Enter your keyword

Solusi Cepat dan Terjangkau untuk Pemantauan Diabetes, Peneliti ITB Kembangkan Inovasi Strip-Test untuk Deteksi Gula Darah HbA1c

Solusi Cepat dan Terjangkau untuk Pemantauan Diabetes, Peneliti ITB Kembangkan Inovasi Strip-Test untuk Deteksi Gula Darah HbA1c

Solusi Cepat dan Terjangkau untuk Pemantauan Diabetes, Peneliti ITB Kembangkan Inovasi Strip-Test untuk Deteksi Gula Darah HbA1c

BANDUNG, dri.itb.ac.id – Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) ITB melakukan kunjungan ke laboratorium mitra PT. Pakar Biomedika Indonesia pada Kamis (26/02/26), untuk meninjau langsung progres pengembangan inovasi alat deteksi gula darah mandiri. Menjawab tantangan tingginya prevalensi diabetes di Indonesia serta ketergantungan pada alat kesehatan impor yang mahal, tim peneliti dari Kelompok Keahlian Teknik Biomedis, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) Institut Teknologi Bandung (ITB) yang dipimpin oleh Dr. Hasballah Zakaria, S.T, M.Sc., saat ini sedang mengembangkan perangkat medis mutakhir. Melalui riset bertajuk “Pengembangan Analyzer dan Strip-Test untuk Deteksi Kadar HbA1c”, sistem ini dirancang untuk mengubah pengujian mandiri menjadi teknologi diagnostik yang mampu menganalisis kadar gula darah secara kuantitatif, presisi, dan terjangkau.

Berbeda dengan sistem cek gula darah komersial biasa yang umumnya berbasis elektrokimia atau rapid test kualitatif yang rentan keliru (false positive atau false negative) akibat pengaruh pencahayaan, inovasi ini menggunakan teknologi immunofluorescence.

Sistem ini bekerja secara ketat dengan membaca pendaran enzim di bawah sinar UV pada strip-test, yang kemudian dikuantifikasi oleh sensor pembaca (reader) menjadi angka pasti kadar HbA1c, sehingga tingkat sensitivitasnya jauh lebih tinggi dan meminimalisir kesalahan pembacaan. Pemeriksaan HbA1c ini sangat krusial karena mampu membaca tren kumulatif gula darah pasien selama dua hingga tiga bulan terakhir, bukan sekadar kondisi sesaat.

Inovasi ini dirancang untuk memberikan dampak nyata yang meluas, khususnya dalam menekan biaya pemantauan kesehatan bagi masyarakat, mengingat penderita diabetes di Indonesia mencapai sekitar 10 persen dari total populasi.

Saat ini, harga alat pembaca HbA1c dari luar negeri di pasaran masih sangat tinggi, berkisar antara Rp3 juta hingga Rp60 juta, dengan harga strip mencapai ratusan ribu rupiah. Dengan strategi menekan harga jual alat pembaca semurah mungkin, inovasi ini memungkinkan puskesmas, klinik, maupun masyarakat umum untuk menggunakan strip-test buatan lokal dengan biaya yang jauh lebih kompetitif. Cikal bakal teknologi ini sebelumnya telah dibuktikan melalui keberhasilan tim peneliti dan mitra industri dalam memproduksi alat reader Elisa yang mekanismenya jauh lebih rumit.

Pengembangan riset ini tidak lepas dari dukungan pendanaan DRI ITB yang telah mengawal inovasi ini hingga berhasil memproduksi prototipe strip dengan pendaran fluorescent berwarna hijau dan merah. Ke depannya, pada tahun 2026 ini, Dr. Hasballah dan tim merencanakan tahapan uji klinis dengan menggandeng pihak rumah sakit untuk memvalidasi akurasi alat terhadap metode standar medis.

 

Kontributor: Nada Raudah Mumtazah