Enter your keyword

Sharing Session Vol. 7: Strategi Menulis Manuskrip pada Jurnal Top Tier bersama Prof. Dr.-Ing. Mitra Djamal

Sharing Session Vol. 7: Strategi Menulis Manuskrip pada Jurnal Top Tier bersama Prof. Dr.-Ing. Mitra Djamal

Sharing Session Vol. 7: Strategi Menulis Manuskrip pada Jurnal Top Tier bersama Prof. Dr.-Ing. Mitra Djamal

BANDUNG, 24 September 2025 — Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) ITB menggelar acara Sharing Session Vol. 7 yang berfokus pada strategi penulisan manuskrip untuk jurnal top-tier. Acara yang berlangsung pada Jumat, 19 September 2025, ini menghadirkan Prof. Dr. Ing. Mitra Djamal, Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ITB, sebagai narasumber utama. Bertempat di Amphitheater Gedung CRiMSE, kampus ITB Ganesha, sesi ini bertujuan membekali para peneliti dengan kiat-kiat praktis untuk meningkatkan kualitas publikasi ilmiah.

 

Sambutan Penuh Harapan dan Target Ambisius

Acara dibuka secara resmi oleh Direktur Riset dan Inovasi ITB, Prof. Dr. apt. Elfahmi, S.Si., M.Si., dan dipandu oleh Noviyanti, A.Md., S.M., Kepala Subdirektorat Program, Monitoring, dan Evaluasi DRI ITB. Dalam sambutannya, Prof. Elfahmi menekankan pentingnya sitasi yang dihasilkan dari publikasi di jurnal Q1 atau 10% teratas. Ia menjelaskan bahwa sitasi menjadi salah satu indikator kunci dalam pemeringkatan universitas dunia.

Prof. Elfahmi turut menyinggung target ambisius ITB yang ditetapkan oleh Rektor, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., yakni mencapai peringkat 150 dunia pada tahun 2030. Saat ini, ITB masih berada di peringkat 255 QS World University Rankings. Untuk mencapai target ini, Prof. Elfahmi mengajak seluruh civitas academica, khususnya para peserta acara, untuk berpartisipasi aktif dalam mempublikasikan karya ilmiah berkualitas. “Jika tidak ada publikasi, tidak ada sitasi, dan itu akan mempersulit pencapaian target pemeringkatan,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan beberapa inisiatif dari DRI ITB, seperti program proposal Equity yang didanai oleh LPDP. Prof. Elfahmi juga mengabarkan penandatanganan kontrak penelitian Dikti bersama ITB, yang dihadiri oleh Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat  Prof. apt. I Ketut Adnyana, M.Si., Ph.D. sekaligus mengundang beliau menjadi narasumber sesi berikutnya guna mengulas skema pendanaan riset yang beragam di Kemendikbudristek.

Selain itu, DRI akan membentuk Kaukus Dosen Muda untuk menyamakan langkah dalam mencapai target rektor. DRI juga akan mengadakan coaching clinic untuk membantu para peneliti mengatasi kesulitan dalam penulisan manuskrip, dengan harapan dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas publikasi secara eksponensial.

Peluang Pendanaan Riset dan Perubahan Moderator

Sebelum sesi utama, Deputi Direktur Bidang Pengembangan Pusat/Pusat Penelitian/PUI DRI ITB, Dr. Grandprix T.M. Kadja, M.Si., memberikan informasi mengenai program pendanaan riset yang sedang berjalan. Ia menyampaikan bahwa dirinya tidak dapat menjadi moderator seperti yang dijadwalkan dan akan digantikan oleh Nur Ahmadi, S.T., M.Eng., Ph.D., Deputi Direktur Bidang Riset dan Diseminasi DRI ITB.

Dr. Grandprix menyampaikan program Equity yang mendapatkan dana dari LPDP dengan total Rp70 miliar setengahnya dialokasikan pada dana riset. “Jadi banyak sekali skema-skema yang sedang dibuka yang pendanaanya lintas tahun sampai Juli 2026, panduannya bisa dilihat di website DRI ITB, deadline sampai 23 September, ada juga Riset Kolaborasi Indonesia yang bekerjasama dengan tujuh PTNBH dan 16 PTNBH lainnya sampai 30 September 2025.” Ujarnya.

Prof. Mitra Djamal: Membedah Tiga Pilar Utama Manuskrip Top-Tier

Dengan moderator baru, Nur Ahmadi, sesi utama dimulai. Prof. Mitra Djamal memaparkan kiat-kiat praktis yang sangat komprehensif. Ia menekankan bahwa publikasi di jurnal papan atas bukan sekadar urusan bahasa, melainkan soal kualitas riset itu sendiri. Menurutnya, ada tiga pilar utama yang menentukan nasib sebuah naskah: kualitas metodologi, kejelasan kontribusi, dan kerapian editorial.

Prof. Mitra menjelaskan, editor jurnal top-tier mencari lima hal dalam sebuah manuskrip:

  1. Novelty dan kontribusi yang nyata: Masalah riset harus relevan dan memiliki celah yang jelas.
  2. Metodologi yang meyakinkan: Desain penelitian harus matang dan kuat.
  3. Pelaporan statistik yang lengkap: Tidak hanya p-value, tetapi juga ukuran efek, interval kepercayaan, dan analisis sensitivitas.
  4. Transparansi dan replikasi: Kebijakan berbagi data dan kode semakin ketat.
  5. Bahasa, etika, dan kepatuhan format: Naskah harus ringkas, bebas kesalahan, dan sesuai pedoman jurnal.

Ia menyarankan peneliti untuk merancang naskah sejak hari pertama riset. Alih-alih menulis setelah data terkumpul, lebih baik dimulai dari pertanyaan riset yang tajam, menentukan target jurnal sejak awal, dan melakukan power analysis untuk memastikan ukuran sampel memadai.

Prof. Mitra juga memberikan tips detail untuk setiap bagian manuskrip, dari abstrak hingga penutup, dan mengidentifikasi lima “pembunuh” naskah yang paling sering menyebabkan penolakan: overclaiming, metodologi lemah, pelaporan statistik minimalis, kontribusi yang kabur, dan kerapian editorial yang buruk.

Acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang partisipatif, diikuti oleh Maya Komalasari (FTMD ITB), Ahmad Fitriyansyah (Pusat Mikrolektronika), Nur Ahmadi (DRI ITB), dan Rahmi Elzulfiah (FMIPA ITB). Sesi ini ditutup dengan penyerahan sertifikat dan kenang-kenangan dari DRI ITB kepada Prof. Mitra Djamal, diikuti dengan sesi foto bersama.

Selengkapnya bisa disimak di kanal YouTube DRI ITB pada tautan berikut: “Sharing Session – Strategi Menulis Manuskrip pada Jurnal Top Tier”.