Enter your keyword

Sharing Session Vol. 6 DRI ITB Perkenalkan Scholar ITB sebagai Katalog Kepakaran Terintegrasi

Sharing Session Vol. 6 DRI ITB Perkenalkan Scholar ITB sebagai Katalog Kepakaran Terintegrasi

Sharing Session Vol. 6 DRI ITB Perkenalkan Scholar ITB sebagai Katalog Kepakaran Terintegrasi

BANDUNG, dri.itb.ac.id — Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) Institut Teknologi Bandung (ITB) bekerja sama dengan Satuan Penjamin Mutu (SPM) ITB menggelar Sharing Session Vol. 6 DRI ITB bertema “Launching Scholar ITB”, Kamis (24/7/2025). Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom pada pukul 09.00–10.30 WIB tersebut menjadi momentum untuk memperkenalkan Scholar ITB sebagai platform yang menghimpun dan memetakan kepakaran, aktivitas riset, serta karya akademik dosen ITB.

Kegiatan dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi (WRRI) ITB, Prof. Ir. Lavi Rizki Zuhal, Ph.D., dan Direktur Riset dan Inovasi ITB periode 2025–2026, Prof. Dr. apt. Elfahmi, S.Si., M.Si. Acara dimoderatori Kepala Subdirektorat Program, Monitoring, dan Evaluasi DRI ITB, Noviyanti, A.Md., S.M., serta diikuti pejabat ITB dan jajaran DRI ITB.

Dalam sambutannya, Prof. Lavi menyampaikan bahwa Scholar ITB mulai dikembangkan pada 2024 oleh tim World Class University (WCU) ITB dan kemudian pengelolaannya diteruskan oleh DRI ITB. Platform tersebut diharapkan dapat meningkatkan visibilitas kepakaran dan karya dosen serta peneliti ITB sekaligus membantu kebutuhan pencarian mitra dan layanan kepakaran.

Penguatan Ekosistem Riset Harus Berjalan Bersama Kualitas

Direktur Riset dan Inovasi ITB yang kini menjadi rektor ITERA, Prof. Dr. apt. Elfahmi, S.Si., M.Si., menjelaskan bahwa Sharing Session DRI ITB menjadi salah satu ruang komunikasi dengan dosen dan tenaga kependidikan untuk terus menyegarkan dan memperkuat ekosistem riset di ITB. Forum tersebut diharapkan menjadi tempat berbagi mengenai hasil penelitian, pengelolaan penelitian, publikasi, maupun berbagai aspek lain yang mendukung perkembangan riset dan inovasi.

Menurut Prof. Elfahmi, peluncuran Scholar ITB perlu ditempatkan dalam konteks yang lebih luas, yakni bagaimana hasil riset dan inovasi ITB dapat memberikan dampak. Pemeringkatan perguruan tinggi menjadi salah satu indikator yang mendapat perhatian, tetapi bukan merupakan satu-satunya tujuan. Dampak yang lebih luas adalah ketika hasil penelitian dapat dirasakan masyarakat serta berkontribusi terhadap kemajuan dan kesejahteraan bangsa.

Ia menyampaikan bahwa ITB memiliki target untuk bergerak dari posisi 255 dunia menuju peringkat 150. Untuk mencapainya diperlukan kontribusi yang kuat dari dosen dan peneliti sebagai ujung tombak pelaksanaan riset, produksi karya ilmiah, dan pengembangan inovasi. Dukungan manajemen dan tenaga kependidikan tetap penting, tetapi produktivitas serta kualitas karya akademik dosen menjadi faktor mendasar dalam pencapaian tersebut.

Prof. Elfahmi juga menyoroti pentingnya publikasi berkualitas. Berdasarkan analisis yang disampaikan DRI, sekitar 70 persen kontribusi sitasi berasal dari artikel pada jurnal Q1. Hal tersebut menunjukkan bahwa peningkatan jumlah publikasi perlu berjalan bersama upaya mendorong karya menuju jurnal yang memiliki kualitas dan dampak akademik tinggi.

Dalam konteks pemeringkatan, ia turut menyinggung dua aspek yang masih perlu diperkuat, yakni citations per faculty dan international research network. Karena itu, penguatan jejaring penelitian, kualitas publikasi, serta visibilitas akademik menjadi bagian yang saling berkaitan dalam strategi pengembangan riset ITB.

Namun, Prof. Elfahmi mengingatkan bahwa dorongan untuk meningkatkan kinerja dan pemeringkatan tidak boleh mengesampingkan kualitas dan integritas akademik. Perhatian terhadap kasus retraksi publikasi menjadi pengingat agar sivitas akademika lebih cermat dalam menjaga kualitas penelitian sekaligus menentukan jurnal tujuan publikasi.

Dalam kerangka tersebut, Scholar ITB dipandang bukan sekadar sebagai aplikasi administrasi, melainkan bagian dari upaya ITB membangun dan menampilkan portofolio risetnya secara lebih baik. Prof. Elfahmi menyebut Scholar ITB dapat menjadi “wajah” individu peneliti sekaligus wajah ITB dalam menggambarkan kekuatan riset dan inovasinya.

Scholar ITB sebagai Katalog Kepakaran Berbasis Karya

Paparan utama mengenai platform disampaikan oleh Kepala Subdirektorat Sarana, Prasarana, dan Sistem Informasi DRI ITB, Housny Mubarok, S.T. Ia menjelaskan bahwa Scholar ITB secara sederhana dapat dipahami sebagai katalog kepakaran ITB. Platform tersebut dibangun untuk menjawab kebutuhan akan katalog terpusat yang mampu menunjukkan kapabilitas ITB secara konsisten kepada publik.

Housny menjelaskan bahwa gagasan tersebut berangkat dari kondisi informasi kepakaran yang sebelumnya telah tersedia di berbagai laman ITB, tetapi belum tersaji secara seragam. Padahal, interaksi awal pihak eksternal dengan ITB sering kali berlangsung melalui kanal digital. Karena itu, dibutuhkan sebuah mekanisme yang dapat memanfaatkan data yang telah dimiliki ITB untuk menggambarkan kepakaran para dosennya secara lebih terstruktur.

Salah satu pendekatan yang diterapkan adalah dosen tidak perlu kembali mengisikan seluruh rekam karyanya secara manual. Scholar ITB mengambil dan mengintegrasikan data dari berbagai sumber yang sudah tersedia. Data pegawai bersumber dari sistem resmi ITB, sedangkan informasi publikasi diperoleh antara lain dari Scopus dan OpenAlex. Data proyek penelitian bersumber dari MyPPM, data paten diperoleh dari sistem terkait kekayaan intelektual, dan data tugas akhir dihimpun dari Digilib ITB.

Scholar ITB juga memuat informasi mengenai fasilitas dan peralatan penelitian. Menurut Housny, informasi tersebut penting karena kapabilitas riset sebuah institusi tidak hanya ditunjukkan oleh kepakaran sumber daya manusianya, tetapi juga oleh infrastruktur yang tersedia untuk menjawab berbagai tantangan penelitian.

Kepakaran Dipetakan dari Rekam Jejak

Hal yang membedakan Scholar ITB adalah pendekatannya dalam memetakan kepakaran. Informasi kepakaran tidak hanya bersumber dari pernyataan atau klaim individu, tetapi ditelusuri berdasarkan rekam karya akademik. Empat kelompok data utama yang digunakan untuk menggambarkan kepakaran meliputi publikasi ilmiah, proyek penelitian, paten, dan tugas akhir.

Setiap karya tersebut selanjutnya dipetakan ke topik-topik yang relevan. Scholar ITB memanfaatkan ribuan klasifikasi topik dari OpenAlex untuk membaca variasi kepakaran yang berkembang di lingkungan ITB. Proses pengelompokan dibantu dengan teknologi kecerdasan buatan berdasarkan informasi seperti judul dan abstrak karya.

Tidak hanya topik kepakaran, data karya juga dihubungkan dengan 17 Sustainable Development Goals (SDGs). Dengan demikian, pengguna dapat memperoleh gambaran mengenai keterkaitan aktivitas dan karya akademik ITB dengan agenda pembangunan berkelanjutan.

Housny menjelaskan bahwa hasil pemetaan tersebut digunakan untuk menunjukkan kekuatan relatif seorang dosen pada topik tertentu. Seorang dosen dapat memiliki beberapa bidang kepakaran dengan intensitas yang berbeda. Dengan pendekatan ini, Scholar ITB tidak menghasilkan satu angka tunggal seperti H-index untuk menggambarkan kepakaran, tetapi menunjukkan posisi kepakaran berdasarkan masing-masing topik.

Mempermudah Pencarian Pakar dan Kolaborasi

Scholar ITB juga dikembangkan sebagai mesin pencari. Pengguna dapat melakukan pencarian berdasarkan kata kunci yang terdapat pada judul, abstrak, metadata, atau nama dosen. Untuk publikasi, pencarian juga dapat diarahkan pada informasi mitra atau kolaborator sehingga pengguna dapat menelusuri karya dosen ITB bersama institusi tertentu.

Pencarian juga dapat dilakukan secara terpadu pada berbagai kumpulan data. Pengguna tidak harus mengetahui sejak awal apakah suatu kata kunci akan ditemukan pada publikasi, proyek, paten, atau profil dosen. Dari halaman utama, Scholar ITB dapat menelusuri beberapa jenis data sekaligus dan menunjukkan tempat informasi tersebut ditemukan.

Kemampuan tersebut diharapkan dapat membantu pihak internal maupun eksternal ketika mencari pakar, calon mitra penelitian, rekam karya, maupun kompetensi tertentu yang tersedia di ITB. Scholar ITB dengan demikian tidak hanya menjadi tempat dokumentasi, tetapi dapat berfungsi sebagai pintu masuk untuk mengenali kapasitas riset ITB.

Katalog Kepakaran untuk Fakultas hingga Kelompok Riset

Housny turut memperkenalkan fitur customized search engine. Melalui fitur tersebut, fakultas, sekolah, kelompok keahlian, hingga kelompok riset dapat memiliki tampilan katalog kepakaran sesuai dengan lingkup masing-masing tanpa perlu membangun sistem baru.

Data Scholar ITB dapat difilter berdasarkan afiliasi sehingga hanya dosen, publikasi, proyek, paten, atau karya yang berkaitan dengan unit tertentu yang ditampilkan. Pendekatan ini memungkinkan setiap unit memiliki katalog kepakaran yang konsisten, baik dari sisi data maupun tampilannya.

Informasi tersebut juga dapat diintegrasikan ke laman unit. Melalui komponen yang dapat ditanamkan pada situs web, data yang bersumber dari Scholar ITB dapat ditampilkan langsung pada laman fakultas, sekolah, kelompok keahlian, maupun unit lainnya sehingga tidak perlu dilakukan pengelolaan data yang sama secara berulang.

Membaca Apa yang Dicari Publik dari ITB

Aspek lain yang menjadi perhatian dalam pengembangan Scholar ITB adalah kemampuan menganalisis pola pencarian pengguna. Menurut Housny, salah satu manfaat penting dari pengembangan mesin pencari secara mandiri adalah keleluasaan untuk memahami bagaimana pengguna berinteraksi dengan data yang tersedia.

Informasi mengenai kata kunci yang dicari dan konten yang dieksplorasi dapat dianalisis untuk melihat kecenderungan kebutuhan pengguna. Dengan demikian, ITB tidak hanya menyediakan informasi mengenai kepakaran, tetapi juga memperoleh gambaran mengenai bidang, teknologi, atau kompetensi apa yang banyak dicari publik dari ITB.

Ke depan, Scholar ITB juga disiapkan untuk mengembangkan pencarian berbasis kecerdasan buatan dan sistem rekomendasi. Pencarian diharapkan tidak hanya mengandalkan kesamaan kata, tetapi mampu memahami makna dari pertanyaan pengguna dan menghubungkannya dengan informasi yang relevan. Pada saat kegiatan berlangsung, sejumlah fitur tersebut masih berada dalam tahap pengujian dan penyempurnaan.

Mendukung Visibilitas sekaligus Integritas Akademik

Selain Scholar ITB, kegiatan tersebut turut memperkenalkan pengembangan Retraction Dashboard. Dashboard ini menyediakan informasi mengenai retraksi publikasi sehingga peneliti dapat melihat pola dan kecenderungan retraksi sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam menentukan jurnal tujuan publikasi.

Housny menegaskan bahwa informasi tersebut tidak dimaksudkan untuk langsung memberi penilaian bahwa jurnal tertentu buruk. Data retraksi digunakan sebagai informasi tambahan agar peneliti dapat mempertimbangkan risiko dan mengambil keputusan publikasi secara lebih cermat.

Kehadiran Scholar ITB dan Retraction Dashboard memperlihatkan dua sisi yang saling melengkapi dalam penguatan ekosistem riset: meningkatkan visibilitas kepakaran dan karya akademik sekaligus menjaga kualitas serta integritas publikasi. Melalui platform tersebut, data akademik diharapkan tidak berhenti sebagai dokumentasi, tetapi dapat dimanfaatkan untuk memetakan kekuatan riset, membuka peluang kolaborasi, dan memperkuat rekognisi akademik ITB.

Pada akhir paparannya, sivitas akademika didorong untuk mulai menggunakan, mengeksplorasi, serta memberikan masukan bagi pengembangan Scholar ITB. Penyempurnaan platform akan terus dilakukan agar dapat semakin optimal dalam mendukung kebutuhan dosen, unit kerja, mitra, dan masyarakat dalam mengenali kapasitas riset dan inovasi ITB.

 

Selengkapnya: Sharing Session Vol. 6 “Launching Scholar ITB”