Pusat Unggulan Inovasi Bahan Alam (PUBA) ITB untuk Kemandirian Farmasi Nasional — Dari cangkang telur hingga daun pegagan, Pharma V memimpin hilirisasi riset bahan alam ITB menjadi produk kosmetik dan herbal inovatif yang menopang bioekonomi dan kesehatan bangsa.
Pusat Unggulan Inovasi Bahan Alam (PUBA) ITB untuk Kemandirian Farmasi Nasional — Dari cangkang telur hingga daun pegagan, Pharma V memimpin hilirisasi riset bahan alam ITB menjadi produk kosmetik dan herbal inovatif yang menopang bioekonomi dan kesehatan bangsa.
Didirikan pada tahun 2024 di bawah naungan Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung, Pusat Hilirisasi Farmasi atau Center for Pharma Valorisation ITB (PharmaV) hadir sebagai pusat unggulan yang mengintegrasikan riset, pengembangan teknologi, dan hilirisasi produk farmasi berbasis bahan alam. Lembaga ini menjadi jembatan antara laboratorium dan industri, memastikan hasil riset akademik benarbenar dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Kini, pusat tersebut tengah mengajukan diri sebagai Pusat Unggulan Kosmeseutikal dan Obat Bahan Alam untuk Penyakit Degeneratif. Visinya besar namun nyata: menjadi rujukan nasional dan internasional dalam pengembangan produk berbasis bahan alam yang inovatif, berkualitas, dan berkelanjutan. Melalui riset berfokus pada bahan baku kosmetik dan obat tradisional, lembaga ini berkomitmen mendukung kemandirian farmasi nasional, memperkuat bioekonomi Indonesia, serta meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Sebagai bagian dari Program PUIPT, pusat unggulan ini menargetkan pengembangan produk herbal dan kosmetik unggulan yang mampu bersaing di pasar global. Selain menjadi wadah alih teknologi dan diseminasi pengetahuan, lembaga ini juga berperan mempererat kerja sama antara industri, pemerintah, dan masyarakat. Dengan tata kelola yang profesional dan berorientasi keberlanjutan, tujuannya jelas: menjadi pusat rujukan bertaraf dunia di bidang kosmeseutikal dan obat bahan alam.
Berdasarkan evaluasi tahun 2024, fokus penelitian diarahkan pada pengembangan bahan baku kosmetik local karena lebih dari 85% bahan kosmetik di Indonesia masih diimpor serta produk obat tradisional untuk penyakit degeneratif seperti jantung dan diabetes, yang jumlah penderitanya terus meningkat setiap tahun.
Melalui langkah strategis ini, pusat riset tersebut berupaya tidak hanya menghasilkan inovasi farmasi yang berdampak, tetapi juga menjadi simbol kemandirian bangsa dalam memanfaatkan kekayaan hayati Indonesia untuk kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
Langkah Nyata Menuju Inovasi: Fokus PharmaV pada Kosmeseutikal dan Obat Bahan Alam Degeneratif
Dalam periode 2025–2027, PharmaV menegaskan arah risetnya pada dua bidang strategis: kosmeseutikal dan obat bahan alam untuk penyakit degeneratif. Kedua bidang ini dipilih karena memiliki potensi besar dalam menjawab kebutuhan industri farmasi nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia.
Kosmeseutikal: Dari Limbah Menjadi Inovasi Bernilai Tinggi
memanfaatkan limbah cangkang telur sebagai sumber bahan aktif bernilai tinggi. Penelitian dan pengembangan serum antiaging berbahan aktif hidrolisat membran cangkang telur telah menunjukkan hasil uji klinis yang menjanjikan. Dari riset tersebut lahirlah prototipe serum antiaging EGG-SHELLENT, sebuah inovasi yang menjadi simbol kolaborasi antara sains, teknologi, dan kecantikan alami. Tidak berhenti di situ, tim PharmaV terus mengoptimalkan parameter manufaktur bahan baku hidrolisat membran cangkang telur agar sesuai dengan skala industri, serta menilai parameter ekonomi untuk memastikan keberlanjutan produksi. Upaya ini berpuncak pada komersialisasi membran cangkang telur dan produk turunannya, sekaligus membuka peluang baru untuk pengembangan bahan baku dan produk kosmeseutikal lokal yang inovatif.
Obat Bahan Alam untuk Penyakit Degeneratif: Meningkatkan Kognitif dan Menjaga Jantung dengan Bahan Alam
Di bidang obat bahan alam degeneratif, PharmaV menaruh perhatian besar pada pengembangan produk yang mendukung fungsi kognitif dan kesehatan kardiovaskular. Salah satu inovasi unggulannya adalah penelitian ekstrak daun pegagan (Centella asiatica) yang terbukti dapat meningkatkan kesehatan kognitif pada kelompok penderita demensia.
Hasil riset tersebut diwujudkan dalam bentuk teh artisan TEAYASA (Centella asiatica Series), yang dikembangkan melalui tahapan produksi prototipe, optimasi formula dan parameter ekonomi, hingga penjajakan potensi ekspor. TEAYASA menjadi representasi keberhasilan riset berbasis bahan alam yang dapat diterima pasar sekaligus berdampak bagi kesehatan otak.
Selain itu, PharmaV juga mengembangkan varian TEAYASA “HeartLIFT”, teh fungsional yang dirancang khusus untuk memelihara kesehatan jantung. Produk ini memanfaatkan komposisi berbagai tanaman yang terbukti memiliki efek kardioprotektif, diperkuat dengan penelitian aktivitas farmakologi dan formulasi tanaman obat berkhasiat. Pengembangan ini dilanjutkan dengan prototipe serbuk instan siap minum, menjadikannya lebih praktis untuk masyarakat luas tanpa mengurangi khasiat alami bahan dasarnya.
Melalui kedua jalur riset tersebut, PharmaV berkomitmen memperkuat posisi Indonesia dalam pengembangan kosmeseutikal dan obat bahan alam inovatif. Dengan memadukan riset ilmiah, inovasi produk, dan kolaborasi industri ini merupakan langkah mantap menuju kemandirian farmasi nasional dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Menguatkan Kolaborasi: Dari Seminar Nasional hingga Penandatanganan MoU
Sebagai pusat unggulan yang aktif tidak hanya dalam riset tetapi juga diseminasi ilmu dan kolaborasi, PharmaV bersama Sekolah Farmasi ITB terus berperan aktif dalam memperkuat ekosistem inovasi farmasi Indonesia. Dua kegiatan penting berhasil diselenggarakan pada bulan Oktober 2025 sebagai tonggak sinergi antara akademisi, industri, dan regulator. Dalam rangkaian Cosmobeauté Indonesia 2025 di ICE BSD City, peneliti PharmaV hadir sebagai narasumber pada seminar bertajuk “Understanding InVitro & InVivo Studies to Support Safe & Competitive Cosmetics” pada Kamis, 9 Oktober 2025, sebagai ajang berbagi pengetahuan mengenai pentingnya uji invitro dan invivo untuk memastikan keamanan serta daya saing produk kosmetik di pasar global. Seminar ini menghadirkan pembicara dari berbagai bidang keahlian, antara lain Dian Putri Anggraweni, S.Si., Apt., M.Farm., Direktur Standardisasi Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik BPOM RI; Dr. apt. Annisa Rahma, M.Sc., Head of Innovative Cosmetic Laboratory Sekolah Farmasi ITB dan peneliti PharmaV; serta Dwi Lulu Agus, S.Si., R&D Assistant Manager SIG Laboratory. Acara ini dipandu oleh Shenna Ayuningtyas, R&D Manager SIG Laboratory, yang membawa diskusi berjalan dinamis dan aplikatif. Melalui kegiatan ini, PharmaV turut memperkuat peran akademisi dalam mendukung industri kosmetik nasional agar lebih aman, berkualitas, dan kompetitif di kancah internasional. Sehari setelah seminar tersebut, pada 10 Oktober 2025, Sekolah Farmasi ITB dan PT SIG (Saraswanti Indo Genetech Laboratory) resmi menandatangani Nota Kesepahaman di kantor PT SIG, Bogor. Kolaborasi ini menandai langkah penting dalam memperkuat sinergi antara dunia akademik dan industri, khususnya dalam penelitian, pengembangan produk, dan peningkatan kompetensi sumber daya manusia farmasi. PT SIG merupakan salah satu laboratorium pengujian terkemuka di Indonesia yang berfokus pada analisis keamanan, mutu, dan efektivitas produk pangan, kosmetik, obat tradisional, serta bahan alam.
Melalui keahlian tersebut, SIG menjadi mitra strategis bagi industri dan lembaga riset untuk memastikan produk yang dihasilkan aman, bermutu tinggi, dan siap bersaing secara global. Kemitraan antara Sekolah Farmasi ITB, PharmaV, dan PT SIG menjadi bukti nyata sinergi antara akademisi dan industri, mempercepat proses hilirisasi hasil riset farmasi menuju produk inovatif yang bermanfaat bagi masyarakat. Dengan semangat “Bersama, kita tumbuhkan kolaborasi untuk kemajuan farmasi Indonesia,” PharmaV, Sekolah Farmasi ITB, dan PT SIG siap melangkah bersama menuju masa depan farmasi yang lebih mandiri, inovatif, dan berdaya saing global.
Simpul 3P Vol. 30 Edisi Oktober 2025, halaman 17
Penanggung Jawab: Prof. Dr. apt. Elfahmi, S.Si., M.Si. Dr. Ir. Grandprix Thomryes Marth Kadja, M.Si.
Editor: Efson Thrismono, S.ST, M.Pd.
Creative Lead: Nadia Falasiva
Photographer: Ali Parma, S.Ds.
Kontributor: Prof. Dr. Ir. Melia Laniwati Gunawan, M.S., IPM.; Muhammad Fadlan Raihan, M.Si.; Dhiyaul Auliyah Muslimin, S.T., M.T.; Tania Miranda Sarlie, S.Farm., M.Farm.; Dila Puspita, Ph.D.; Prof. Dr. Zeily Nurachman, M.S.; Hilarius Adiwarna, S.Si.; Prof. Sidik Permana; Noviyanti, A.Md., S.M.; Inda Meidian, S.Kom.
