Technological Outlook: Hidrogen Bersih, Indonesia Jangan Hanya Menjadi Pasar Teknologi
Hidrogen semakin sering dibicarakan sebagai salah satu pilihan penting dalam transisi energi. Namun, persoalan hidrogen tidak berhenti pada bagaimana gas tersebut diproduksi. Di baliknya terdapat rangkaian teknologi yang jauh lebih luas: sumber energi yang digunakan, jejak karbon proses produksi, penyimpanan, transportasi, keselamatan, standardisasi, hingga kesiapan industri dan sumber daya manusia.
Dalam wawancara Technological Outlook yang berlangsung pada 15 September 2026 di Ruang Rapat B, Lantai 6, Gedung CRCS, Kampus ITB, Jalan Ganesa No. 10, Bandung, Tim Idealog bersama Islaminur Pempasa dan Saffanah Zahirah berbincang dengan Ir. Hary Devianto, S.T., M.Eng., Ph.D, dari Kelompok Keahlian Energi dan Teknologi Berkelanjutan, Fakultas Teknologi Industri ITB. Salah satu pesan yang mengemuka adalah bahwa Indonesia perlu melihat hidrogen bukan hanya sebagai komoditas energi baru, tetapi sebagai kesempatan untuk membangun kemampuan teknologi dalam negeri.
Teknologinya Sudah Lama Ada, Tantangannya Berubah
Produksi hidrogen sebenarnya bukan teknologi baru. Hidrogen telah digunakan selama puluhan tahun dalam industri pupuk, pengilangan minyak, dan berbagai proses kimia. Salah satu metode paling mapan adalah steam methane reforming, yang menggunakan gas alam sebagai bahan baku.
Menurut Hary Devianto, Ph.D., tantangan hari ini bukan lagi sekadar bagaimana menghasilkan hidrogen dalam jumlah besar. Persoalan yang semakin penting adalah berapa besar emisi karbon yang dihasilkan dari keseluruhan proses tersebut.
Produksi hidrogen dari gas alam masih menghasilkan karbon dioksida dalam jumlah signifikan. Karena itulah pembicaraan mengenai hidrogen mulai bergeser dari sekadar warna—seperti hidrogen abu-abu, biru, atau hijau—menuju ukuran yang lebih konkret, yaitu seberapa rendah jejak karbonnya.
Dalam konteks tersebut, istilah hidrogen rendah karbon dan hidrogen bersih menjadi penting. Pendekatan ini memungkinkan berbagai jalur teknologi tetap dikembangkan selama emisi sepanjang proses produksinya dapat ditekan dan dibuktikan.
Indonesia pun tidak harus mengikuti satu jalur teknologi saja.
“Kondisi setiap negara berbeda. Kita harus melihat sumber daya yang dimiliki dan teknologi apa yang paling sesuai untuk dikembangkan,” jelas Hary Devianto, Ph.D.
Dua Jalur Utama: Termokimia dan Elektrolisis
Secara umum, Hary Devianto, Ph.D. melihat dua jalur produksi hidrogen yang penting dikembangkan di Indonesia: proses termokimia dan elektrolisis.
Jalur termokimia sebenarnya telah sangat matang. Persoalannya terletak pada sumber bahan baku dan emisi karbon yang dihasilkan.
Jika bahan baku fosil secara bertahap digantikan oleh biomassa atau biometana, sementara karbon dioksida yang terbentuk ditangkap dan dikelola, teknologi yang sudah mapan tersebut masih dapat memainkan peran penting dalam transisi menuju hidrogen rendah karbon.
Teknologi penangkapan karbon karena itu menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Karbon dioksida dapat ditangkap dan disimpan melalui carbon capture and storage (CCS) atau dimanfaatkan kembali melalui carbon capture and utilization (CCU).
“Kalau termokimia sebenarnya sudah sangat matang. Isunya lebih ke bagaimana CO₂-nya ditangkap,” ujar Hary Devianto, Ph.D.
Jalur kedua adalah elektrolisis, yakni penguraian air menjadi hidrogen dan oksigen menggunakan energi listrik.
Secara langsung proses ini tidak membutuhkan karbon sebagai bahan baku. Namun, seberapa bersih hidrogen yang dihasilkan tetap bergantung pada sumber listriknya. Jika listrik masih berasal dari bahan bakar fosil, jejak emisinya tetap tinggi. Sebaliknya, jika elektroliser menggunakan listrik dari panas bumi, tenaga surya, angin, atau sumber energi terbarukan lainnya, emisinya dapat ditekan secara signifikan.
Teknologi elektroliser sendiri telah berkembang dalam beberapa pendekatan, di antaranya alkaline electrolyzer (AEL), proton exchange membrane electrolyzer (PEM), dan anion exchange membrane electrolyzer (AEM).
AEL merupakan salah satu teknologi yang paling lama dikembangkan. PEM telah mencapai tingkat kematangan tinggi tetapi umumnya masih lebih mahal, sementara AEM menjadi salah satu teknologi yang relatif lebih baru dan terus dikembangkan.
Mengubah Surplus Listrik Menjadi Cadangan Energi
Elektrolisis menjadi semakin menarik ketika dikaitkan dengan karakter sumber energi terbarukan yang produksinya tidak selalu sama dengan kebutuhan listrik pada saat tertentu.
Ketika produksi listrik lebih tinggi daripada kebutuhan jaringan, kelebihan energi tersebut dapat digunakan untuk menghasilkan hidrogen. Hidrogen kemudian disimpan dan pada saat diperlukan dapat dikonversi kembali menjadi listrik, misalnya melalui sel bahan bakar.
Dalam skema seperti ini, hidrogen berfungsi sebagai pembawa sekaligus penyimpan energi.
Hary Devianto, Ph.D. mencontohkan potensi pemanfaatan surplus energi pada pembangkit energi terbarukan seperti panas bumi. Alih-alih energi berlebih tidak termanfaatkan, listrik tersebut dapat diarahkan untuk mengoperasikan elektroliser.
Konsep serupa dapat diterapkan pada energi surya dan angin. Ketika produksi listrik tinggi tetapi permintaan rendah, energi dapat disimpan dalam bentuk hidrogen untuk digunakan kembali ketika dibutuhkan.
Namun, keekonomiannya tetap menjadi persoalan. Harga listrik merupakan komponen penting dalam biaya produksi hidrogen melalui elektrolisis. Karena itu, semakin murah listrik terbarukan yang tersedia, semakin besar pula peluang hidrogen untuk bersaing secara ekonomi.
Masalah Besar Justru Muncul Setelah Hidrogen Diproduksi
Jika teknologi produksi hidrogen telah cukup matang, tantangan berikutnya justru berada pada penyimpanan dan transportasi.
Hidrogen memiliki karakter yang berbeda dari bahan bakar cair maupun gas yang selama ini umum digunakan. Molekulnya sangat kecil dan dapat berinteraksi dengan sejumlah material logam hingga menyebabkan hydrogen embrittlement atau penggetasan akibat hidrogen.
Akibatnya, jaringan pipa gas yang sudah tersedia tidak serta-merta dapat digunakan untuk mengalirkan hidrogen murni.
Penyimpanan hidrogen untuk kendaraan pun memerlukan tekanan yang sangat tinggi. Dalam sejumlah aplikasi, hidrogen dapat disimpan pada tekanan sekitar 350 bar, bahkan mencapai sekitar 700 bar.
Tekanan ini jauh lebih tinggi dibandingkan sistem penyimpanan LPG atau CNG.
“Teknologi yang menarik justru ada di storage-nya. Bagaimana dibuat ringan dan bagaimana ketika terjadi kecelakaan tidak menimbulkan risiko besar,” kata Hary Devianto, Ph.D.
Perkembangan material tabung menjadi sangat penting. Selain logam, material komposit dikembangkan untuk menghasilkan tabung yang lebih ringan tetapi tetap mampu menahan tekanan tinggi.
Pilihan lain adalah mencairkan hidrogen. Namun, cara tersebut membutuhkan temperatur yang sangat rendah dan energi yang besar.
Kondisi ini membuat persoalan hidrogen tidak cukup diselesaikan hanya dengan membangun fasilitas produksinya.
Tidak Harus Membawa Hidrogen dalam Bentuk Hidrogen
Kesulitan menyimpan dan mengangkut hidrogen murni memunculkan pendekatan lain, yaitu membawa hidrogen di dalam senyawa yang lebih mudah ditangani.
Teknologi ini dikenal sebagai hydrogen carrier atau pembawa hidrogen.
Salah satu contoh yang paling relevan bagi Indonesia adalah amonia. Industri Indonesia telah memiliki pengalaman panjang dalam memproduksi, menyimpan, dan mendistribusikan amonia, terutama melalui industri pupuk.
Amonia juga tidak mengandung karbon. Namun, agar benar-benar mendukung dekarbonisasi, hidrogen yang digunakan dalam produksinya harus berasal dari proses rendah karbon.
Dari sinilah muncul konsep amonia hijau.
Jika hidrogen yang sebelumnya berasal dari gas alam digantikan dengan hidrogen dari elektrolisis berbasis energi terbarukan atau proses lain beremisi rendah, infrastruktur industri amonia yang telah tersedia dapat menjadi bagian penting dari ekonomi hidrogen Indonesia.
Asam Format dan Peluang Teknologi yang Lebih Dekat dengan Indonesia
Selain amonia, Hary Devianto, Ph.D. menyoroti asam format atau HCOOH sebagai kandidat pembawa hidrogen yang menarik.
Berbeda dengan hidrogen yang membutuhkan tangki bertekanan sangat tinggi, asam format berada dalam bentuk cair sehingga secara teknis lebih mudah disimpan dan didistribusikan.
Hidrogen kemudian dapat dilepaskan kembali dari asam format melalui proses katalitik ketika diperlukan.
“Kalau hidrogen murni orang akan berpikir tentang tabung 700 bar. Tetapi kalau dibawa sebagai asam format, penyimpanannya jauh lebih sederhana,” jelas Hary Devianto, Ph.D.
Tantangannya, asam format masih mengandung karbon. Karena itu, sumber karbon yang digunakan menjadi penting.
Di sinilah terbuka peluang memanfaatkan karbon dioksida dari biomassa atau aliran limbah sebagai bahan baku. Karbon yang sebelumnya dianggap sebagai limbah dapat dikonversi menjadi senyawa pembawa hidrogen dan digunakan kembali dalam sebuah siklus.
Konsep tersebut membawa pembahasan hidrogen lebih dekat dengan persoalan lain yang juga besar bagi Indonesia: limbah biomassa.
Dari Limbah Menjadi Hidrogen
Indonesia menghasilkan berbagai jenis limbah biomassa dalam jumlah besar, termasuk dari industri kelapa sawit. Hary Devianto, Ph.D. melihat potensi untuk menghubungkan sumber daya tersebut dengan pengembangan teknologi waste-to-hydrogen.
Pendekatannya dapat melalui elektrokimia, fotokatalisis, maupun bioproses.
Limbah biomassa dapat dikembangkan menjadi material karbon untuk elektroda. Karbon dioksida juga dapat digunakan kembali sebagai bahan baku untuk menghasilkan senyawa seperti asam format.
Sementara itu, pendekatan fotokatalisis membuka peluang pemanfaatan energi matahari untuk membantu menghasilkan produk bernilai tambah dari karbon dioksida.
Sebagian teknologi tersebut masih berada pada tahap laboratorium atau pilot. Karena itu, pekerjaan terbesar berikutnya adalah meningkatkan tingkat kesiapterapan teknologi, memperbesar skalanya, dan membuktikan apakah proses tersebut dapat bekerja secara ekonomis.
Justru pada tahap inilah peran perguruan tinggi menjadi penting.
Teknologi yang telah matang dapat membantu memenuhi kebutuhan jangka pendek, tetapi teknologi yang masih berada pada tahap riset hari ini dapat menjadi fondasi industri dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang.
Indonesia Jangan Berhenti sebagai Pengguna
Bagi Hary Devianto, Ph.D., pengembangan hidrogen harus dihubungkan dengan persoalan yang lebih besar: kemandirian teknologi.
Indonesia tentu dapat mengadopsi teknologi dari luar negeri. Namun, pembangunan ekosistem hidrogen tidak seharusnya membuat Indonesia hanya menjadi pembeli peralatan dan pengguna teknologi.
Kemampuan dalam negeri perlu dibangun, mulai dari material, katalis, elektroliser, penyimpanan, pengelolaan karbon, hingga teknologi pembawa hidrogen.
Salah satu arah yang menjanjikan adalah pemanfaatan material berbasis karbon, termasuk karbon aktif, grafena, karbon nanotube, dan berbagai nanomaterial lainnya. Jika material tersebut dapat dikembangkan dari sumber daya domestik dan limbah biomassa, nilai tambah yang dihasilkan tidak hanya berada pada produksi hidrogen, tetapi juga pada industri material maju.
Prinsipnya bukan menutup diri dari teknologi asing, melainkan memastikan ada kemampuan nasional yang tumbuh bersamaan dengan terbentuknya pasar.
Ekosistem Tidak Bisa Dibangun oleh Satu Sektor
Hidrogen juga memperlihatkan bahwa transisi energi tidak dapat berjalan melalui satu sektor saja.
Selama ini hidrogen lebih banyak dikenal sebagai produk industri. Ketika mulai digunakan sebagai sumber energi, persoalannya bersinggungan dengan sektor energi, transportasi, industri, keselamatan, standardisasi, hingga perdagangan.
Karena itu, regulasi antarsektor harus saling terhubung.
Standardisasi menjadi salah satu fondasi penting. Indonesia perlu memiliki standar mengenai mutu hidrogen, penyimpanan, transportasi, keselamatan, hingga pengukuran jejak karbon.
Hary Devianto, Ph.D. turut terlibat dalam komite teknis hidrogen di Badan Standardisasi Nasional (BSN). Pengembangan standar tersebut melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, industri, perusahaan energi, industri pupuk, hingga sektor otomotif.
Pengembangan sumber daya manusia juga tidak kalah penting. Ekosistem hidrogen membutuhkan kompetensi lintas disiplin: proses kimia, elektrokimia, material, kelistrikan, keselamatan, hingga sistem energi.
Dengan demikian, tantangannya bukan sekadar membeli elektroliser atau membangun satu stasiun pengisian hidrogen.
Yang harus dibangun adalah keseluruhan rantai kemampuannya.
Tiga Arah yang Dapat Berjalan Bersamaan
Dari perkembangan teknologi yang ada, Hary Devianto, Ph.D. melihat setidaknya tiga jalur yang layak dikawal Indonesia.
Jalur pertama adalah produksi hidrogen rendah karbon melalui proses termokimia. Teknologinya telah matang dan infrastruktur industrinya telah tersedia. Tantangannya adalah menekan emisi melalui pemanfaatan bahan baku yang lebih berkelanjutan serta teknologi penangkapan karbon.
Jalur kedua adalah elektrolisis berbasis listrik terbarukan. Jalur ini memungkinkan produksi hidrogen dengan emisi yang sangat rendah, terutama jika didukung harga listrik terbarukan yang kompetitif dan surplus energi yang dapat dimanfaatkan.
Jalur ketiga adalah teknologi pembawa hidrogen dan waste-to-hydrogen. Tingkat kesiapan teknologinya mungkin belum setinggi dua jalur sebelumnya, tetapi justru di sini terdapat ruang besar bagi perguruan tinggi dan industri nasional untuk membangun teknologi sendiri.
Ketiganya tidak harus dipertentangkan.
Teknologi yang sudah matang dapat digunakan untuk membentuk pasar saat ini, sementara investasi riset harus terus dilakukan untuk menyiapkan teknologi yang dibutuhkan pada masa mendatang.
Membawa Transisi Energi Menjadi Kesempatan Teknologi
Hidrogen pada akhirnya bukan sekadar persoalan mengganti satu jenis bahan bakar dengan bahan bakar lain.
Ia mempertemukan persoalan energi terbarukan, industri, transportasi, penyimpanan energi, material maju, pengelolaan limbah, dan pemanfaatan karbon.
Bagi Indonesia, kesempatan terbesarnya mungkin justru terletak pada bagaimana seluruh kebutuhan tersebut diterjemahkan menjadi pengembangan teknologi yang sesuai dengan kondisi nasional.
Hary Devianto, Ph.D. menekankan tiga prinsip yang perlu menyertai pengembangan teknologi: ramah lingkungan, berkelanjutan, dan efisien dalam penggunaan energi.
Indonesia memiliki biomassa, panas bumi, energi surya, sumber daya mineral, industri pupuk, serta basis riset yang dapat menjadi fondasi pengembangan hidrogen. Tantangannya adalah menghubungkan seluruh potensi tersebut ke dalam satu ekosistem yang mampu bergerak dari laboratorium menuju industri.
Karena itu, pertanyaan mengenai masa depan hidrogen Indonesia tidak hanya berbunyi, “Seberapa banyak hidrogen yang dapat kita produksi?”
Pertanyaan yang sama pentingnya adalah: seberapa banyak teknologi di balik ekosistem hidrogen itu dapat kita kuasai sendiri?
