Enter your keyword

Technological Outlook: Baterai Maju untuk Masa Depan Energi Indonesia

Technological Outlook: Baterai Maju untuk Masa Depan Energi Indonesia

Pembahasan mengenai perkembangan teknologi baterai ini disampaikan oleh Prof. Dr. Eng. Ferry Iskandar, M.Eng., dari Kelompok Keahlian Fisika dan Teknologi Material Maju, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Institut Teknologi Bandung, dalam wawancara Technological Outlook bertema Baterai yang dilaksanakan secara daring pada Kamis, 10 September 2026, mulai pukul 13.00 WIB hingga selesai. Wawancara dilakukan oleh Tim Idealog, Islaminur Pempasa dan Saffanah Zahirah, diselenggarakan di Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) ITB dari Ruang Rapat A, Lantai 6, Gedung CRCS, Kampus ITB, Jalan Ganesa No. 10, Bandung.

Ketika kendaraan listrik semakin banyak digunakan dan pembangkit energi terbarukan terus berkembang, baterai tidak lagi sekadar menjadi komponen kecil di dalam telepon seluler atau laptop. Teknologi ini kini menjadi bagian penting dalam perubahan sistem energi dunia.

Baterai diperlukan untuk menyimpan listrik dari sumber energi yang tidak selalu tersedia sepanjang waktu, seperti matahari dan angin. Baterai juga menjadi komponen utama kendaraan listrik yang diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

Namun, teknologi baterai yang digunakan saat ini bukanlah titik akhir.

Menurut Prof. Ferry Iskandar, peneliti dari Kelompok Keahlian Fisika dan Teknologi Material Maju, FMIPA ITB, perkembangan dunia kini bergerak menuju teknologi baterai maju (advanced battery technology).

Istilah tersebut mencakup berbagai upaya untuk meningkatkan kapasitas, keamanan, kecepatan pengisian, umur pakai, ketersediaan bahan baku, hingga keberlanjutan baterai.

“Kalau kita hanya bicara teknologi baterai ion litium, teknologinya sekarang sudah digunakan di mana-mana,” jelas Prof. Ferry. Karena itu, pembahasan teknologi masa depan perlu melihat pengembangan yang melampaui baterai ion litium konvensional.

Tiga Arah Perkembangan Baterai Maju

Secara umum, Prof. Ferry melihat setidaknya tiga arah besar perkembangan teknologi baterai.

Arah pertama adalah peningkatan performa baterai ion litium yang sudah ada, terutama melalui pengembangan material katode.

Saat ini, salah satu jenis material katode yang banyak digunakan adalah NMC atau NCM, yang mengandung nikel, mangan, dan kobalt. Ada pula LFP (lithium iron phosphate) yang menggunakan litium, besi, dan fosfat.

Dalam baterai berbasis NMC, penelitian terus bergerak menuju peningkatan kandungan nikel. Komposisi yang sebelumnya dikenal sebagai NMC 111 berkembang menjadi NMC 622 dan NMC 811.

Semakin tinggi kandungan nikel, semakin besar peluang untuk meningkatkan kapasitas dan densitas energi baterai. Pada saat yang sama, peneliti juga berupaya mengurangi penggunaan kobalt karena persoalan biaya maupun rantai pasoknya.

Prof. Ferry dan timnya di ITB termasuk yang mengembangkan material berbasis nikel, material rendah atau tanpa kobalt, serta berbagai komposisi baru untuk meningkatkan performa katode.

Arah kedua adalah baterai keadaan padat (solid-state battery).

Berbeda dengan baterai ion litium konvensional yang pada umumnya menggunakan elektrolit cair, baterai keadaan padat menggunakan elektrolit berbentuk padat.

Perubahan tersebut menawarkan dua keuntungan utama: densitas energi yang lebih tinggi dan tingkat keamanan yang lebih baik.

Dengan densitas energi yang lebih tinggi, baterai dapat dibuat lebih ringan untuk menyimpan jumlah energi yang sama. Sebaliknya, pada volume yang sama, baterai dapat menyimpan lebih banyak energi.

Prof. Ferry menyebut target densitas energi teknologi ini dapat bergerak menuju kisaran sekitar 500 Wh/kg.

Arah ketiga adalah teknologi pasca-ion-litium, khususnya baterai natrium-ion (sodium-ion battery).

Teknologi ini menarik karena natrium jauh lebih melimpah di alam dibandingkan litium. Natrium dapat ditemukan antara lain dalam garam dan air laut, sementara sumber litium yang ekonomis untuk ditambang relatif terkonsentrasi di sejumlah wilayah dunia.

“Kalau sodium, sumbernya banyak. Jauh lebih murah daripada litium,” ujar Prof. Ferry.

Secara sederhana, baterai natrium-ion bekerja dengan prinsip yang mirip dengan baterai ion litium. Perbedaannya, ion litium digantikan oleh ion natrium.

Tantangannya, ukuran ion natrium lebih besar sehingga pergerakannya di dalam struktur material tidak semudah ion litium. Karena itulah penelitian berusaha menemukan material yang memungkinkan ion natrium bergerak dengan cepat, stabil, dan efisien.

Mengapa Katode Menjadi Sangat Penting?

Dalam baterai terdapat dua elektroda utama: katode dan anode. Saat baterai bekerja, ion bergerak bolak-balik di antara keduanya.

Lalu mengapa begitu banyak penelitian berfokus pada katode?

Prof. Ferry menjelaskan bahwa dalam banyak sistem baterai saat ini, katode masih menjadi salah satu faktor pembatas utama performa baterai.

Kapasitas material katode untuk menerima dan melepaskan ion masih dapat lebih rendah daripada kemampuan anodenya. Selain itu, perubahan struktur katode selama proses pengisian dan pengosongan baterai dapat menentukan seberapa lama baterai bertahan.

Material dapat mengalami perubahan struktur, reaksi yang tidak sepenuhnya reversibel, atau pelarutan unsur tertentu. Semua proses tersebut dapat menyebabkan penurunan kapasitas setelah baterai digunakan berkali-kali.

Katode juga berperan dalam menentukan seberapa cepat sebuah baterai dapat diisi.

Karena itulah pengembangan material katode menjadi salah satu pusat penelitian baterai di berbagai negara, termasuk di ITB.

Baterai Menjadi Kunci Energi Terbarukan

Perkembangan baterai tidak dapat dilepaskan dari perubahan sistem energi global.

Negara-negara di dunia berupaya mengurangi penggunaan bahan bakar fosil dan meningkatkan pemanfaatan energi baru dan terbarukan.

Namun, sebagian energi terbarukan memiliki tantangan mendasar: produksinya tidak selalu tersedia setiap saat.

Panel surya menghasilkan listrik ketika matahari bersinar, tetapi tidak pada malam hari. Energi angin juga bergantung pada kondisi cuaca.

Karena itu dibutuhkan sistem yang mampu menyimpan listrik ketika produksi energi sedang tinggi dan menggunakannya kembali ketika sumber energi tersebut tidak tersedia.

Di sinilah penyimpanan energi (energy storage) menjadi sangat penting.

“Ketika sinar matahari tidak ada, kita pakai baterai,” kata Prof. Ferry ketika menjelaskan fungsi penyimpanan energi dalam sistem berbasis energi matahari.

Baterai juga berperan dalam elektrifikasi transportasi.

Kendaraan listrik menawarkan salah satu jalan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bensin dan solar. Dalam konteks Indonesia, perubahan ini juga berkaitan dengan upaya mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak.

Dengan demikian, pengembangan baterai bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga berkaitan dengan lingkungan, kemandirian energi, ekonomi, dan pembangunan industri nasional.

Dunia Bergerak, Indonesia Tidak Boleh Terlambat

Perlombaan teknologi baterai terjadi di berbagai negara.

Menurut Prof. Ferry, Tiongkok saat ini bergerak sangat agresif dalam pengembangan berbagai jenis baterai maju. Perusahaan seperti CATL telah mengembangkan baterai natrium-ion dan berbagai teknologi baterai generasi baru.

Jepang mempunyai perhatian kuat terhadap baterai keadaan padat, terutama karena teknologi tersebut menjanjikan peningkatan keamanan.

Korea Selatan tetap kuat dalam teknologi baterai berbasis nikel sambil mengembangkan baterai keadaan padat dan teknologi lain.

Eropa dan Amerika Serikat juga terus memperkuat penelitian baterai generasi berikutnya.

Prof. Ferry menilai Indonesia tidak seharusnya sekadar mengejar teknologi yang sudah lama dikuasai negara lain.

Jika Indonesia baru mulai bersaing langsung pada baterai NMC konvensional dengan Korea Selatan atau LFP dengan Tiongkok, Indonesia telah tertinggal dari sisi waktu dan pengalaman.

Sebaliknya, Indonesia perlu melakukan penelitian teknologi generasi berikutnya sekarang, ketika teknologi tersebut masih berkembang di berbagai negara.

Ada tiga arah yang menurutnya layak terus dikejar: material baterai ion litium dengan kandungan nikel tinggi, baterai keadaan padat, dan baterai natrium-ion.

Nikel Tetap Penting, tetapi Strateginya Harus Berubah

Indonesia mempunyai salah satu modal penting dalam industri baterai: sumber daya mineral.

Nikel menjadi salah satu bahan penting bagi baterai berbasis NMC. Indonesia juga mempunyai sumber daya mangan, aluminium, serta mineral lain yang dapat digunakan dalam rantai pasok baterai.

Namun, kepemilikan bahan baku saja tidak otomatis membuat Indonesia menjadi pemimpin teknologi baterai.

Perubahan pasar juga sangat cepat.

Dalam beberapa tahun terakhir, baterai LFP yang tidak menggunakan nikel memperoleh pangsa pasar yang semakin besar. Kondisi tersebut menjadi peringatan bahwa Indonesia tidak dapat hanya bergantung pada satu jenis teknologi.

“Baterai itu akan terus pakai nikel? Belum tentu,” ujar Prof. Ferry.

Karena itu, penelitian tetap harus bergerak.

Bahkan untuk baterai natrium-ion, Ferry dan timnya melihat kemungkinan memanfaatkan nikel sebagai salah satu material katode. Pendekatannya adalah memastikan sumber daya mineral Indonesia tetap dapat memperoleh nilai tambah melalui teknologi baru.

Tantangan Terbesar: Infrastruktur dan Talenta

Salah satu persoalan terbesar Indonesia justru berada di balik laboratorium dan pabrik: jumlah peneliti dan tenaga ahli yang masih sangat terbatas.

Industri baterai merupakan industri yang padat teknologi dan inovasi.

Perusahaan baterai global mempekerjakan banyak tenaga berkualifikasi doktor dan mengalokasikan dana penelitian yang sangat besar.

Sementara itu, jumlah doktor Indonesia yang secara khusus mendalami baterai masih relatif sedikit.

Prof. Ferry melihat kebutuhan Indonesia bukan hanya membangun pabrik, tetapi juga mencetak ilmuwan, insinyur, teknisi, peneliti pascadoktoral, dan berbagai talenta lain yang mampu mengembangkan teknologinya.

“Infrastruktur R&D yang baik. Masalahnya di Indonesia ini yang jauh tertinggal. Kalau memang mau fokus, pertama infrastrukturnya, kemudian orang-orangnya juga,” jelasnya.

Persoalan lain adalah pendanaan penelitian.

Penelitian material baterai membutuhkan proses panjang: sintesis material, karakterisasi, pengujian sel, evaluasi, pengulangan eksperimen, hingga peningkatan skala.

Namun, pendanaan penelitian di perguruan tinggi sering kali hanya efektif berjalan selama beberapa bulan dalam satu tahun.

Menurut Prof. Ferry, penelitian seharusnya dapat berlangsung secara kontinu sepanjang tahun. Pendanaan yang kecil dan tidak berkesinambungan akan membuat Indonesia sulit mengejar negara-negara dengan investasi penelitian yang jauh lebih besar.

ITB sebagai Jembatan antara Laboratorium dan Industri

Dalam ekosistem baterai nasional, Ferry melihat ITB mempunyai peluang untuk menjadi salah satu tulang punggung penelitian dan pengembangan teknologi baterai.

Perguruan tinggi tidak harus berubah menjadi perusahaan yang memproduksi baterai secara massal.

Produksi tetap menjadi wilayah industri.

Namun, universitas dapat menyediakan fasilitas penelitian yang mahal, mengembangkan material dan teknologi, melakukan pengujian, serta menyiapkan talenta yang dibutuhkan industri.

“ITB tidak mungkin membuat baterai. Tetap industri yang harus membuat baterai. Tapi ITB bisa mendukung risetnya. ITB bisa membangun talentanya,” kata Prof. Ferry.

Untuk mendukung arah tersebut, ITB sedang mengembangkan Battery Innovation and Industrial Co-Creation Center (BIICC), sebuah fasilitas yang diarahkan menjadi ruang kolaborasi antara akademisi dan industri dalam penelitian serta pengembangan baterai.

Melalui pendekatan co-creation, industri dapat menyampaikan kebutuhan atau persoalan teknologinya, sementara peneliti mengembangkan solusi dan melakukan pengujian melalui infrastruktur bersama.

Prof. Ferry membayangkan pusat tersebut tidak hanya menghubungkan peneliti ITB, tetapi juga membuka kolaborasi dengan universitas lain dan industri.

Dengan cara tersebut, biaya fasilitas R&D yang sangat mahal tidak harus seluruhnya ditanggung oleh satu perusahaan.

Baterai Membutuhkan Banyak Disiplin Ilmu

Teknologi baterai juga tidak dapat dibangun hanya oleh peneliti material.

Rantai pengembangannya sangat luas.

Metalurgi diperlukan untuk pengolahan material dari sumber mineral. Fisika, kimia, dan ilmu material berperan dalam merancang material elektrode dan elektrolit. Teknik Kimia dibutuhkan untuk pengembangan proses dan peningkatan skala produksi.

Di sisi perangkat, teknik elektro mempunyai peran dalam pengembangan sistem manajemen baterai (Battery Management System atau BMS).

Aspek ekonomi, strategi industri, pasar, hingga model bisnis juga harus terhubung.

Karena itu Prof. Ferry mendorong pendekatan multidisiplin yang menghubungkan berbagai kelompok keahlian di ITB, dari hulu hingga hilir.

Jangan Lupakan Baterai Setelah Dipakai

Masa depan industri baterai tidak hanya berbicara mengenai bagaimana membuat sebanyak mungkin baterai.

Indonesia juga perlu menjawab pertanyaan lain: apa yang terjadi ketika jutaan baterai kendaraan listrik mencapai akhir masa pakainya?

Prof. Ferry memperkirakan persoalan tersebut akan semakin penting ketika kendaraan listrik yang digunakan hari ini mulai memasuki usia sekitar delapan hingga sepuluh tahun.

Jika tidak dikelola dengan baik, baterai bekas berpotensi menjadi limbah berbahaya.

Namun, baterai bekas juga mengandung material bernilai tinggi.

Nikel, litium, mangan, dan kobalt pada jenis baterai tertentu dapat dipulihkan dan digunakan kembali.

Laboratorium Prof. Ferry juga melakukan penelitian teknologi daur ulang, khususnya untuk mengambil kembali nikel dari baterai bekas.

Dengan demikian, daur ulang bukan hanya cara mengurangi limbah. Teknologi tersebut dapat mengubah baterai bekas menjadi sumber bahan baku baru, membentuk ekonomi sirkular dalam industri baterai.

Dari Material Unggul hingga Produksi Massal

Untuk membawa Indonesia menuju kemandirian teknologi baterai, Prof. Ferry membaginya ke dalam tiga horizon.

Dalam jangka pendek, peneliti harus mampu menghasilkan material baterai yang mempunyai performa kompetitif dengan material yang digunakan industri global.

Kapasitas, stabilitas, umur pakai, keamanan, kemampuan pengisian cepat, dan biaya menjadi beberapa parameter yang harus terus ditingkatkan.

Dalam jangka menengah, tantangannya berpindah dari laboratorium menuju peningkatan skala.

Material yang berhasil diproduksi beberapa gram di laboratorium harus dapat dibuat dalam jumlah lebih besar dengan kualitas yang tetap konsisten.

Tahap tersebut menjadi jembatan penting menuju produksi industri.

Dalam jangka panjang, Indonesia harus memastikan ekosistem inovasinya dapat terus hidup.

Teknologi baterai tidak akan berhenti pada satu material atau satu jenis baterai. Generasi teknologi baru akan terus muncul.

Karena itu, pembangunan SDM, infrastruktur, pembiayaan penelitian, kolaborasi universitas-industri, dan regenerasi peneliti harus berlangsung secara berkelanjutan.

Kesempatan Indonesia Belum Tertutup

Indonesia mempunyai kombinasi yang jarang dimiliki banyak negara: sumber daya mineral, pasar domestik yang besar, kebutuhan elektrifikasi transportasi, dan universitas dengan kemampuan penelitian material.

Namun, keunggulan tersebut hanya akan menghasilkan nilai tambah apabila Indonesia mampu bergerak dari sekadar pemilik bahan baku menjadi pemilik pengetahuan dan teknologi.

Bagi Prof. Ferry, hal tersebut menjadi alasan mengapa penelitian baterai maju harus dimulai sekarang.

Indonesia tidak harus memilih satu teknologi dan meninggalkan yang lain. Baterai berbasis nikel masih dapat dikembangkan, baterai keadaan padat perlu dipersiapkan, dan natrium-ion harus mulai dikuasai.

Di sisi lain, teknologi daur ulang, sistem manajemen baterai, pengolahan material, hingga penyimpanan energi stasioner juga membuka ruang yang luas.

Baterai masa depan pada akhirnya bukan hanya persoalan kendaraan listrik.

Teknologi ini akan menjadi bagian dari sistem energi rumah, industri, pembangkit listrik terbarukan, jaringan listrik, hingga pembangunan ekonomi rendah karbon.

Pertanyaannya bukan lagi apakah dunia akan membutuhkan baterai dalam jumlah besar.

Pertanyaan yang lebih penting bagi Indonesia adalah: seberapa besar bagian dari teknologi tersebut yang mampu kita kuasai sendiri?

 

Kontributor: Nada Raudah Mumtazah