemandirian dan masa depan negeri.

Dari Trigliserida ke Bensin Sawit

Perjalanan riset konversi minyak sawit menjadi bensin dimulai sejak 1982, Prof Subagio telah mengkaji bagaimana fraksi tertentu dari minyak sawit, yaitu stearin, dapat dikonversi menjadi bensin dengan bantuan katalis tertentu. Namun pada masa itu fokus nasional masih sangat kuat pada minyak bumi yang sedang “berjaya”, sehingga riset berbasis sawit tidak mendapat prioritas pendanaan. Penelitian berlanjut dalam skala kecil untuk membimbing tugas akhir mahasiswa, tanpa dukungan program besar yang berkelanjutan.

Pesan Bu Melia untuk generasi muda

“Untuk generasi muda Indonesia, jangan takut bermimpi, sebab dari mimpi yang berani, lahir inovasi yang mengubah negeri.

Jangan gentar meneliti, sebab di balik kegagalan, tersembunyi benih pengetahuan. Percayalah pada kemampuan diri sendiri, bahwa karya anak bangsa mampu berdiri sejajar di panggung dunia.

Teruslah menyalakan api rasa ingin tahu, melangkah dengan tekad, bekerja dengan hati, dan berinovasi dengan cinta pada tanah air.

Sebab riset bukan sekedar ilmu, tetapi wujud kasih pada bangsa. Jalan sunyi yang membawa cahaya bagi kemandirian Indonesia.”

 

Simpul 3P Vol. 30 Edisi Oktober 2025, halaman 1
Penanggung Jawab: Prof. Dr. apt. Elfahmi, S.Si., M.Si. Dr. Ir. Grandprix Thomryes Marth Kadja, M.Si.
Editor: Efson Thrismono, S.ST, M.Pd.
Creative Lead: Nadia Falasiva
Photographer: Ali Parma, S.Ds.
Kontributor:Prof. Dr. Ir. Melia Laniwati Gunawan, M.S., IPM.; Muhammad Fadlan Raihan, M.Si.; Dhiyaul Auliyah Muslimin, S.T., M.T.; Tania Miranda Sarlie, S.Farm., M.Farm.; Dila Puspita, Ph.D.; Prof. Dr. Zeily Nurachman, M.S.; Hilarius Adiwarna, S.Si.; Prof. Sidik Permana; Noviyanti, A.Md., S.M.; Inda Meidian, S.Kom.

Screenshot