Rumah Bambu Modular ITB: Inovasi Hunian “Lego” Tahan Gempa Berbasis Manufaktur Vernakular
BANDUNG, dri.itb.ac.id – Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) ITB kembali melakukan kegiatan kunjungan (site visit) untuk meninjau perkembangan riset para penerima program pendanaan inovasi. Pada hari Selasa (3/3/26), tim DRI melakukan kunjungan ke purwarupa Rumah Bambu Modular yang dikembangkan di Kampus ITB Jatinangor.
Riset inovatif ini dipimpin oleh Bapak Permana, S.T., M.T., dari Program Studi Arsitektur, Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) ITB. Bersama tim lintas disiplin, beliau mengusung judul riset “Pengembangan Arsitektur Knockdown System Pada Desain Rumah Modular Berbasis Teknologi Bamboo Engineering“.
Potensi Tersembunyi di Balik Keterbatasan Bambu
Pengembangan inovasi ini lahir dari kegelisahan terhadap minimnya pemanfaatan 160 spesies bambu di Indonesia. Selama ini, bambu sering dipandang sebelah mata sebagai material bangunan “kelas dua” yang hanya cocok untuk bedeng darurat atau shelter pascabencana.
Tantangan utama pemanfaatan bambu adalah dimensinya yang berbentuk silindris, sehingga sulit diaplikasikan untuk konstruksi bangunan yang membutuhkan material dengan dimensi lebar dan tebal. Di sisi lain, ketika bambu diolah untuk memenuhi pasar premium, harganya dapat melonjak drastis hingga mencapai Rp18-25 juta per meter kubik, sangat jauh melampaui harga kayu konvensional yang berada di kisaran Rp2,4-2,5 juta.
Rekayasa Material: Sistem Struktur Interlock ala Lego
Menjawab tantangan tersebut, tim peneliti menerapkan rekayasa laminasi bambu. Batang bambu dipotong menjadi bilah-bilah kecil yang kemudian direkatkan satu sama lain untuk mencapai dimensi ketebalan dan kelebaran yang dibutuhkan. Untuk menekan biaya, tim mengeksplorasi berbagai jenis bambu seperti bambu surat, tali, ampel, hingga mayan, sehingga tidak hanya bergantung pada bambu betung.
Material laminasi tersebut kemudian dibentuk menjadi komponen profil seperti huruf “S” dengan variasi ukuran panjang 30 cm dan 60 cm.
“Komponen ini dirakit menggunakan sistem knock-down yang terinspirasi dari kepingan Lego. Pemasangannya dilakukan secara zigzag untuk menciptakan kuncian (interlock) horizontal, sementara ikatan vertikalnya memanfaatkan gaya friksi,” jelas Pak Permana.
Mekanisme “isi-kosong” (solid-void) ini menghasilkan struktur yang kuat sekaligus fleksibel, sehingga sangat andal menghadapi guncangan gempa.
Konsep Manufaktur Vernakular: Memberdayakan Masyarakat
Lebih dari sekadar produk arsitektur, riset ini memperkenalkan konsep “Manufaktur Vernakular”. Konsep ini mendekatkan proses produksi ke tengah masyarakat pinggir hutan bambu dengan menyediakan mesin produksi manual yang ringan dan tanpa listrik. Dr. Rudi Dungani, peneliti utamadari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB, menjelaskan bahwa optimalisasi ini dapat menyederhanakan rantai pasok dan menekan biaya logistik secara signifikan.
“Masyarakat yang memiliki lahan bambu kini bisa mengolahnya menjadi komponen bangunan permanen. Ini adalah langkah nyata dalam meningkatkan ekonomi kerakyatan melalui teknologi modular,” ungkap Rudi.
Di bidang mitigasi bencana, rumah modular ini dapat menjadi stok siap pakai (ready stock) untuk hunian tetap instan pascabencana, guna mencegah stres dan trauma pengungsi yang terpaksa tinggal di tenda.
Visi Masa Depan: Kolaborasi Multidisiplin dan “Zero Metal”
Keberhasilan riset ini merupakan wujud nyata kolaborasi lintas disiplin antara SAPPK dan SITH ITB. Tim peneliti memiliki visi jangka panjang yang sangat ambisius terkait ekosistem hunian ramah lingkungan.
“Visi kami adalah menciptakan ekosistem hunian bambu total, mulai dari struktur bangunan, tempat tidur, meja makan, hingga peralatan makan. Ini memerlukan kolaborasi multidisiplin yang masif di ITB,” tambah Dr. Rudi.
Ke depan, tim menargetkan pencapaian TKDN hingga 100% dan mewujudkan konsep zero metal housing, konstruksi murni menggunakan pasak kayu tanpa paku logam. Inovasi ini diharapkan dapat diproduksi secara masal untuk mendukung program pemerintah dalam pembangunan 3 juta rumah per tahun, sekaligus menjadi solusi berkelanjutan dalam mengatasi backlog perumahan di Indonesia.
Kontributor: Aura Salsabila Alviona
