Site Visit: DRI ITB Tinjau Riset FMIPA, Sulap Minyak Sereh Jadi Bahan Baku Parfum Tanpa Gas Hidrogen
BANDUNG, dri.itb.ac.id – Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) Institut Teknologi Bandung (ITB) melakukan site visit ke Kelompok Keilmuan Kimia Anorganik Fisik, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) pada Rabu (23/09/26). Kunjungan ini berfokus meninjau progres hilirisasi riset berjudul “Produksi Geraniol-Nerol dan Sitronelol dari Hidrogenasi Minyak Atsiri Sereh Tanpa Gas Hidrogen” yang dipimpin oleh Dr. Eng. Yessi Permana.
Indonesia mencatatkan produksi minyak sereh (lemongrass oil) yang masif, mencapai 50.000 ton per tahun, dengan 80% kandungannya berupa senyawa sitral. Namun, untuk mendapatkan turunan bernilai tinggi seperti geraniol dan nerol, industri kerap bergantung pada ekstraksi dari jenis tanaman bunga lain atau menggunakan rute sintetik hidrogenasi yang menuntut ketersediaan gas hidrogen bertekanan tinggi. Keterbatasan infrastruktur reaktor bertekanan tinggi di dalam negeri seringkali menjadi hambatan utama bagi pelaku industri lokal.
Menjawab tantangan tersebut, tim peneliti FMIPA ITB mengembangkan rute sintetik alternatif yang lebih aman dan efisien. Tim penelitian Dr. Yessi mendesain katalis yang mampu memfasilitasi proses hidrogenasi pada kondisi tekanan atmosfer (ambient pressure) tanpa menggunakan gas hidrogen. Sebagai substitusi, inovasi ini memanfaatkan senyawa alkohol sebagai donor hidrogen untuk mengonversi sitral menjadi gugus alkohol seperti geraniol-nerol dan sitronelol.
“Kami menyintesis ragam seri katalis homogen dan heterogen, termasuk Metal Organic Frameworks (MOF) dan senyawa kompleks logam transisi berbasis zirkonium, vanadium, nikel, dan kobalt dengan ligan fenoksiimin. Karakterisasinya juga dikawal ketat menggunakan X-Ray Powder Diffraction (XRD), FTIR, dan benchtop NMR,” jelas Dr. Yessi saat memandu tim DRI ITB di Ruang 04 Laboratorium Penelitian Kimia Anorganik. Target optimalisasinya adalah menekan waktu reaksi di bawah 2 jam dengan tingkat konversi menembus 90%.
Terobosan rute sintetik efisien ini memikat mitra industri, khususnya di sektor wewangian (fragrance) dan parfum yang membidik pasar ekspor Eropa, seperti Paris. Melalui teknologi ini, industri tidak perlu lagi mengimpor ekstrak bunga mahal, melainkan dapat mengolah pasokan melimpah minyak sereh domestik.
Saat ini, fokus utama penelitian telah bergerak menuju fase peningkatan skala produksi (scale-up). Dari yang semula hanya berskala mililiter di laboratorium, riset ini tengah diuji coba pada pemodelan reaktor berkapasitas dua liter, dengan target akhir dapat beradaptasi pada tangki reaktor gelas 50 liter milik mitra industri. Tahapan ini membawa tantangan baru, terutama dalam menyesuaikan suhu dan wadah reaksi yang tertutup rapat.
Untuk memastikan inovasi ini benar-benar terhilirisasi dan memberi nilai tambah bagi kekayaan minyak atsiri Indonesia, tahapan uji fungsi berskala besar menjadi krusial. “Harapannya tentu saja kita bisa melakukan scale-up pada skala besar untuk memenuhi kebutuhan calon mitra pengguna,” pungkas Dr. Yessi. Ia turut menekankan bahwa transisi teknologi ini membutuhkan kolaborasi sinergis dan dukungan penuh dari pemerintah, perguruan tinggi, serta mitra industri seperti PT Inovasi Hijau Indonesia agar kemandirian produksi bahan baku parfum nabati segera terwujud.
Oleh: Nada Raudah Mumtazah
