Enter your keyword

PV-SENSE: Inovasi ‘Dokter Pintar’ Penjaga Performa PLTS Karya FTI ITB

PV-SENSE: Inovasi ‘Dokter Pintar’ Penjaga Performa PLTS Karya FTI ITB

PV-SENSE: Inovasi ‘Dokter Pintar’ Penjaga Performa PLTS Karya FTI ITB

BANDUNG, dri.itb.ac.id – Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali melaksanakan rangkaian kunjungan (site visit) kepada para penerima dana Program Inovasi Unggul Berdampak Tahun 2025. Pada Jumat (6/2/2026), tim DRI menyambangi tim peneliti yang dipimpin oleh Dr. Irsyad Nashirul Haq, S.T., M.T. dari Fakultas Teknologi Industri (FTI) ITB. Kunjungan ini difokuskan pada topik riset beliau yang berjudul “PV-SENSE: Sistem Cerdas Pemantauan Kondisi Modul Surya Berbasis IoT dan Artificial Intelligence“. 

Dalam diskusi tersebut, Prof. Irsyad memaparkan bahwa pengembangan PV-Sense ini dilatarbelakangi oleh celah (gap) teknologi pada sistem monitoring Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang ada di pasaran. Beliau menjelaskan bahwa tantangan utama modul surya adalah kerentanannya terhadap kondisi lingkungan ekstrem, seperti panas berlebih, kotoran, atau kerusakan fisik akibat benturan.

Pada sistem konvensional, pemantauan biasanya hanya dilakukan secara menyeluruh pada satu sistem besar. Hal ini menciptakan titik buta (blind spot), jika terdapat satu saja modul yang rusak atau tertutup kotoran dalam sebuah rangkaian seri (misalnya 20 modul), kinerja produksi listrik keseluruhan akan anjlok drastis, bahkan dapat turun hingga hanya tersisa 10% dari kapasitas. Masalahnya, operator sering kali tidak mengetahui modul mana yang bermasalah secara spesifik.

“Sistem yang ada saat ini umumnya tidak memonitor per modul. Jadi kalau ada satu yang rusak di antara 20 modul, kita tidak tahu yang mana. Ibarat pasien sakit, tapi dokternya tidak tahu bagian mana yang sakit,” ungkap Dr. Irsyad.

Mengenal PV-Sense

Menjawab tantangan tersebut, PV-Sense hadir sebagai “dokter pintar” bagi PLTS. Sistem ini dirancang sebagai perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software) yang terintegrasi untuk menjaga “kesehatan” pembangkit listrik.

Secara teknis, PV-Sense memiliki arsitektur tiga lapis yang menjadi keunggulan utamanya:

  1. Modul Sensor: Dipasang di setiap panel surya untuk mengukur parameter vital seperti tegangan, arus, dan suhu secara real-time.
  2. Modul Lokal: Berfungsi mengagregasi data dari seluruh sensor. Kehebatannya terletak pada efisiensi pengkabelan, dengan sistem digital, PV-Sense mampu memangkas penggunaan kabel secara signifikan (dari enam kabel analog menjadi cukup dua kabel data), membuat instalasi lebih rapi dan hemat biaya.
  3. Modul Pusat (AI Engine): Bertindak sebagai “otak” yang menganalisis data menggunakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) untuk mendiagnosis kondisi sistem.

Perangkat ini juga didesain compact dan tahan cuaca (waterproof), mengingat penempatannya yang harus berada di luar ruangan dengan kondisi panas dan hujan yang ekstrem.

Mekanisme Kerja dan Manfaat

Mekanisme kerja PV-Sense memungkinkan deteksi dini kegagalan sistem. Ketika beroperasi, alat ini mampu menunjuk secara presisi lokasi kerusakan, misalnya, modul urutan ke-10 mengalami keretakan atau hotspot (panas berlebih pada satu titik). Informasi ini sangat krusial karena hotspot yang dibiarkan dapat memicu korsleting (short circuit) hingga kerusakan permanen.

Manfaat yang ditawarkan produk ini sangat signifikan bagi efisiensi energi. Dengan mengetahui titik kerusakan secara spesifik, proses pemeliharaan (maintenance) menjadi lebih cepat dan tepat sasaran. Operator dapat segera memutuskan apakah modul perlu dibersihkan atau diganti, sehingga investasi mahal pada PLTS tidak terbuang percuma akibat penurunan efisiensi yang tidak terdeteksi.

Masa Depan dan Harapan Hilirisasi

Saat ini, pengembangan PV-Sense telah mencapai Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) 4 (skala laboratorium) dan sedang didorong menuju TKT 6 untuk pengujian di lingkungan relevan. Tim peneliti juga telah menggandeng mitra industri, PT Global Pratama Powerindo, untuk akselerasi komersialisasi.

Menutup sesi kunjungan, Dr. Irsyad menyampaikan harapan besarnya terhadap produk ini. Beliau bercita-cita agar PV-Sense tidak hanya berakhir sebagai laporan riset atau purwarupa di laboratorium, melainkan benar-benar dihilirisasi menjadi produk massal.

“Harapan kami, PV-Sense ini akan menjadi produk lokal yang membantu kemandirian Indonesia dalam transisi digital dan kemandirian energi. Riset itu harapannya menjadi solusi langsung di masyarakat,” pungkas Dr. Irsyad.

 

Kontributor: Aura Salsabila Alviona