Enter your keyword

Prof. Katja Loos: Kimia Polimer, Keberlanjutan, dan Pentingnya Kolaborasi dalam Riset

Prof. Katja Loos: Kimia Polimer, Keberlanjutan, dan Pentingnya Kolaborasi dalam Riset

Prof. Katja Loos: Kimia Polimer, Keberlanjutan, dan Pentingnya Kolaborasi dalam Riset

BANDUNG, dri.itb.ac.id – Direktorat Riset dan Inovasi ITB kembali menghadirkan diskusi inspiratif melalui Podcast DRI Episode 14. Pada episode ini, DRI ITB menghadirkan Prof. Katja Loos dari University of Groningen, Belanda, seorang ilmuwan di bidang kimia polimer yang banyak meneliti biokatalisis, biobased monomers, enzymatic polymerization, serta pengembangan material polimer yang lebih berkelanjutan. Dipandu oleh Dr. Rachmawati, S.Si., M.Si. sebagai pembawa acara episode ini.

Dalam percakapan tersebut, Prof. Katja Loos membagikan kisah awal ketertarikannya pada dunia kimia. Ia menjelaskan bahwa minatnya terhadap sains tumbuh sejak sekolah. Awalnya, ia lebih tertarik pada fisika. Namun, pengalaman magang di laboratorium kimia mengubah arah ketertarikannya. Dari sana, ia mulai melihat kimia sebagai bidang yang menarik dan penuh peluang untuk dikembangkan.

Ketertarikannya pada kimia polimer juga berkembang melalui pengalaman akademik di Jerman. Saat menempuh studi di Mainz, ia mendapatkan banyak kesempatan mempelajari ilmu polimer melalui lingkungan akademik yang kuat, dosen-dosen yang mendukung, serta program internasional yang membuka peluang belajar di luar negeri. Pengalaman tersebut menjadi salah satu titik penting yang membawanya terus berkarya di bidang polymer science.

Salah satu tema utama dalam diskusi ini adalah peran kimia polimer dalam menjawab tantangan keberlanjutan. Prof. Katja Loos menekankan bahwa polimer sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, salah satunya melalui contoh botol plastik. Menurutnya, masyarakat memahami bahwa plastik memiliki manfaat, tetapi juga harus menyadari pentingnya penggunaan yang bertanggung jawab, pengurangan limbah, serta daur ulang.

Dalam risetnya, Prof. Loos dan tim telah lama bekerja dengan sumber daya terbarukan, biobased monomers, dan proses yang lebih ramah lingkungan melalui enzymatic polymerization. Ia juga menjelaskan bahwa pendekatan terhadap polimer saat ini tidak lagi hanya berfokus pada penciptaan material baru, tetapi juga mempertimbangkan sejak awal bagaimana material tersebut dapat didaur ulang atau dikelola pada akhir masa pakainya.

Ia menyebut bahwa tantangan besar dalam pengembangan material polimer baru adalah membawa hasil riset dari laboratorium menuju aplikasi komersial berskala besar. Banyak material plastik yang digunakan saat ini telah dikembangkan puluhan tahun lalu dan sudah memiliki sistem produksi industri yang sangat mapan. Karena itu, menggantikan material plastik yang telah ada memerlukan proses panjang, terutama jika aplikasinya membutuhkan produksi dalam jumlah besar.

Selain keberlanjutan, diskusi juga menyoroti pentingnya kolaborasi dalam riset. Prof. Loos menilai bahwa tidak semua laboratorium memiliki seluruh fasilitas dan instrumen yang dibutuhkan. Karena itu, kolaborasi dengan kelompok riset lain, industri, maupun institusi berbeda menjadi bagian penting untuk memperkuat kualitas penelitian. Menurutnya, kerja sama dapat mempercepat proses riset, membuka akses terhadap teknik pengukuran tertentu, dan meningkatkan dampak publikasi ilmiah.

Prof. Loos juga membahas perkembangan artificial intelligence dalam pendidikan dan riset kimia. Ia melihat AI memiliki sisi positif, terutama sebagai alat bantu pembelajaran dan pengecekan bahasa dalam penulisan naskah ilmiah. Mahasiswa dapat menggunakan AI untuk membantu memahami materi kuliah, buku, atau slide yang belum sepenuhnya mereka pahami. Namun, ia juga mengingatkan bahwa penggunaan AI tetap perlu diarahkan agar tidak menggantikan proses berpikir ilmiah dan kemampuan dasar mahasiswa.

Terkait mahasiswa ITB yang pernah bekerja di laboratoriumnya, Prof. Loos memberikan kesan positif. Ia menyampaikan bahwa mahasiswa ITB menunjukkan kemampuan yang baik, bahkan beberapa di antaranya berhasil menghasilkan publikasi dari riset magisternya. Ia juga menyoroti bahwa keterbatasan fasilitas tidak selalu menjadi hambatan utama, selama mahasiswa dan peneliti memiliki dasar teori yang kuat, kreativitas, serta kemauan untuk berkolaborasi.

Sebagai pesan penutup, Prof. Katja Loos mendorong mahasiswa, peneliti muda, dan sivitas akademika ITB untuk tetap percaya diri dalam membangun karier akademik. Menurutnya, keterbatasan fasilitas dapat diatasi melalui kerja sama, kreativitas, dan kemampuan memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Ia menekankan bahwa peneliti tidak perlu merendahkan diri hanya karena tidak memiliki peralatan yang paling mutakhir. Hal terpenting adalah terus berkarya, membangun kolaborasi, dan mengikuti minat riset dengan sungguh-sungguh.

Melalui episode ini, Podcast DRI tidak hanya menghadirkan wawasan tentang kimia polimer, tetapi juga membuka refleksi lebih luas tentang masa depan riset: keberlanjutan, kolaborasi, integrasi teknologi, dan keberanian peneliti muda untuk terus berkembang.

 

Youtube: Podcast DRI EPS 14 – Prof. Katja Loos: Kimia Polimer, Keberlanjutan, dan Kolaborasi dalam Riset