Rapat Kurasi Museum ITB: Dari Gambar Cadas Prasejarah hingga Inovasi Berdampak ITB
Museum ITB bersama Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) ITB telah menggelar rapat persiapan kurasi pameran yang akan menampilkan perjalanan pengetahuan dan inovasi—mulai dari warisan prasejarah seperti gambar cadas (rock art) hingga teknologi dan riset modern yang berdampak bagi Masyarakat pada Rabu 4 Februari 2026, di Ruang Rapat A, Lantai 6, Gedung CRCS, Kampus ITB, Jalan Ganesha No. 10, Bandung dengan tema “Jejak Inovasi Meseum ITB”.
Pertemuan ini dihadiri oleh perwakilan Museum ITB, Dr. Arianti Ayu Puspita, S.Ds., M.Ds. (FSRD ITB), serta jajaran DRI ITB: Deputi Direktur Bidang Pengembangan Pusat/Pusat Penelitian/PUI Dr. Grandprix Thomryes Marth Kadja, M.Si., Kepala Seksi Pusat/Pusat Penelitian/PUI Efson Trismono, M.Pd., dan Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Antonius Setiono Hadi Mujiran, A.Md.
Dalam diskusi, Dr. Grandprix Thomryes Marth Kadja, M.Si. (GP) menekankan pentingnya menampilkan aspek ilmiah di balik gambar cadas, termasuk teknik hand stencil (cap tangan) yang dibuat dengan menutup telapak tangan lalu menyemprot pigmen sehingga menghasilkan pola negatif. Menurut GP, kekuatan narasi pameran tidak hanya terletak pada visual artefak, tetapi juga pada penjelasan saintifik tentang bagaimana pengetahuan modern dapat “membaca” jejak masa lalu. Ia menjelaskan bahwa penanggalan (dating) membutuhkan fasilitas khusus—misalnya metode berbasis uranium yang tersedia di institusi tertentu—namun bidang kimia dapat berkontribusi besar melalui identifikasi komposisi pigmen, karakter material, hingga dugaan proses pembuatannya (misalnya apakah dibakar, ditumbuk, atau dicampur dengan bahan tertentu).
Diskusi kemudian mengerucut pada peluang besar untuk menonjolkan kontribusi ITB dalam riset rock art. GP menyampaikan bahwa kolaborasi riset yang pernah dibangun bersama almarhum Pindi Setiawan menghasilkan berbagai publikasi ilmiah serta penguatan kapasitas riset hingga tingkat doktoral. Salah satu materi yang dinilai sangat strategis untuk pameran adalah temuan pemetaan sebaran gambar cadas di Indonesia beserta variasi warna pigmennya. Peta ini menunjukkan lokasi-lokasi penting di berbagai wilayah seperti Sangkulirang, Papua, Kalimantan, hingga Nusa Tenggara Timur. Bagi Museum ITB, materi ini bernilai tinggi karena dapat mengangkat narasi bahwa riset tersebut bukan sekadar data umum, melainkan bagian dari kontribusi konkret ITB dalam pengembangan ilmu pengetahuan lintas disiplin.
Dr. Arianti Ayu Puspita menanggapi dengan menyampaikan kebutuhan museum terhadap data yang lebih spesifik dan berbasis riset agar pameran memiliki identitas kuat. Ia menyampaikan bahwa selama ini referensi yang mudah ditemukan cenderung bersifat general, sehingga dukungan data internal dan publikasi ilmiah dari ITB akan menjadi “pembeda” sekaligus penguat cerita. Karena itu, GP menyatakan kesiapannya untuk membantu mengirimkan materi pendukung berupa publikasi, data kurasi, serta bahan visual yang relevan.
Selain bagian prasejarah, rapat juga membahas rancangan display yang lebih imersif. Museum ITB berencana menampilkan replika gading Stegodon berdampingan dengan replika dinding gua yang memuat cap tangan dan lukisan lainnya. Untuk menjangkau beragam segmen pengunjung—mulai dari akademisi hingga pelajar—Museum ITB mempertimbangkan penggunaan multimedia interaktif, misalnya visualisasi Stegodon yang “bergerak” atau elemen rock art yang tampil timbul melalui animasi digital.
Di sisi lain, Dr. Arianti Ayu Puspita menjelaskan adanya area “Gallery Artifact” yang akan memamerkan alat-alat laboratorium lama dalam lemari khusus. Untuk menjaga keamanan koleksi, pengunjung tidak memegang artefak secara langsung, melainkan mengakses informasi melalui layar sentuh. Pendekatan ini juga akan diperkuat dengan pemindaian 3D terhadap instrumen-instrumen tertentu. Beberapa koleksi awal yang telah dihimpun mencakup artefak dari Observatorium Bosscha serta lingkungan FMIPA, yang dinilai relevan untuk memperlihatkan sejarah infrastruktur sains ITB.
Rapat kemudian meluas ke pengembangan klaster “Inovasi Berdampak” yang berpotensi diisi melalui kerja sama Museum ITB dengan DRI ITB. Dalam pembahasan, muncul usulan untuk mengangkat riset dan program yang terkait wilayah Mentawai sebagai contoh kegiatan berdampak yang dapat divisualisasikan. Selain itu, peserta rapat juga membahas kemungkinan memasukkan tema “Katalis Merah Putih” sebagai narasi inovasi energi yang kuat—baik dari sisi data, proses, maupun dampaknya yang relevan terhadap tantangan global. Sebagai tambahan, muncul pula gagasan menghadirkan contoh prototipe dari bidang mikroelektronika sebagai penanda perjalanan inovasi ITB dari masa ke masa.
Menutup rapat, para peserta menyepakati perlunya percepatan pengumpulan materi kurasi. Museum ITB menargetkan informasi dan bahan pendukung dapat diterima pada minggu berikutnya agar proses desain pameran dapat berjalan sesuai jadwal. Dari pihak DRI ITB, Dr. Grandprix Thomryes Marth Kadja, M.Si. menyatakan kesiapan mendukung kebutuhan administratif—termasuk penyusunan surat resmi—guna memperlancar pengumpulan data dan artefak dari unit-unit terkait.
Melalui kurasi yang menggabungkan warisan prasejarah, sejarah perangkat ilmiah, hingga inovasi kontemporer, pameran Museum ITB diharapkan tidak hanya menjadi ruang display, tetapi juga ruang belajar dan dialog—yang menegaskan ITB sebagai institusi yang menjaga memori pengetahuan sekaligus terus melahirkan solusi untuk masa depan.
Reporter: Aura Salsabila Alviona
