Enter your keyword

Smart Edu: Revolusi Ujian Digital Mobile dan Anti-Curang Karya Peneliti ITB

Smart Edu: Revolusi Ujian Digital Mobile dan Anti-Curang Karya Peneliti ITB

Smart Edu: Revolusi Ujian Digital Mobile dan Anti-Curang Karya Peneliti ITB

BANDUNG, dri.itb.ac.id – Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) ITB kembali melaksanakan rangkaian kunjungan (site visit) kepada para penerima program pendanaan riset. Pada Selasa (24/2/2026), tim DRI menyambangi Lab Sistem Aplikasi yang berlokasi di Gedung PAU (CRiMSE) Lt 4, Pusat Mikroelektronika (PME) ITB. Kunjungan ini difokuskan pada riset yang dipimpin oleh Ir. Adi Indrayanto, M.Sc., Ph.D. dari Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB, dengan topik riset “Pengembangan Aplikasi Ujian Berbasis Sistem SmartEdu untuk Kegiatan Belajar Mengajar”.

Dalam diskusi bersama tim DRI, Ir. Adi menceritakan bahwa inspirasi Smart Edu muncul dari pengalamannya mengampu kelas besar. Memeriksa lembar jawaban fisik secara manual, terutama untuk kelas lebih dari 100 mahasiswa, sangat menyita waktu dan berisiko pada akurasi penilaian.

“Dosen sering kali tertekan oleh tenggat waktu input Daftar Nilai Akhir (DNA). Kadang kami harus memeriksa ujian hingga menjelang tengah malam. Sebagai orang teknologi, saya berpikir proses belajar ini harus dipermudah melalui asesmen yang cepat,” ungkap Ir. Adi.

Meskipun sistem Ujian Tertulis Berbasis Komputer (UTBK) sudah ada, Smart Edu menawarkan fleksibilitas yang lebih tinggi. Perangkatnya dirancang mobile sehingga mudah dipindahkan antar-kelas, berbeda dengan komputer desktop atau laptop yang memakan tempat dan sulit dipindah-pindahkan secara fleksibel.

Mengenal Smart Edu: Konsep “Dumb Phone” yang Cerdas

Smart Edu menggunakan smartphone berukuran 4,7 inci yang merupakan hasil pengembangan riset PME tahun 2019 (didukung dana Ristek Dikti). Secara teknis, sistem ini memiliki spesifikasi unik untuk menjamin keamanan ujian:

  • Sistem Operasi Khusus (Custom OS): Perangkat dikembangkan oleh hardware engineer, Pak Asep Sukarna, dengan memodifikasi OS sehingga smartphone tidak memiliki akses internet. Ir. Adi menyebutnya sebagai “dumb phone” yang hanya berfungsi khusus untuk ujian.
  • Keamanan Jaringan: Koneksi dilakukan melalui Access Point lokal yang terhubung ke laptop server menggunakan kabel LAN demi menjaga kecepatan dan kestabilan transmisi data.
  • Boks Penyimpanan Pintar: Satu boks memuat 50 perangkat (kapasitas satu kelas). Boks ini dilengkapi sistem pengisian daya otomatis dengan fitur cut-off untuk memutus arus saat baterai penuh agar komponen tidak cepat rusak.

Pengembangan sistem ini merupakan hasil kolaborasi sinergis antara Pusat Mikroelektronika (PME) dan Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB. Pada awal pengembangannya di tahun 2019, riset ini juga menjalin kerja sama dengan PT INTI serta mendapat dukungan pendanaan awal dari Kementerian Riset dan Teknologi.

Inovasi Multidisiplin dan Anti-Kecurangan

Mekanisme kerja Smart Edu dirancang untuk efisiensi dosen dan keadilan bagi mahasiswa. Durasi pengerjaan dihitung secara individual saat peserta mulai masuk ke dalam soal tes, sehingga tidak ada mahasiswa yang dirugikan oleh keterlambatan login. Sebagai perlindungan anti-kecurangan tambahan, sistem ujian akan mengacak urutan soal sekaligus posisi pilihan jawaban untuk masing-masing peserta ujian.

Selain mempercepat keluarnya nilai, Smart Edu memberikan umpan balik instan bagi pengajar. Pak Ahmad Fitriansyah, staf peneliti, mendemonstrasikan bagaimana sistem dapat menghasilkan laporan analitik per pertanyaan.

“Dosen dapat melihat soal mana yang paling banyak dijawab salah oleh mahasiswa. Dengan data ini, dosen bisa memfokuskan jam pelajaran untuk membahas materi yang memang belum dipahami mahasiswa tersebut,” jelas Pak Ahmad.

Rencana Pengembangan: Pemanfaatan AI untuk Esai

Smart Edu telah diimplementasikan secara internal pada kelas Ir. Adi untuk UTS dan UAS sejak 2019, meski sempat terkendala penyebaran luas akibat pandemi COVID-19. Saat ini, tim telah mengantongi dua paten yang telah berstatus granted (diterima).

Ke depan, tim berencana mengajukan proposal pengembangan lebih lanjut untuk meningkatkan dimensi layar menjadi tablet ukuran 8-9 inci demi kenyamanan membaca teks panjang dan diagram kompleks. Selain itu, terdapat rencana integrasi Artificial Intelligence (AI) berbasis Large Language Model (LLM) untuk mengotomatisasi penilaian soal esai.

“Harapannya alat ini tidak hanya dipakai di lingkungan ITB saja, karena fleksibilitas Smart Edu memungkinkan sistem ini digunakan di berbagai tingkatan, mulai dari SD, SMP, SMA, hingga tes standarisasi seperti IELTS, TPA, bahkan ujian kompetensi pegawai seperti di Badan Kepegawaian Negara (BKN),” pungkas Pak Ahmad.

 

Kontributor: Aura Salsabila Alviona