Enter your keyword

Sharing Session Pusat Perubahan Iklim (PPI): Climate Change Center ITB dan BIG Kupas Sains Iklim Laut untuk Ketahanan Pesisir Indonesia

Sharing Session Pusat Perubahan Iklim (PPI): Climate Change Center ITB dan BIG Kupas Sains Iklim Laut untuk Ketahanan Pesisir Indonesia

Sharing Session Pusat Perubahan Iklim (PPI): Climate Change Center ITB dan BIG Kupas Sains Iklim Laut untuk Ketahanan Pesisir Indonesia

Di salah satu ruang pertemuan di Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) Institut Teknologi Bandung, deret layar menampilkan petapeta laut Nusantara, grafik gelombang, dan kontur pesisir yang kian tertekan oleh perubahan iklim. Di ruangan itu, peneliti, akademisi, dan praktisi kebijakan duduk berdampingan mengikuti Sharing Session bertema “State of Knowledge of Ocean Climate

Sharing Session PPI:

Climate Change Center ITB dan BIG Kupas Sains Iklim Laut untuk Ketahanan Pesisir Indonesia Science in Indonesia, sebuah forum yang digagas oleh Climate Change Center ITB bekerja sama dengan Badan Informasi Geospasial (BIG).

Acara yang diselenggarakan secara hybrid ini menghadirkan Dr. Ibnu Sofian, M.Eng, Deputi Infrastruktur Informasi Geospasial BIG, sebagai pembicara utama. Melalui paparan yang padat namun sistematis, ia mengajak audiens menelusuri bagaimana sains iklim laut berkembang, dan bagaimana teknologi pemodelan mutakhir kini menjadi fondasi penting bagi perumusan kebijakan di wilayah pesisir Indonesia.

Mengurai Sains di Balik Iklim Laut Nusantara

Salah satu sorotan utama sesi ini adalah pemaparan mengenai Regional Ocean Model of the Indonesian Seas, sebuah sistem pemodelan laut berbasis numerik yang tengah dikembangkan BIG. Model ini dirancang untuk membaca dinamika laut Indonesia secara lebih tajam sekaligus memproyeksikan dampak perubahan iklim hingga beberapa dekade ke depan.

Model tersebut mengintegrasikan berbagai data atmosfer—mulai dari NCEP, NOGAPS, dan NAVGEM sebagai basis historis, hingga MIROC5 untuk proyeksi masa depan. Pendekatan ROMS yang didecouple dengan NEMURONPZ memungkinkan simulasi proses fisik dan biogeokimia laut secara lebih realistis di tingkat regional. Di hadapan peserta, rangkaian peta dan grafik yang ditampilkan Dr. Ibnu mengilustrasikan bagaimana laut Indonesia bukan hanya ruang biru di peta, tetapi sistem dinamis yang merespons perubahan iklim secara kompleks dan saling terkait.

Bagi komunitas ilmiah ITB, sesi ini menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana pemodelan yang dilakukan lembaga geospasial nasional tersebut dapat membuka ruang kolaborasi baru, baik dalam riset atmosfer dan oseanografi, maupun dalam kajian kebijakan adaptasi iklim.

Dampak Iklim Laut yang Kian Terasa

Diskusi kemudian mengerucut pada pertanyaan yang lebih mendasar: apa arti semua model ini bagi kehidupan seharihari masyarakat di pesisir? Di sinilah sains berjumpa realitas.

Perubahan iklim laut, dijelaskan dalam sesi tersebut, telah memicu kenaikan muka air laut yang secara perlahan tetapi pasti mengancam kawasan pesisir dan memperparah kejadian banjir rob. Di banyak kota pantai, air pasang yang dulu dianggap musiman kini menjadi kejadian yang lebih sering dan sulit diprediksi.

Di lapisan lain, ekosistem laut ikut menanggung beban. Pemutihan karang, pengasaman laut, dan penurunan biodiversitas bukan lagi sekadar kekhawatiran ekologis, melainkan ancaman terhadap sumber penghidupan jutaan nelayan dan komunitas pesisir. Suhu ekstrem dan kekeringan di daratan menambah kompleksitas, mengganggu ketahanan pangan, menurunkan hasil panen, dan mendorong migrasi stok ikan ke wilayah yang lebih sejuk atau lebih dalam.

Cuaca ekstrem yang kian intens dan sering menambah satu lapis risiko baru: meningkatnya kecelakaan kapal dan terganggunya transportasi laut, yang selama ini menjadi urat nadi logistik dan konektivitas antarpulau.

Salah satu studi kasus yang menonjol adalah Semarang. Pemodelan dan observasi menunjukkan bahwa kota pesisir ini mengalami laju penurunan tanah hingga 8,5 cm per tahun, didorong oleh kombinasi beban bangunan berlebih, ekstraksi air tanah, pergerakan lempeng tektonik, dan intrusi air laut. Dalam konteks seperti ini, banjir rob bukan lagi peristiwa insidental, melainkan gejala dari perubahan struktural yang menuntut intervensi kebijakan jangka panjang.

Melihat ke 2100: Model, Proyeksi, dan Risiko

Pada tingkat teknis, model laut regional yang dikembangkan BIG memiliki resolusi spasial 2,5 km dengan 35 lapisan vertikal, sebuah konfigurasi yang memungkinkan simulasi detail mulai dari tahun 1960 hingga proyeksi tahun 2100. Melalui model ini, peserta diajak melihat garis waktu panjang perubahan iklim laut—dari masa lalu yang telah tercatat hingga masa depan yang masih bisa dipengaruhi oleh keputusankeputusan hari ini.

Salah satu temuan yang dipaparkan adalah proyeksi kenaikan gelombang ekstrem hingga 0,2–1 meter pada tahun 2060. Angka itu, jika diterjemahkan ke dalam konteks kehidupan pesisir, berarti meningkatnya risiko erosi pantai, kerusakan infrastruktur, dan gangguan terhadap pelayaran serta aktivitas ekonomi di sepanjang garis pantai.

Tren kenaikan muka air laut di kota-kota seperti Jakarta, Semarang, dan bahkan hingga Manila menegaskan bahwa isu ini bukan sekadar fenomena lokal, melainkan bagian dari dinamika regional yang saling berkelindan di kawasan Asia Tenggara. Adaptasi, dengan demikian, tak lagi bisa berbasis asumsi, melainkan harus bertumpu pada data dan model yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Simpul 3P Vol. 31 Edisi November 2025, halaman 11
Penanggung Jawab: Prof. Dr. apt. Elfahmi, S.Si., M.Si. Dr. Ir. Grandprix Thomryes Marth Kadja, M.Si.
Editor: Efson Thrismono, S.ST, M.Pd.
Creative Lead: Nadia Falasiva
Kontributor: Noviyanti, A.Md., S.M.; Inda Meidian, S.Kom.