Enter your keyword

SITH ITB Kembangkan Pakan Alami Maggot BSF, Solusi Pakan Ternak Berkualitas dan Minim Residu

SITH ITB Kembangkan Pakan Alami Maggot BSF, Solusi Pakan Ternak Berkualitas dan Minim Residu

SITH ITB Kembangkan Pakan Alami Maggot BSF, Solusi Pakan Ternak Berkualitas dan Minim Residu

BANDUNG, dri.itb.ac.id – Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali melaksanakan rangkaian kunjungan (site visit) kepada para penerima dana Program Inovasi Unggul Berdampak Tahun 2025. Pada Jumat (13/2/2026), tim DRI menyambangi Laboratorium Uji Toksisitas, Labtek XI Lantai 3, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB. 

Kunjungan ini bertujuan meninjau kemajuan riset yang dipimpin oleh Prof. Dr. Agus Dana Permana dengan topik riset beliau yang berjudul “Pakan Alami Dari Maggot Hermetia illucens, Serangga Sebagai Sumber Daya Hayati Untuk Meningkatkan Produksi Ikan Lele dan Ayam”.

Latar Belakang: Menjawab Isu Keamanan Pakan

Penelitian ini lahir sebagai respons atas dua persoalan mendasar di sektor peternakan: tingginya harga bahan baku pakan konvensional seperti tepung ikan, serta adanya isu keamanan pada praktik budidaya maggot tradisional. 

Selama ini, banyak pengembang Black Soldier Fly (BSF) yang memanfaatkan limbah sayuran dari pasar tradisional tanpa penyortiran ketat. Padahal, limbah tersebut sangat rentan terpapar timbal (Pb) dari gas buang kendaraan bermotor di area pasar yang masih menggunakan bahan bakar bertimbal (unleaded fuel yang belum terstandarisasi).

“Jika limbah pasar yang mengandung logam berat dimakan oleh larva, akan terjadi biomagnifikasi. Saat larva tersebut dimakan ayam, dan ayamnya dikonsumsi manusia, racunnya akan terakumulasi di tubuh kita,” papar Prof. Agus memperingatkan risiko kesehatan yang mengintai. 

Berangkat dari kondisi tersebut, tim riset SITH ITB menggunakan pendekatan yang lebih presisi dengan memanfaatkan limbah organik terstandar. Salah satunya adalah pemanfaatan sisa makanan dari rumah sakit yang terbukti jauh lebih higienis dan memiliki jaminan nilai gizi yang tinggi.

Mekanisme Produksi Terintegrasi: Dari Biokonversi hingga Ekstraksi

Inovasi ini mengolah larva BSF melalui proses biokonversi limbah organik yang memakan waktu sekitar 20 hingga 24 hari. Untuk memastikan kualitas produk akhir, larva yang telah dipanen kemudian dikeringkan melalui metode sangrai tanpa pasir, atau dioven dengan suhu yang dijaga ketat pada kisaran 60-70 derajat Celcius guna mencegah kerusakan struktur protein.

Keunggulan utama produk ini terletak pada kandungan nutrisinya. Maggot BSF terbukti kaya akan protein, asam amino esensial, lemak, serta Omega-3 yang setara dengan kandungan pada ikan. Melalui mesin ekstraktor khusus, tim riset mampu menghasilkan dua produk turunan sekaligus: tepung maggot bertekstur halus sebagai substitusi tepung ikan, dan minyak larva yang bernilai ekonomi tinggi.

Keberhasilan produksi ini didukung oleh penerapan mekanisme siklus tertutup (closed-loop system) di dalam laboratorium. Prof. Agus memaparkan bahwa tidak semua maggot dihabiskan untuk pakan. Sebagian populasi sengaja disisihkan untuk bermetamorfosis menjadi pupa dan menetas menjadi lalat dewasa di kandang khusus. 

Kandang pembiakan tersebut didesain secara strategis agar mendapatkan paparan sinar matahari pagi yang optimal, sebuah kondisi esensial yang memicu lalat untuk kawin dan bertelur di media kayu. Telur-telur inilah yang kemudian ditetaskan kembali menjadi larva, menciptakan rantai produksi yang berkelanjutan tanpa harus mengeksploitasi bibit dari alam liar.

Manfaat Ekonomi dan Kolaborasi Lintas Disiplin

Tidak hanya merevolusi industri pakan ternak, riset ini juga menawarkan jalan keluar bagi darurat pengelolaan limbah. Sisa residu budidaya yang dikenal sebagai insect frass atau kasgot (bekas maggot) tidak dibuang begitu saja. Residu ini diproses lebih lanjut melalui sterilisasi patogen untuk diubah menjadi pupuk organik berkualitas yang sangat aman dan menyuburkan media tanam.

Pengembangan produk ini tidak hanya melibatkan mahasiswa SITH, tetapi juga berkolaborasi dengan mahasiswa program studi Desain Komunikasi Visual (DKV) ITB. Mahasiswa DKV berperan krusial dalam merancang identitas visual, kemasan, hingga strategi branding agar produk memiliki daya saing komersial yang kuat. 

Kini, produk akhir yang telah dikemas menarik tersebut diusulkan kepada mitra Gerakan Ekonomi Mandiri (GEMI) di kawasan Cipageran. Tujuannya agar teknologi ini dapat diproduksi secara massal dan mandiri oleh masyarakat, khususnya untuk memenuhi tingginya permintaan dari komunitas pecinta ikan hias setempat.

Menuju Otomatisasi Global dan Kemandirian Pakan Nasional

Menutup sesi kunjungan, Prof. Agus menyoroti tren global di negara maju seperti Denmark dan Prancis yang telah menggunakan sistem otomatisasi dan Internet of Things (IoT) dalam budidaya maggot industri. Ia berharap riset ini dapat menjadi pijakan bagi generasi muda untuk mengembangkan teknologi serupa di Indonesia.

“Harapannya, inovasi sederhana namun berdampak ini dapat dicontoh dan dikembangkan oleh siswa maupun mahasiswa, serta memberikan manfaat nyata bagi kemandirian pakan ternak nasional,” pungkas Prof. Agus.

 

Kontributor: Aura Salsabila Alviona