Enter your keyword

Technological Outlook: Drone dan Masa Depan Solusi Otonom Indonesia

Technological Outlook: Drone dan Masa Depan Solusi Otonom Indonesia

Bagi Dr. Ir. Yazdi Ibrahim Jenie, S.T., M.T., masa depan teknologi drone tidak cukup dilihat dari kemampuan membuat wahana yang dapat terbang. Peluang yang lebih penting justru terletak pada kemampuan menemukan persoalan nyata, kemudian membangun sistem otonom yang mampu menjawabnya. Dari inspeksi ruang tertutup hingga logistik ke daerah terpencil, pendekatan inilah yang dinilai relevan bagi pengembangan teknologi drone di Indonesia.

Drone mungkin lebih akrab dikenal masyarakat sebagai perangkat untuk mengambil foto atau video dari udara. Namun, di balik penggunaan tersebut, teknologi unmanned aerial vehicle (UAV) berkembang ke berbagai bidang dengan fungsi yang jauh lebih luas. Drone dapat digunakan untuk pemetaan, inspeksi, pengiriman barang, pemantauan wilayah, pertanian, penanganan bencana, hingga berbagai kebutuhan pertahanan dan keamanan.

Keragaman tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam wawancara Technological Outlook bersama Dr. Ir. Yazdi Ibrahim Jenie, S.T., M.T., Head of Control System Prototyping Workshop, Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB oleh tim Idealog,  Islaminur Pempasa dan Saffanah Zahirah. Wawancara berlangsung pada Selasa (8/9/2026), di Ruang Rapat B, Gedung CRCS Lantai 6, Kampus ITB, Jalan Ganesa No. 10, Bandung.

Menurut Yazdi, luasnya penggunaan drone membuat arah pengembangannya tidak dapat berhenti pada pertanyaan mengenai jenis drone apa yang harus dibuat. Pertanyaan yang lebih penting adalah persoalan apa yang perlu diselesaikan dan teknologi apa yang belum dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Dari sinilah ia memperkenalkan gagasan autonomous solution sebagai salah satu kata kunci dalam melihat masa depan teknologi ini.

Bukan Sekadar Membuat Drone

Drone memiliki bentuk, ukuran, dan konfigurasi yang sangat beragam. Ada fixed wing yang menyerupai pesawat, multirotor yang banyak digunakan untuk fotografi, hingga berbagai konfigurasi hibrida. Ukurannya pun dapat berbeda sangat jauh, mulai dari wahana berukuran sangat kecil hingga pesawat tanpa awak berukuran besar.

Karena itu, bersaing hanya dengan menghasilkan produk drone yang serupa dengan produk komersial yang sudah tersedia dinilai bukan pilihan paling strategis. Yazdi melihat peluang yang lebih besar pada ceruk kebutuhan atau niche yang belum dapat dilayani secara optimal oleh produk massal.

“Kalau kita bikin platform yang apa pun bisa, misalnya drone yang semuanya bisa, jadi tidak spesifik lagi. Jadi kita cari drone komersial itu tidak bisa apa,” kurang lebih demikian gagasan yang ia sampaikan dalam wawancara. Salah satu contoh yang kemudian dikembangkan adalah kemampuan beroperasi tanpa mengandalkan GPS.

Pendekatan ini menggeser perhatian dari sekadar membangun wahana menuju pengembangan sistem navigasi, sistem inspeksi, sensor, kecerdasan, dan mekanisme khusus yang memberikan kemampuan berbeda dari drone komersial pada umumnya.

Ketika GPS Tidak Lagi Bisa Diandalkan

Salah satu contoh konkret adalah drone untuk inspeksi di ruang tertutup.

Drone komersial umumnya dapat bekerja dengan sangat baik di ruang terbuka dengan dukungan sistem navigasi satelit. Kondisinya berbeda ketika wahana harus memasuki tangki industri, gudang, lorong, gorong-gorong, bagian dalam bangunan, atau ruang lain yang tidak memperoleh sinyal GPS secara memadai.

Di lingkungan seperti itu, drone harus memiliki cara lain untuk mengetahui posisi, mengenali lingkungan, menghindari rintangan, dan menentukan arah geraknya.

Tim di ITB mengembangkan pendekatan navigasi menggunakan sensor visual maupun LiDAR, yang bekerja dengan memancarkan laser dan mengukur pantulannya untuk mengenali jarak terhadap objek di sekitar. Informasi tersebut dapat digunakan untuk membentuk representasi tiga dimensi lingkungan atau point cloud. Drone kemudian dapat bergerak sekaligus mengenali ruang yang dilaluinya tanpa bergantung pada GPS.

Teknologi semacam ini membuka peluang penggunaan yang lebih luas. Dalam konteks inspeksi, misalnya, wahana dapat memasuki tempat yang sempit atau berisiko bagi manusia. Dalam kondisi kedaruratan, sistem pemetaan juga berpotensi membantu memperoleh gambaran lingkungan di dalam bangunan atau area yang sulit dimasuki.

Tim juga mengeksplorasi drone yang tidak hanya terbang, tetapi dapat bergerak atau crawling pada permukaan tertentu. Mekanisme pendukung untuk fungsi tersebut menjadi salah satu bagian teknologi yang sedang dikembangkan dan diajukan perlindungan kekayaan intelektualnya.

Dengan pendekatan tersebut, nilai teknologi bukan semata-mata terletak pada badan dronenya. Justru kemampuan navigasi, pemetaan, inspeksi, kecerdasan sistem, dan mekanisme khusus di dalamnya yang menjadi pembeda.

Dari Swarming hingga Folding Wing

Pengembangan drone di lingkungan ITB juga bergerak pada berbagai bidang lain.

Salah satunya adalah swarming drone, yaitu sejumlah drone yang mampu bergerak secara terkoordinasi. Dalam konteks sipil, Yazdi memberi contoh penggunaannya untuk melakukan inspeksi area luas seperti panel surya. Beberapa wahana dapat menjalankan tugas secara bersama-sama sehingga cakupan pekerjaan menjadi lebih besar.

Penelitian lain mengarah pada micro dan nano drone, sistem pemetaan dan navigasi, kendali berbasis gestur, hingga sistem yang menggabungkan kecerdasan buatan untuk mengenali lingkungan.

Ada pula pengembangan mekanisme folding wing, atau sayap yang dapat dilipat. Dalam wawancara, Yazdi menjelaskan bahwa tantangan penelitian tidak selalu terletak pada kemampuan membuat wahana terbang. Pada proyek tersebut, persoalan teknik yang menarik justru terletak pada bagaimana platform dapat dilipat secara ringkas dan kemudian kembali pada konfigurasi yang diperlukan ketika digunakan. Pengembangan tersebut melibatkan tim berbeda untuk platform dan sistem pendukungnya serta telah masuk dalam proses perlindungan kekayaan intelektual.

Beragam contoh tersebut menunjukkan bahwa riset drone dapat menjadi titik temu banyak disiplin: aerodinamika, mekanika, sistem kendali, sensor, kecerdasan buatan, komunikasi, perangkat lunak, hingga desain produk.

Dalam konteks ITB, kondisi ini menjadi relevan karena pengembangan teknologi tidak hanya membutuhkan kemampuan teknik. Yazdi menyoroti pentingnya ekosistem yang menghubungkan akademisi, industri, dan pemerintah agar sebuah penelitian tidak berhenti sebagai prototipe di laboratorium.

Peluang Besar untuk Negara Kepulauan

Karakter Indonesia memberikan ruang tersendiri bagi penerapan sistem drone.

Sebagai negara kepulauan dengan wilayah yang luas, kebutuhan pemantauan, distribusi logistik, respons bencana, serta akses menuju daerah yang sulit dijangkau menjadi tantangan yang nyata. Teknologi drone dapat mengambil peran ketika penggunaan moda konvensional tidak efisien atau ketika akses darat terbatas.

Salah satu peluang yang dibahas Yazdi adalah drone kargo.

Ia menilai pengiriman barang menuju wilayah 3T maupun daerah terdampak bencana merupakan contoh persoalan yang layak dijawab dengan teknologi drone. Obat-obatan, kebutuhan medis, atau logistik dengan bobot tertentu dapat menjadi jenis muatan yang memiliki nilai tinggi ketika harus dikirim ke wilayah dengan akses terbatas.

Prinsip yang sama berlaku pada kebutuhan inspeksi industri. Perusahaan tidak selalu membutuhkan kepemilikan drone. Dalam banyak kasus, yang dibutuhkan justru sebuah layanan: melakukan pemetaan, memeriksa aset, menghasilkan data, dan menyusun laporan yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan.

Hal ini membuat ekosistem industri drone tidak hanya terdiri atas produsen wahana. Di dalamnya terdapat penyedia jasa inspeksi, operator profesional, pengembang perangkat lunak, analis data, hingga tenaga yang mampu mengoperasikan sekaligus memperbaiki sistem. Wawancara juga menyinggung kebutuhan industri terhadap sumber daya manusia dengan kompetensi semacam itu.

Tantangannya Bukan Hanya Teknologi

Meski peluangnya besar, kemampuan membuat prototipe bukan berarti sebuah teknologi otomatis siap digunakan secara luas.

Yazdi melihat salah satu persoalan pengembangan teknologi di Indonesia adalah keberlanjutan proses menuju kematangan teknologi. Penelitian sering berhasil menghasilkan prototipe, tetapi kemudian menghadapi jeda ketika pendanaan atau dukungan berhenti. Ketika kegiatan dimulai kembali melalui skema berbeda, tim harus membangun kembali proses yang sebelumnya telah berjalan.

Akibatnya, teknologi sulit memperoleh kesempatan untuk terus disempurnakan hingga mencapai tingkat akurasi, konsistensi, dan keandalan yang dibutuhkan industri. Ia menggambarkan situasi ketika sebuah prototipe dapat berhasil dibuat, tetapi proses menuju produk yang matang membutuhkan waktu dan dukungan yang jauh lebih panjang.

Tantangan berikutnya adalah fasilitas pengujian.

Untuk teknologi drone, laboratorium saja tidak selalu cukup. Pengembangan membutuhkan bengkel untuk membuat dan memodifikasi prototipe serta area yang memungkinkan wahana diuji dalam kondisi sebenarnya. Keterbatasan ruang pengujian, khususnya untuk wahana yang membutuhkan area terbang lebih luas, dapat memperlambat proses eksperimen. Yazdi bahkan menekankan bahwa untuk pengembangan semacam ini, kebutuhan terhadap bengkel dan tempat uji dapat sama pentingnya dengan kebutuhan laboratorium.

Di sisi lain, penggunaan drone juga berhadapan dengan persoalan regulasi dan penerimaan masyarakat. Keselamatan penerbangan, penggunaan ruang udara, privasi, serta potensi penyalahgunaan merupakan beberapa aspek yang harus diperhitungkan bersamaan dengan perkembangan teknologinya.

Artinya, technological outlook untuk drone tidak dapat hanya membahas kemampuan teknis. Ekosistem regulasi, industri, sumber daya manusia, pendanaan, fasilitas pengujian, dan penerimaan sosial ikut menentukan apakah teknologi benar-benar dapat diterapkan.

Autonomous Solution sebagai Arah Pengembangan

Dari seluruh pembahasan, satu gagasan menjadi benang merah: drone sebaiknya ditempatkan sebagai alat untuk menyelesaikan masalah, bukan sebagai tujuan akhir pengembangan teknologi.

Yazdi menyebut drone pada dasarnya dapat dipandang sebagai sebuah delivery system. Wahana membawa sesuatu menuju lokasi yang dibutuhkan—kamera untuk memperoleh gambar, sensor untuk mengumpulkan data, atau barang untuk dikirim dari satu titik menuju titik lainnya. Karena itu, penggunaan drone harus selalu berangkat dari kebutuhan. Tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan menerbangkan sebuah drone.

Di sinilah konsep autonomous solution menjadi penting.

Alih-alih bertanya “drone apa yang dapat kita buat?”, pendekatannya berubah menjadi “masalah apa yang dapat kita selesaikan dengan sistem otonom?”

Sistem tersebut bisa berupa drone, tetapi tidak harus selalu berupa wahana terbang. Fokusnya adalah kemampuan suatu teknologi untuk melakukan fungsi tertentu secara mandiri atau dengan intervensi manusia yang semakin kecil. Dalam konteks drone, kemampuan tersebut dapat diwujudkan melalui navigasi tanpa GPS, inspeksi otomatis, pemetaan lingkungan, koordinasi beberapa wahana, pengiriman logistik, atau fungsi lain yang lahir dari kebutuhan spesifik.

Pendekatan ini sekaligus menawarkan jalur yang lebih realistis bagi Indonesia. Persaingan tidak harus dilakukan dengan membuat produk massal yang sama persis dengan pemain global. Peluang dapat ditemukan pada persoalan yang khas—ruang inspeksi yang sulit dijangkau, kondisi geografis kepulauan, kebutuhan logistik daerah 3T, mitigasi bencana, maupun kebutuhan industri yang sangat spesifik.

Dengan demikian, masa depan drone bukan hanya tentang membuat wahana terbang lebih tinggi, lebih cepat, atau lebih besar. Tantangan yang lebih penting adalah membuat teknologi tersebut lebih relevan terhadap masalah yang hendak diselesaikan.

Bagi pengembangan teknologi di ITB, arah tersebut juga menempatkan perguruan tinggi pada posisi yang strategis: menghasilkan pengetahuan, membangun prototipe, mengembangkan talenta, serta menjembatani riset dengan pemerintah dan industri hingga sebuah teknologi benar-benar dapat digunakan.

Pada akhirnya, masa depan drone dapat bermula dari pertanyaan yang sederhana: masalah apa yang perlu kita selesaikan?

Dari pertanyaan itulah teknologi seharusnya dikembangkan.

 

Daftar Istilah:

UAV / drone Wahana udara tanpa awak yang dikendalikan dari jarak jauh atau beroperasi secara otonom.
Fixed-wing Drone bersayap tetap yang umumnya lebih efisien untuk jarak dan durasi terbang, tetapi dapat memerlukan launcher atau runway.
Multirotor Drone dengan beberapa rotor yang dapat hovering dan bermanuver pada ruang terbatas.
Hybrid VTOL Wahana yang menggabungkan kemampuan lepas landas dan mendarat vertikal dengan efisiensi terbang fixed-wing.
SLAM Simultaneous Localization and Mapping; sistem yang memetakan lingkungan sekaligus menentukan posisi wahana di dalamnya.
LiDAR Sensor berbasis laser untuk mengukur jarak dan membentuk representasi dua atau tiga dimensi.
Point cloud Kumpulan titik koordinat tiga dimensi yang merepresentasikan bentuk lingkungan atau objek.
Swarming Koordinasi beberapa drone untuk bergerak atau menjalankan misi secara bersama-sama.
Folding wing Mekanisme sayap lipat agar wahana dapat disimpan dan diluncurkan dari ruang yang ringkas.
Autonomous solution Solusi berbasis sistem yang dapat menjalankan sebagian atau seluruh fungsi tanpa kendali manusia secara terus-menerus.
Dual use Teknologi yang dapat digunakan untuk keperluan sipil maupun pertahanan.
Valley of death Kesenjangan antara hasil riset atau prototipe dan produk yang matang serta siap diadopsi.

 

Kontributor: Aura Salsabila Alviona