Enter your keyword

Prof. Elfahmi: Pemanfaatan CO₂ Perkuat Arah Transisi Energi dan Proyek CCS–CCUS sebagai Agenda Nasional

Prof. Elfahmi: Pemanfaatan CO₂ Perkuat Arah Transisi Energi dan Proyek CCS–CCUS sebagai Agenda Nasional

Prof. Elfahmi: Pemanfaatan CO₂ Perkuat Arah Transisi Energi dan Proyek CCS–CCUS sebagai Agenda Nasional

Carbon Digital Conference (CDC) 2025 yang berlangsung di West Hall & East Hall (Aula Barat & Aula Timur), Ganesha Campus, Jln. Ganesha 10 Coblong, Kota Bandung, Jawa Barat, pada 8–9 Desember 2025 menjadi ruang temu strategis bagi pemerintah, industri, akademisi, dan startup teknologi iklim untuk membahas peran kemajuan digital dalam mendorong dampak lingkungan yang lebih positif.

Hari Pertama

Pada Sambutan Pembukaan Carbon Digital Conference Indonesia (CDC) 2025 oleh Prof. Lavi Rizki Zuhal, Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi ITB, pada hari Senin, 8 September 2025 dengan tema From Capture to Credit: Digital Pathways for Indonesia’s Carbon Future, menyampaikan bahwa ITB bersama dengan Indonesia Carbon Trade Association (IDCTA) serta pemangku kepentingan internasional, berupaya membangun berbagai penyelesaian berbasis Keilmuan serta Sumber Daya Manusia untuk Teknologi Rendah Karbon.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, isu dekarbonisasi tidak hanya dipahami sebagai agenda lingkungan, tetapi juga sebagai peluang ekonomi baru melalui penguatan Nilai Ekonomi Karbon (NEK) dan pengembangan teknologi penurunan emisi. Salah satu fokus pembahasan adalah kesiapan ekosistem Carbon Capture and Storage (CCS) serta Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS) yang dinilai mulai memasuki fase implementasi yang lebih nyata di Indonesia—termasuk dalam aspek konstruksi, kemitraan lintas sektor, hingga dukungan kebijakan.

Hari Kedua

Sebelum sesi penandatangan Pengesahan Memorandum of Understanding antara ITB dengan CO2 Capture and Storage Research Centre (CO2CRC Ltd. Australia), di Aula Barat ITB, pada hari Selasa, 9 Desember 2025, Direktur Riset dan Inovasi ITB, Prof. Dr. apt. Elfahmi, S.Si., M.Si., menyampaikan kepada wartawan bahwa pemanfaatan karbon dioksida (CO₂) perlu ditempatkan dalam kerangka perubahan paradigma: dari gas buangan yang merusak lingkungan menjadi material yang dapat dimanfaatkan untuk masa depan energi. Ia menyoroti bahwa selama ini sejumlah pembangkit dan aktivitas sektor energi menghasilkan CO₂ dalam jumlah besar, yang berdampak buruk terhadap lingkungan. Namun kini, berbagai upaya riset dan teknologi mulai diarahkan untuk memanfaatkannya—bukan semata menekan emisi, tetapi juga membuka peluang energi yang lebih bersih dan bernilai.

“Selama ini beberapa tempat pembangkit energi menghasilkan CO₂ yang terlalu banyak sehingga mempunyai pengaruh yang tidak baik bagi lingkungan. Sekarang ada upaya untuk memanfaatkannya,” ujar Prof. Elfahmi dalam konteks CDC 2025.

Menurutnya, langkah pemanfaatan CO₂ tersebut juga tercermin dari penguatan peran pusat riset CCS–CCUS di ITB yang diketuai Prof. Ir. Sanggono Adisasmito. Dalam pandangan Prof. Elfahmi, forum CDC 2025 bukan hanya ajang diskusi, melainkan bagian dari upaya konkret untuk mengakselerasi pemanfaatan CO₂, terutama ketika proyek-proyek CCS–CCUS di Indonesia mulai memasuki tahap awal konstruksi. Ia menilai momentum ini penting untuk memastikan transisi energi berjalan berbasis sains, teknologi, dan kolaborasi yang solid.

Prof. Elfahmi juga memberi perhatian khusus pada dukungan pemangku kebijakan daerah yang hadir dalam kegiatan tersebut. Baginya, kehadiran wali kota dalam forum terkait CCS–CCUS bukan sekadar simbolis, melainkan sinyal politik dan dukungan publik yang dapat memperkuat legitimasi program. Dukungan itu, lanjutnya, menambah keyakinan dan “kepercayaan diri” untuk mendorong CCS–CCUS sebagai proyek berskala nasional.

“Kehadiran Wali Kota pada acara saat ini merupakan salah satu yang men-support, menjadi menambah confidence… untuk betul-betul menjadikan proyek ini sebagai proyek nasional,” tegasnya.