Site Visit: Kunjungan DRI ITB ke Lab Etnografi Desain FSRD, Dari Inovasi Smart Agritech Tepat Guna hingga Digitalisasi Benda Keseharian Nusantara
BANDUNG, dri.itb.ac.id – Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali melakukan site visit ke tim penelitian R. Raditya Ardianto Taepoer, S.Ds., M.Ds., Ph.D. di Laboratorium Etnografi Desain, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB pada Rabu (30/09/26). Kunjungan kali ini menyoroti secara khusus riset unggulan bertajuk “Pengembangan Layanan Informasi Iklim Berbasis Desain Partisipatoris melalui Sekolah Lapang Iklim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di Jawa Barat”.
Inovasi Smart Agritech untuk Petani
Riset yang dipaparkan oleh Bapak Raditya dari Kelompok Keahlian Manusia dan Desain Produk Industri FSRD ITB ini, berupaya menjawab tantangan mahalnya teknologi pertanian presisi (smart agriculture technology) bagi petani akar rumput. Menggandeng Deputi Klimatologi BMKG, tim peneliti turun langsung merangkul petani skala kecil dan keluarga di Desa Cidadap, Kabupaten Cianjur, sebagai mitra utama sekaligus lokasi uji coba lapangan.
Melalui pendekatan desain partisipatoris, tim FSRD ITB menyederhanakan fitur-fitur agroteknologi kompleks menjadi instrumen esensial yang paling relevan dengan kebutuhan lapangan, yakni sensor prakiraan cuaca dan pemantauan kondisi tanah.
Inovasi perangkat ini didesain dengan prinsip kemandirian dan efisiensi maksimal. Alat ini sepenuhnya ditenagai oleh panel surya sehingga tidak memerlukan akses listrik konvensional. Lebih istimewa lagi, perangkat ini terhubung ke gawai petani melalui jaringan lokal (saat ini berbasis website dan akan dikembangkan ke aplikasi), sehingga sama sekali tidak menyedot kuota internet. Satu perangkat ini juga dirancang inklusif untuk dimiliki secara komunal oleh kelompok tani, di mana setiap petani dapat memasukkan profil komoditas tanamnya masing-masing untuk mendapatkan rekomendasi keputusan pertanian yang akurat.
Digitalisasi Benda Keseharian dan Material Library Nusantara
Selain inovasi teknologi pertanian, Bapak Raditya turut memamerkan fasilitas storage Museum Benda, sebuah inisiatif pengarsipan yang dapat diakses publik melalui situs museumbenda.id. Laboratorium ini secara aktif mengumpulkan dan mendokumentasikan produk-produk kriya lokal setiap kali melaksanakan program riset maupun Pengabdian Masyarakat Bottom-Up di berbagai penjuru nusantara.
Koleksi yang diarsipkan sangat beragam, merepresentasikan jejak material keseharian masyarakat Indonesia. Beberapa di antaranya meliputi anyaman bambu dari Purbalingga dan Slawi, lidi kelapa dari Serang, hawu (alat masak tradisional Sunda), golok asal Garut, hingga wadah cairan dan sandal berburu ikan dari Larantuka, Nusa Tenggara Timur. Tidak hanya mengarsipkan, tim laboratorium juga melakukan intervensi desain melalui kolaborasi dengan pengrajin lokal untuk mentransformasi bentuk tradisional menjadi produk modern, seperti piring seserahan keramik bersama Pancaniti Keramik dan eksplorasi bentuk sapu.
Inisiatif ini juga melahirkan Material Library (Pustaka Material), sebuah upaya pionir dari ITB untuk mengumpulkan dan meneliti karakteristik material-material natural (alam) yang tersebar di seluruh Indonesia.
Sebagai bentuk respons terhadap isu kebencanaan lokal, laboratorium ini juga menginisiasi pendekatan mitigasi bencana yang membumi. Bekerja sama dengan seniman dan dipamerkan di Selasar Sunaryo, tim menciptakan kampanye kesadaran gempa Patahan Lembang yang dilekatkan pada objek keseharian warga, seperti kalender dan spanduk warung, guna menyampaikan pesan kewaspadaan secara lebih organik kepada masyarakat yang tinggal di sekitar zona sesar.
Oleh: Nada Raudah Mumtazah
