SITH ITB Kembangkan Teknologi Seed Coating untuk Tingkatkan Efisiensi Pertanian
BANDUNG, dri.itb.ac.id – Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) ITB kembali melakukan kunjungan (site visit) untuk meninjau perkembangan inovasi dari para penerima dana Program Inovasi Unggul Berdampak Tahun 2025. Pada hari Selasa (4/8/2026), tim DRI ITB mengunjungi Laboratorium Mikrobiologi, yang berlokasi di Lt. 6, Gedung CRiMSE (ex-PAU).
Kunjungan kali ini difokuskan pada riset yang dipimpin oleh Prof. I Nyoman Pugeg Aryantha (KK Bioteknologi Mikroba) bersama Prof. Dr. Rizkita Rachmi Esyanti (Sains dan Bioteknologi Tumbuhan) dan Dr. Ir. Mia Rosmiati (KK Manajemen Sumber Daya Hayati), dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB. Inovasi yang ditinjau adalah teknologi pelapisan benih (seed coating) berbasis mikroba yang dikembangkan sebagai solusi untuk meningkatkan produktivitas pertanian nasional sekaligus mengurangi ketergantungan penggunaan bahan kimia sintetis.
Upaya Mengurangi Ketergantungan Pupuk Kimia
Pengembangan teknologi pelapisan benih (seed coating) dilatarbelakangi oleh tantangan besar di sektor pertanian, yakni tingginya ketergantungan petani pada pupuk dan pestisida kimia sintetis. Penggunaan bahan kimia yang berlebihan dalam jangka panjang diketahui dapat merusak ekosistem tanah dan meningkatkan biaya produksi petani.
“Kami mencoba mencari solusi agar penggunaan pupuk kimia dapat diminimalkan. Di alam, tanaman sebenarnya ditopang secara signifikan oleh mikroba. Kami ingin mengembalikan peran mikroba ini sebagai ‘bestie’ atau pendamping tanaman sejak tahap benih.” ujar Prof. Nyoman.
Secara teknis, inovasi ini bekerja dengan cara melapisi permukaan benih menggunakan konsorsium mikroba menguntungkan. Tim peneliti menggunakan dua agen hayati, yaitu jamur Trichoderma dan bakteri Bacillus subtilis. Kedua mikroba ini diperbanyak menggunakan bioreaktor industri, kemudian diformulasikan ke dalam bentuk bubuk menggunakan media pembawa berupa zeolit. Untuk merekatkan mikroba tersebut pada benih secara alami, tim menggunakan perekat organik yang terbuat dari lem tapioka.
Efektivitas dan Hasil Uji Lapangan
Teknologi ini telah melalui uji validasi lapangan pada tanaman jagung di wilayah Lampung. Hasilnya menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan antara benih jagung yang diberi perlakuan seed coating berbasis mikroba dibandingkan dengan benih kontrol tanpa pelapisan.
Berdasarkan data riset, benih dengan seed coating memiliki masa perkecambahan yang lebih cepat, pertumbuhan akar yang lebih kokoh, serta ketahanan yang lebih baik terhadap cekaman lingkungan. Secara visual, performansi dan vitalitas tanaman terlihat jauh lebih unggul, yang pada akhirnya berkontribusi pada peningkatan hasil panen.
Riset ini juga menjadi ruang kolaborasi multidisiplin yang melibatkan langsung mahasiswa. Azizah Nurul Fitriani, mahasiswa Magister Bioteknologi ITB, berperan aktif dalam proses formulasi inokulum dan persiapan pembenihan untuk pengujian di lapangan.
Saat ini, SITH ITB tengah mempercepat proses hilirisasi produk melalui kolaborasi erat dengan mitra industri benih nasional, PT Sang Hyang Seri Indonesia. Kerja sama juga dijalin dengan PT East West Seed Indonesia dalam penyediaan bahan baku benih jagung hibrida. Melalui sinergi ini, diharapkan teknologi pelapisan benih (seed coating) dapat segera diterapkan pada skala produksi massal untuk menghasilkan benih tersertifikasi.
“Harapan kami, teknologi ini dapat menciptakan pertanian yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan. Dengan biaya produksi yang lebih minim, petani kita bisa mendapatkan hasil panen yang lebih banyak dan berkualitas demi kedaulatan pangan bangsa,” tutup Prof. Nyoman.
Youtube: SITE VISIT_Prof. I Nyoman P. Aryantha – Pelapis Benih Berbasis Bakteri dan Jamur
Kontributor: Aura Salsabila Alviona
